Menguak Rahasia Kitab Kaghas, Pianggang pun Dindak Ndampeng

Foto: dok/Pagaralam Pos
Tulisan beraksara ulu ditulis di atas kulit kaghas milik salahseorang warga Pagaralam.

Foto: dok/Pagaralam Pos
Aksara hulu beserta cara membacanya

Tulisan beraksara ulu yang ditulis di atas lembaran-lembaran kulit kaghas-untuk kemudian disebut dengan kitab kaghas- menyimpan banyak rahasia. Hanya bisa dikuak bila pandai membacanya. Dari jampi pianggang sampai strategi perang ada dalam tulisan leluhur ini.




Satarudin Tjik Olah tak henti-hentinya mengerinyatakan dahi ketika berusaha menerjemahkan dua buah kitab kaghas. Dua buah kitab kaghas ini diterjemahkan atas permintaan sebuah lembaga milik pemerintah yang. Karena diminta tolong, Satar mengiyakan meskipun harus memeras pikirannya. “Sampai tesakit-sakit palakku (pening kepala saya),”ujar Satar saat dijumpai Pagaralam Pos di kediamannya di kawasan Mekar Alam kemarin (29/9).




Toh, Satar berhasil merampungkan proses penerjemahan tersebut. Dihitung dari awal sampai akhir, penerjemahan tersebut memakan waktu sampai empat hari. Bukan karena Satar tak mampu lagi menerjemahkan kitab kaghas-yang beraksara itu. Juga bukan karena Satar tak serius dalam menerjemahkan. “Karena ada variasi atau cara penulisan saja yang sedikit berbeda,”tutur anggota Lembaga Adat Besemah yang kini berumur lebih dari 60 tahun ini. Selain itu faktor kondisi tulisan juga mempengaruhi proses penerjemahan.




Dua buah kitab kaghas yang diterjemahkan Satar tersebut berasal dari dusun berbeda. Satu buah kitab merupakan milik jurai tue dusun Gunung Agung Tengah kelurahan Agung Lawangan kecamatan Dempo Utara. Kitab yang satu lagi kepunyaan jurai tue dusun Pagar Agung kelurahan Tanjung Agung kecamatan Pagaralam Selatan. Meskipun memiliki tuan berbeda, namun dua buah kitab kaghas tersebut sama-sama ditulis di atas kulit kayu yang kemudian dilipat-lipat. “Kulit kayu itu namanya kaghas. Makanya, dinamai kitab kaghas,”terang Satar mengenai penamaan kaghas.




Oleh Satar, terjemahan terhadap dua buah kitab kaghas tersebut diserahkan kepada yang mintak tolong. Sayang, Satar mengaku lupa untuk memfotokopi-nya. Padahal ia menginginkan agar terjemahannya tersebut bisa dibaca banyak orang di Pagaralam. “Saya baru sadar, setelah terjemahan itu saya berikan. Harusnya saya perbanyak dulu, buat pegangan,”ucapnya lantas menghela nafas panjang.




Meskipun begitu, Satar masih ingat beberapa hasil penerjemahannya tersebut. Menurut pensiunan pegawai negeri sipil ini, dua buah kitab tersebut memiliki isi yang hampir sama. Sebagian besar isi, kata ia, menjelaskan tentang ucap-ucap alias jampi-jampi dan pengobatan. Satar bahkan hafal dengan jampi-jampi tersebut. Jampi pianggang misalnya. “Jampi pianggang digunakan untuk mencegah sekaligus mengusir hama padi seperti wereng, kepi dan kenangau,”urai Satar. (Baca Jampi-jampi Pianggang)




Selain pianggang, Satar melanjutkan, kitab kaghas tersebut juga berisi tentang jampi beburu yang berfungsi untuk menjinakkan hewan buas ketika berada di dalam hutan. Ada juga jampi-jampi pengobatan. Apakah jampi-jampi ini berfungsi? Satar memastikannya berfungsi. Dengan jampi-jampi pianggang,kata ia, tanaman padi terhindar dari hama- yang bisa membuat panen gagal. Demikian pula dengan jampi-jampi pengobatan. “Dulu saya pernah melihat seorang anak yang kena bisulan disembuhkan dengan cara dijampi. Pas dibacakan jampi-jampi, bisulan tersebut sembuh,”urai Satar mengenang.




