Mandikah Pesake, Tunggu Wangsit Hingga Satu Muharam

Foto-foto: Vhan/Agung/Pagaralam Pos
TRADISI: Kurang lebih 2000 benda pusaka dibersihkan pada satu Muharam 1439 H, pada Kamis dinihari lalu (21/9).


Tradisi mandikah pesake (memandikan pusaka) masih terus dilaksanakan masyarakat besemah. Ini merupakan sebuah ritual untuk membersihkan benda-benda pusaka warisan leluhur. Juga sekaligus untuk menghormati para leluhur. Tidak dilaksanakan secara sembarangan.




SEBUAH rumah panggung di kawasan Kauman kecamatan Pagaralam Selatan nampak ramai. Meskipun malam sudah sangat larut, antusias warga yang datang ke sini tak nampak jadi surut. Mereka ingin menyaksikan sebuah ritual yang cukup jarang terjadi. Pada Kamis dinihari lalu (21/9), rumah milik Herdensi tersebut dijadikan sebagai tempat untuk mandikah pesake. Sebuah ritual yang sudah ada sejak dulu.




Jumlah pusaka yang akan dibersihkan dalam ritual ini cukup banyak dan beraneka rupa. Berdasarkan catatan panitia pelaksana, jumlah pusaka yang dibersihkan mencapai kurang lebih 2000 buah. Adapun bentuknya di antaranya berupa keris khas besemah, siwar, kuduk dan tumbak (tombak), prasasti dan gada dari batu giok dan sebagainya. Benda-benda pusaka ini disebut-sebut sudah berumur ratusan tahun. Kisaran waktunya dari awal abad 6 masehi, masa Sriwijaya hingga abad 16 masehi.




Begitu jarum jam menunjukkan pukul 01.00 WIB -seusai sesi pembukaan dan sambutan- prosesi mandikah pesake itu pun dimulai. Satu per satu pesake yang berupa-rupa bentuk itu dimandikan di dalam kotak persegi panjang yang berisi di antaranya kembang, dan jeruk nipis. Usai dimandikan, pusaka-pusaka itu dilap sampai kering dengan kain putih, untuk selanjutnya diurapi lalu ditaruh lagi ke tempatnya semula. Dengan jumlah yang begitu banyak, membuat waktu pembersihan pusaka ini tidaklah singkat. Sampai pukul 03.00 dinihari, pembersihan masih terus berlangsung. Bau kayu gaharu meruap ke udara.




“Mandikah pesake merupakan cara untuk menghormati tuan dari pusaka itu,” ujar anggota Lembaga Adat Besemah, Satarudin Tjik Olah, saat dimintai pendapatnya, ketika dihubungi Pagaralam Pos kemarin (22/9). Tuan pusaka yang dimaksud Satar adalah puyang atau leluhur dari pemilik pusaka-pusaka tersebut.




Menurut Satar, mandikah pesake merupakan salahsatu tradisi yang sudah ada di tengah masyarakat Besemah sejak dulu. Mandikah pesake kata ia, digelar di waktu-waktu tertentu, salahsatu contohnya saat perayaan satu Muharram itu. Mandikah pesake lanjut Satar, juga dilaksanakan ketika ada semacam ‘pesan’ dari alam ghaib. “Istilahnya semacam wangsit,” tuturnya.




Ketua Panitia Pelaksana pembersihan pusaka, Najamudin SPd MM memiliki pendapat yang sama dengan Satar. Dalam sambutannya, Najam mengatakan, mandikah pesake lazim dilaksanakan ketika ada petunjuk yang diterima oleh Jurai Tue suatu Sumbai dan tiap tanggal 1 Muharram. “Masyarakat Besemah memiliki cara tersendiri untuk melestarikan warisan leluhur,” ujar Najam yang juga Kepala Bidang Kebudayaan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kota Pagaralam ini.




Pemerhati Budaya Besemah, Ahmad Bastari Suan mengatakan, mandikah pesake digelar setelah ada tanda-tanda tertentu. “Sepengetahuan saya, ada sebab yang mengharuskan pusaka itu dimandikan,” ujar Suan, ketika dihubungi Pagaralam Pos kemarin.




Suan lantas mencontohkan ritual mandikah pesake di dusun Pelang Kenidai beberapa tahun lalu. Karena diundang, Suan turut datang ke prosesi ini. Menurut Suan, mandikah pesake di dusun Pelang Kenidai tersebut digelar setelah ada banyak tanda yang terjadi. “Misalnya saja saat itu hujan tak pernah membahasahi dusun Pelang Kenidai. Padahal dusun lain sudah mulai diguyur hujan. Kemudian, tanaman padi tidak berbuah, padahal di dusun lain sudah mulai berbuah,” sambung Satar.




Menyikapi fenomena alam itulah, para tokoh masyarakat dusun setempat memutuskan untuk memandikan pusaka di sana. Mandikah pesake semakin menjadi keharusan setelah warga di sana mendengar ada bunyi kenung (salahsatu alat musik tradisional Besemah). “Beberapa hari kemudian, masyarakat dusun Jokoh juga melaksanakan ritual serupa,” tutur Suan sembari menambahkan, mandikah pesake biasanya dilaksanakan oleh Sumbai (kesatuan masyarakat satu keturunan).




Teguran
Apa jadinya jika pusaka tidak langsung dimandikan, padahal tanda-tandanya sudah ada? Satarudin Tjik Olah menyatakan, akan ada teguran dari puyang. Teguran ini papar dia, biasanya bisa berupa tanah longsor, datangnya penyakit dan lain sebagainya.




Toh, mandikah pesake tidak bisa dipungkiri merupakan salahsatu untuk memelihara warisan leluhur. Karena itu Disdikbud Pagaralam berencana untuk menjadikan ritual ini sebagai iven tahunan. Adapun tujuannya agar bisa dilihat oleh masyarakat domestik dan internasional. (08/11/vhan/CE-V)

You can leave a response, or trackback from your own site.