Kuntau Besemah, Makhluk Kasat Mata Bisa Dipanggil

Foto: dok/Pagaralam Pos
BELADIRI: Peragaan seni beladiri kuntau oleh beberapa orang lelaki di halaman kantor KPU kota Pagaralam beberapa waktu lalu.


Seni beladiri kuntau begitu populer di tengah masyarak Pagaralam. Sering ditampilkan dalam pelbagai acara. Kuntau ini bisa dipelajari dengan pendamping guru. Ada juga kuntau yang disebut-sebut dipelajari dari makhluk tak kasat mata.




ENAM orang lelaki berpakaian serba hitam membentuk formasi tegak berhadap-hadapan. Begitu kenung -salahsatu alat musik tradisional- ditabuh, para lelaki yang pinggangnya dililit kain bewarna merah muda itu menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Seiring dengan irama kenung, mereka lalu bergerak lincah. Saling memutari satu dengan yang lainnya. Pada akhirnya kedua tangan masing-masing ‘pendekar’ itu bertemu di udara. Lalu formasi keenam lelaki ini kembali seperti semula tapi dengan posisi duduk.




Pagi itu (9/10), para ‘pendekar’ itu beraksi di halan depan kantor Komisi Pemilihan Umum kota Pagaralam. Mereka bukan sedang bertarung, melainkan hanya sekedar pertunjukan guna menyambut kedatangan tamu yakni sebuah partai politik. “Itu kuntau Besemah,” ujar Nurlela (60), seorang praktisi seni tari Besemah yang turut hadir di sana, saat ditemui Pagaralam Pos, mengenai nama gerakan-gerakan yang diperagakan keenam lelaki itu.




Kuntau, menurut pemerhati sejarah Besemah, Asmadi, merupakan salahsatu seni beladiri. Selain di Besemah, kata ia, kuntau juga bisa ditemukan di darah lain. Bila melihat pertunjukan kuntau di halaman kantor KPU itu, Mady Lani -nama pena Asmadi- berpendapat, bahwa itu merupakan contoh kuntau gerak yang biasa dijumpai di daerah berbudaya melayu. Kuntau ini, kata ia, hasil latihan secara terus menerus dengan didampingi seorang guru.




Tapi, kuntau gerak bukanlah satu-satunya. Mady menyebut ada juga kategori yang disebut kuntau Besemah. Kata Mady, kuntau Besemah memiliki kekhususan tersendiri. “Kuntau Besemah bisa dipelajari setelah orang itu menamatkan kuntau gerak. Istilahnya khatam,”urainya. “Jadi tidak sembarangan menggunakan kuntau Besemah,” katanya pula.




Seorang yang sudah khatam kuntau gerak, melanjutkan untuk mempelajari kuntau Besemah. Adapun gurunya, kata Mady lagi, bukan lagi seorang manusia, melainkan makhluk tak kasat mata. “Makhluk tak kasat mata itu bisa dipanggil dengan menggunakan mantra-mantra disertai ramuan,”tuturnya. Adapun lokasi latihannya biasanya berada di daerah yang sunyi.




Setelah dipanggil, makluk tersebut lalu masuk ke dalam tubuh. Mulailah, tubuh orang tersebut bergerak dengan sendiri, memperagakan gerakan beladiri. Namun seorang pendekar kuntau Besemah bisa memanggil makhluk tersebut tanpa menyajikan aneka ramuan. Hal ini bila pendekar berada di dalam kondisi terdesak. “Dalam istilah dusun tedesak tekedan bingung,”sebut Mady.




Dengan proses seperti itu, diakui Mady, sangat jarang kuntau Besemah dipraktikkan ke muka umum seperti dalam acara penyambutan tamu. “Kalau yang sering ditampilkan itu kuntau gerak,” ujarnya.




Tapi, anggota lembaga Adat Besemah, Satarudin Tjik Olah tak sepakat bila memanggil makhluk tak kasat mata untuk kemudian memeragakan gerakan beladiri disebut dengan kuntau Besemah. Ia menganggap kuntau tak seperti itu. “Itu namanya pencak Besemah,” ujar Satar saat dimintai pendapatnya secara terpisah.




Satar juga tak sepakat bila kuntau disebut beladiri Besemah. Menurut ia, berdasarkan sejarah, kuntau berasal dari tanah Mongol yang dibawa oleh Panglima Liem. Adapun beladiri Besemah adalah cekak yang dibawa oleh Puyang Atung Bungsu. Panglime Liem ini kemudian bertemu dengan
Atung Bungsu untuk memperebutkan tanah Besemah.




“Saat bertarung, Panglima Liem menggunakan kuntau sedangkan Atung Bungsu menggunakan cekak,”tutur Satar. Kelak, berdasarkan cerita rakyat, lokasi pertempuran Atung Bungsu dan Panglima Liem itu dinamakan Liematung yang lama-lama berubah menjadi Lematang sampai sekarang.




Mengapa kuntau terasa lebih populer ketimbang cekak dan pencak? Menurut Satar, sekitar abad ke-14, masyarakat Besemah menjadikan kuntau sebagai bentuk gerakan tari. Sehingga gerakan ini sering ditampilkan di muka umum lalu terkenal. Adapun cekak kata ia, memang tak jarang ditampilkan di muka umum. “Itu (cekak) mematikan,” ujarnya. Kendati, Satar menyatakan, bahwa di Pagaralam masih ada warga yang menguasai cekak.




Mady sendiri agak meragukan penamaan kuntau berasal dari masyarakat Besemah. “Memang agak rancu. Namanya saja kun dan tau,” ucapnya. Kendati, Mady memastikan, bahwa warga Pagaralam yang menguasai kuntau gerak maupun Besemah masih cukup banyak. Salahsatunya disebutkan Mady, pernah ditampilkan dalam malam seni budaya Besemah di pedestrian jalan Jendral Sudirman, kota Palembang beberapa waktu lalu.




Saat itu, cerita Mady, pihaknya sengaja memanggil orang tersebut untuk memeragakan kuntau Besemah-memanggil makhluk tak kasat mata masuk ke dalam tubuh. Peragaan ini pun sukses menuai decak kagum para pengunjung yang datang. “Lokasi peragaannya kami kasih lingkari garis dari kunyit. Supaya tidak ke luar,” tutur Mady.




Yang pasti, terlepas dari asal muasalnya, bila ditampilkan di muka umum, kuntau selalu sukses menarik perhatian masyarakat. Sebuah cara untuk menjaga beladiri tradisional. (11/CE-V)

You can leave a response, or trackback from your own site.