Peradaban Tinggi
Sayangnya, Satar tak tahu siapa yang menulis dua buah kitab kaghas tersebut. Musababnya, kata Satar, di kitab tersebut tak dimuat disebutkan nama penulis. “Judulnya pun tak ada. Jadi, pas dibuka, langsung mengarah kepada isi,”tuturnya. Kendati, Satar memperkirakan, kitab kaghas tersebut dibuat oleh para leluhur jurai tue-pemilik kitab kaghas sekarang. “Waktu pembuatannya kira-kira dari tahun 1630 sampai dengan 1650,”lanjut dia. Karena itu, wajar jika pemilik kitab kaghas di zaman sekarang juga tak tahu siapa yang menulis kitab itu. Sebabnya, perbedaan generasinya terpaut sangat jauh.




Untuk menulis, leluhur besemah menggunaka tinta alami yang terbuat dari di antaranya rebusan sebuah daun, manis kabung alias nira yang ditambah dengan langas-hasil pembakaran karbondioksida yang tak sempurna. Biasanya langas didapat dari lampu damang-lampu di zaman dulu. Meskipun demikian, bagi Satar, adanya kitab kaghas tersebut-terlepas dari siapa pengarangnya- merupakan sebuah bukti konkrit. Bahwa kata ia, masyarakat besemah sudah memiliki kebiasaan untuk menulis dan membaca. “Orang luar bahkan menyebutkan, bahwa peradaban besemah adalah yang tertua,”ucapnya bangga.




Sayangnya, diakui Satar, tak banyak orang Pagaralam yang pandai membaca kitab kaghas yang beraksara ulu itu. Kondisi dimulai setelah masuknya penjajah ke tanah besemah. “Setelah aksara ulu. Masyarakat besemah dikenalkan dengan huruf arab gundul lalu. Kemudian Belanda, portugis dan spanyol yang membawa huruf latin,”ucapnya. “Lama-kelamaan huruf ulu dilupakan,”katanya pula.







Kondisi ini juga diperparah dengan propaganda penjajah kolonial Belanda yang menyebutkan, bahwa kitab kaghas tidak boleh dibaca sembarang orang. Sebelum dibaca, kata penjajah belanda kala itu, harus menyembelih kambing. “Lama-lama orang kita takut dan tak berani membuka apalagi membacanya,”tutur Satar. Padahal menurut Satar, belanda takut kalau kitab kaghas tersebut dibaca bisa membangkitkan semangat perjuangan rakyat kala itu. “Sebab, ada beberapa kitab kaghas yang isinya adalah strategi perang,”urainya.




Setelah Dibaca Ternyata Resep Makanan
Kasmadi selalu tertawa jika teringat dengan pengalamannya beberapa tahun lalu. Ketika itu Mady Lani-nama pena Kasmadi-diharuskan untuk mandi kembang tujuh rupa. Ini sebagai syarat bila ingin membuka sebuah kitab kaghas di sebuah dusun. Mady pun menyanggupi syarat tersebut. Ia juga membayangkan, setelah mandi, bisa mendapatkan sesuatu yang istimewa-misalnya saja tentang peta, jampi dan sebangsanya- dari kitab tersebut. “Setelah saya baca, eh tahunya resep masakan,”ujar Mady dalam suatu perbincangan dengan Pagaralam Pos beberapa waktu lalu. (11)




Jampi-jampi Pianggang

Hut putri sementing kuning, Mati begintai di beringin

Kepak kepi kepinding tanah, Ulat makan di buku, ulat makan di ghuas

Ulat makan di daun, betiup angin tige sepohon,

Seluncuk setajam bahu, sia bungaran,

Bukan aku yang menawari, Allah ta’ala yang menawari.

(sumber:Satarudin Tjik Olah)

You can leave a response, or trackback from your own site.