Atung Bungsu, Sejarah yang Belum Terungkap

Foto: Madhon/Pagaralam Pos/ilustrasi
BERSEJARAH: Warga nampak mengunjungi sebuah makam puyang di dusun Bandar, kelurahan Kance Diwe, kecamatan Dempo Selatan, pada Maret lalu.


Datang untuk Menyempurnakan Ajaran Islam
Puyang Atung Bungsu selama ini lebih dikenal sebagai pendiri pemukiman yang kelak dinamai Besemah. Padahal, Atung Bungsu memiliki peranan yang sangat penting bagi berkembangnya ajaran Islam di tanah Besemah. Ia disebut-sebut setingkat dengan wali-wali.




AGUSTIAN BASRUN, 41 tahun, merasa ada yang kurang tepat di pemberitaan Pagaralam Pos yang terbit pada 29 Juli lalu. Pemberitaan ini mengupas tentang sejarah kedatangan Atung Bungsu ke Besemah. Karena itu, pemerhati sejarah Besemah ini terpanggil untuk memberikan tanggapan.
“Saya punya hak jawab,” ujar Agus, saat ditemui Pagaralam Pos di kediamannya di dusun Tanjung Pasai, kelurahan Rebah Tinggi, kecamatan Dempo Utara siang kemarin (15/9).




Meskipun kurang sepakat dengan pemberitaan tersebut, tapi Agus tetap memberikan apresiasi kepada narasumber tersebut. Ayah satu anak ini memaklumi, bahwa narasumber di dalam berita tersebut bersumber dari sebuah teks yang isinya memang sudah awam diketahui orang. Ia pun tidak menyalahkan narasumber tersebut. Diakuinya, sejarah kadangkala memiliki banyak tafsir.




Adapun Agus sendiri mengaku mendapatkan penjelasan tentang Atung Bungsu dari sebuah kitab berjudul ‘Selimur Nur Cahye’. Kitab yang berada di dusun Benua Keling, kecamatan Dempo Selatan ini, disebutkan Agus terdapat uraian tentang siapa Atung Bungsu.




“Pada 2008 saya mendapat riwayat tentang Atung Bungsu dari jurai tue Benue Keling. Saksi-saksinya ada,” tutur suami Fitriani ini mengenai ihwal pengetahuannya tentang Puyang Atung Bungsu. Sayang, penjelasan dari kitab ini belum bisa dipublish ke publik. Agus menyatakan off the record.




Namun, menurut Agus, riwayat Atung Bungsu juga bisa dilacak dari catatan-catatan sejarah yang banyak ‘terserak’, ditambah cerita yang dituturkan turun temurun. Dari hasil pelacakan ini kata Agus, diketahui bahwa nama Sayyid Ali Nuruddin Al-Khan atau disebut juga Ali Nurul Alam. “Dari hasil pelacakan yang kami dapat, Atung Bungsu itu lahir di sekitar Indonesia Timur. Lokasi persisnya kita belum tahu,” ucap lelaki yang kesehariannya berjualan gunjing (makanan khas Besemah) di Hotel Gunung Gare ini.




Atung Bungsu atau Sayyid Nururdin Al-Khan ini merupakan cucu dari seorang ulama dari Yaman. Perihal kedatangan kakek Atung Bungsu ini, lanjut Agus ada kaitannya dengan surat Raja Sriwijaya, Sri Indarmawan kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Dalam suratnya, Sri Indarmawan meminta agar Khalifah Umar bin Abdul Aziz mengirimkan utusan untuk mensyiarkan agama Islam di Sriwijaya. “Diperkirakan sekitar tahun 1100 M,” ucap Agus mengenai tahun pengiriman surat dari Raja Sriwijaya kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz.




