Dide Pupuan, Dek Boleh Nanggok

Foto: ist/Pagaralam pos
DIBUBUS: warga dusun Gunung Agung Tengah ketika nangguk ikan di Tebat Ayek Garaman 30 agustus lalu.


Melihat Cara Warga Mengelola Tebat Ayek Garaman
Warga Dusun Gunung Agung Tengah, Kelurahan Agung Lawangan, Kecamatan Dempo Utara punya cara tersendiri untuk mengelola aset yang merupakan warisan leluhurnya. Untuk nanggok ikan pun diatur sedemikian rupa. Warga yang tidak ikut patungan untuk membeli bibit ikan tak diperkenankan untuk ikut nangguk.




HARI baru terang-terang tanah ketika Antoni (40), menuju Tebat Ayek Garaman. Ia tak sendiri. Bersamanya turut serta sembilan orang warga Dusun Gunung Agung Tengah lainnya, yakni Agusman (40), Sudarso (38), Mikroni (35), Rison (50), Jonsi (40), Risman (45), Wansah (38), Pirliansyah (40) dan Rolison (40).




Pagi itu (30), sepuluh warga itu sedang mempersiapkan untuk membubus (mengeringkan) Tebat Ayek Garaman. Selaku panitia pengelola tebat, mereka memang harus melakukan ‘perhelatan’ itu dengan maksimal. Mereka di antaranya mempersiapkan tempat untuk menimbang ikan, pelumpang-semacam alat yang terbuat dari bambu yang berfungsi untuk menampung ikan agar tak lolos.




Dibantu oleh warga lainnya, sepuluh panitia itu juga membersihkan pematang tebat dari rerumputan liar. Walhasil, pagi itu, tebat nampak lebih kinclong. “Malam ini tebatnya baru kami bubus,” ujar Antoni, ketua panitia pengelola Tebat Ayek Garaman ketika dibincangi Pagaralam pos di pinggir tebat. “Agar esok paginya kami bisa nangguk,” tambahnya.




Dengan luas hampir sekira sehektare dengan kedalaman air mencapai lima meter, mengeringkan Tebat Ayek Garaman memang bukan perkara mudah. Setidaknya dibutuhkan setengah malam, baru tebat yang berada persis di belakang jalan negara Pagaralam – Tanjung Aakti ini kering. “Perkiraan kami jam 5 subuh, tebat ini sudah kering,” kata Agusman, anggota panitia lain.




Dan memang, keesokan paginya atau pada 31 Agustus, Tebat Ayek Garaman sudah kering. Air di tebat ini sudah surut drastis. Debit air yang tersisa hanya sekitar sebatas lutut orang biasa. Maka warga dusun Gunung Agung tengah pun tumpah ruah di sana. Mereka menangguk ikan dengan berbagai macam alat sederhana.




Tiap-tiap warga menyetorkan hasil tangkapannya kepada panitia. “Ikan lalu kami timbang,” ucap Antoni. “Tiap warga kami kasih ikan dengan berat yang sama. Misalnya 1 kilogram, ya satu kilogram semua,” timpal Sudarso, anggota panitia lainnya.




Namun, tak semua warga Dusun Gunung Agung Tengah bisa melenggang dengan bebas menangguk untuk kemudian dapat jatah ikan. Antoni menyatakan, hanya warga pupuan (patungan) untuk membeli bibit ikan saja yang boleh menangguk dan mendapatkan jatah ikan. “Itu (perjanjian) merupakan kesepakatan bersama warga,” terang Antoni.




Bibit ikan hasil patungan tahun lalu inilah yang dipanen warga Dusun Gunung Agung Tengah hari itu. Pada tahun ini, hampir semua warga Dusun Gunung Agung Tengah boleh menangguk sekaligus dapat jatah ikan.




Berdasarkan catatan panitia, sebanyak 236 kepala keluarga mendapatkan jatah ikan dari tebat warisan puyang (leluhur) dusun setempat tersebut. “Kami punya catatan lengkap tiap KK dan anggota-anggotanya. Jadi, kalau mau masuk ke tebat dan dapat ikan, mereka harus menunjukkan bukti,” imbuh Antoni.




Ketua RW Dusun Gunung Agung Tengah, Milius menambahkan, Tebat Ayek Garaman dibubus setahun sekali. Hari pembubusan biasanya jelang Idul Adha. Seperti hari itu, tebat itu dibubus dan ikannya ditangguk, tepat sehari sebelum lebaran haji -sebutan umum untuk idul adha.




Dibentuk di Masjid
Panitia pengelola Tebat Ayek Garaman sendiri dibentuk oleh masyarakat dusun Gunung Agung Tengah. Menurut Antoni, panitia diumumkan dibentuk dan diumumkan di masjid. “Kebetulan, tahun lalu kami ditunjuk lagi untuk mengelola Tebat Ayek Garaman,” terangnya. Karena itu, perhelatan pembubusan tebat itu tetap di bawah komando Antoni dan kawan-kawan.




Hampir Tiap Dusun Punya Tebat
SALAHSATU ciri khas masyarakat dusun di Pagaralam salahsatunya karena memiliki aset bersama, yakni berupa tebat, alias kolam ikan. Selain di dusun Gunung Agung Tengah, dusun-dusun lain juga kebanyakan memiliki aset serupa.




Sebut saja misalnya tebat Lebar di dusun Karang Dalo, kecamatan Dempo Tengah. Lalu tebat Gheban di kelurahan Alun Dua, tebat Muare Tenang di dusun Muare Tenang.




Sama seperti Tebat Ayek Garaman, ketika akan dibubus, masyarakat pemilik tebat di dusun lain juga akan melakukan musyawarah mufakat. Sebuah kearifan lokal yang sudah sepatutnya dijaga dan dilestarikan, agar kelak anak dan cucu bisa ikut mencicipinya. (11/CE-V)

You can leave a response, or trackback from your own site.