Kakek Atung Bungsu itulah yang diutus Khalifah Umar bin Abdul Aziz untuk membawa syiar Islam ke Sriwijaya. Tugas ini kemudian dilanjutkan oleh Atung Bungsu, yang akhirnya bertemu dengan raja terakhir Sriwijaya, yakni Prameswara. Atung Bungsu dan Prameswara bertemu di benua Keling. Lokasi ini dikenal dengan batu persumpahan. “Pertemuan itu juga dihadiri Ahmad Furqon, yang lebih dikenal oleh Prabu Siliwangi,” ucap Agus.




Dalam catatan juray tue kebalik an Gumay yang dikutip Agus, diketahui bahwa Sayyid Nurrdin, Prameswara dan Prabu Siliwangi atau Ahmad Furqon masing-masing memiliki nama lain, yakni Diwe Atung Bungsu, Diwe Gumay dan Diwe Semidang. Pertemuan antara tiga tokoh ini menghasilkan beberapa keputusan penting, di antaranya bahwa pelaksanaan syariat Islam harus berlandaskan Al-Qur’an.




“Sebab Al-Qur’an adalah penyempurna dari kitab-kitab yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW. Bukan lagi berdasarkan taurat maupun zabur,” terang Agus yang pernah lama merantau di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau ini.




Syariat Nabi Muhammad
Karena itu, lanjut Agus, kedatangan Atung Bungsu ke Besemah – yang saat itu masuk ke dalam wilayah Kerajaan Sriwijaya- adalah untuk menyempurnakan ajaran Islam. “Atung Bungsu itu sebenarnya adalah gelar. Artinya adalah penyempurna atau yang mengakhiri,” paparnya.




Mengapa harus disempurnakan? Sebabnya, ujar Agus, masyarakat Sriwijaya saat itu masih menganut ajaran tauhid dengan kitab taurat. Masyarakat saat itu belum mengenal ajaran tauhid dengan syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Hal ini dibuktikan dengan dikenalnya 10 puturat.




Dilihat dari tugasnya itu, Agus tak menampik bila seorang Atung Bungsu adalah tokoh yang memiliki pemahaman agama Islam yang tinggi. Bisa dipadankan dengan wali -sebutan tokoh penyebar Islam di Jawa. Agus memahami betul bahwa penjelasannya tentang riwayat Atung Bungsu itu bisa saja memunculkan kontroversi. Ada yang mendukung ada pula yang tak sepakat dengan riwayat tersebut. Untuk itu Agus menyatakan siap untuk berdiskusi. “Saya punya jawab, mereka juga punya hak jawab,” ujarnya.




Versi Satarudin Tjik Olah
Dalam wawancara dengan Pagaralam Pos pada Juli lalu, anggota Lembaga Adat Besemah, Satarudin Tjik Olah menuturkan Atung Bungsu merupakan salahseorang anak dari raja Majapahit. Atung Bungsu menikah dengan seorang puteri kerajaan Keling di India. Atung Bungsu bersama dua anak dan istrinya meninggalkan Majapahit setelah merasa diusir oleh iparnya. Turut mendampingi Atung Bungsu sejumlah prapati atau patih. Mereka berlayar ke Besemah -saat itu belum ada nama. Nama Besemah baru muncul setelah Atung Bungsu tiba.




“Mereka tiba di Besemah sekitar abad ke-14. Tempat mereka bermukim itu dengan nama Benua Keling. Ini untuk mengenang nama Keling di India,” tutur Satar. Sebelum sampai di Besemah, Atung Bungsu harus merelakan dua anaknya. Satu orang bernama Bujang Jawe, meninggal di muara Sungai Lematang. Adapun adiknya bernama Arya Kerihan, memutuskan membuat pemukiman di Muara Selabung, dekat Sungai Komering. Atung Bungsu kemudian memutuskan untuk mendirikan sebuah pemerintahan dengan ibukota di Benua Keling itu. Ia mengangkat dirinya sebagai ratu. Karena itu sistem pemerintahannya disebut dengan Keratuan. (11/CE-V)

You can leave a response, or trackback from your own site.