Hikayat Tanah di Sebuah Guritan, Jeme Rejang yang Pertama?

Tanah ini dulunya bukan tak bertuan. Sebelum leluhur besemah ada, tanah ini sudah berpenghuni. Hikayat dalam sebuah guritan menuturkannya.




GURITAN itu seolah-olah membuat Asmadi makin percaya bahwa dulunya sebelum bernama besemah, tanah itu sudah bertuan. Terdapat pemukiman penduduk di tanah itu. Penduduk ini kerab disebut jeme rejang. Karenanya, ia menarik kesimpulan, jeme besemah, bukanlah penduduk pertama yang berdiam di tanah ini. “Tanah besemah ini milik jeme rejang,”ujar Mady Lani-nama pena Asmadi-saat ditemui Pagaralam Pos kemarin (20/10). “Kita tidak bisa memungkirinya,”katanya pula.




Guritan itu mengkisahkan sejarah Rindang Papan dan Lemang Batu. Menurut Mady, Rindang Papan dan Lemang Batu merupakan leluhur besemah. Keduanya kata ia, merupakan anak dari Ratu Agung dari tanah tinggi Sebakas-sebuah kawasan di Bengkulu Selatan. Setelah Ratu Agung meninggal, Rindang Papan dan Lemang Batu memutuskan pergi dari tanah tinggi Sebakas. “Rindang Papan dan Lemang batu menyusuri bukit-bukit,”tutur Mady.




Setelah puluhan hari berjalan ke luar masuk hutan, dua bersaudara itu akhirnya tiba di sebuah kawasan yang tak dikenalnya sama sekali-kini disebut Tanjung Keling. Dari sini, mereka melihat alam yang membentang luas. Maka, Lemang Batu menyebut kawasan ini dengan nama ‘Laut Alam Danau Melinte’ Di sini pula, Lemang Batu dan Rindang Papan bertemu dengan bibinya-adik Ratu Agung. “Bibi Rindang Papan dan Lemang Batu sudah lebih dulu meninggalkan tanah tinggi Sebakas,”urai Mady.




Lanjut Mady, bibi Rindang Papan dan LemangBatu itu sudah menikah dengan orang penduduk asli ‘Laut Alam Danau Melinte’ yakni orang rejang. Maka, Rindang Panjang dan Lemang Batu pun tinggal bersama bibinya yang asli Sebakas dan pamannya yang orang rejang itu. “Setelah dewasa, Rindang Papan juga menikah dengan orang rejang,”imbuh Mady.




Dari hasil pernikahan tersebut, Rindang Papan melahirkan tujuh orang anak yakni Raden Kuning, Raden Kumbang, Bujang Beghusek, Bujang Juare, Burung Dinang, Anak Dalam
dan Rebiah Sunting.Ketujuh anak Rindang Papan inilah, menurut Mady, merupakan cikal bakal leluhur besemah yang kelak memunculkan Atung Bungsu. “Kalau kisah ini benar, boleh jadi, kita ini memiliki darah orang rejang,”urainya.




Dengan demikian, Mady menyatakan, bila menurut cerita dari guritan itu, maka orang besemah tak bisa mengklaim sebagai penduduk asli. Sebabnya, berdasarkan guritan itu, orang besemah berasal dari tanah tinggi Sebakas di Bengkulu Selatan sana. “Yang pertama tinggal di sini adalah orang rejang,




Bukti lain bahwa tanah besemah ini dulunya pertamakali didiami orang rejang, menurut Mady , adalah adanya makam-makam di Pagaralam. Beberapa makam itu dikenal masyarakat setempat sebagai makam orang rejang. Beberapa makam itu disebutkan Mady diantaranya berada di dusun Cawang Baru dan Tanjung Pasai. Di Cawang Baru, makam rejang berlokasi persis di atas tebing Sungai Selangis.




Namun kini, orang rejang justru banyak berada di provinsi Bengkulu misalnya di Kabupaten Lebong, Rejang Lebong dan Kepahyang. Sementara di Pagaralam yang tertinggal adalah makam leluhurnya tadi. Mengapa bisa demikian? Mady menyatakan, pindahannya orang rejang dari tanahnya lantaran kalah sumpah. Mereka kalah bersumpah dengan orang besemah. “Di zaman itu, orang-orang sangat takut dengan sumpah,”ujarnya.

Ghimbe Legun Dalam Kemudian Besemah

Adapun ‘Laut Alam Danau Melinte’ sendiri kelak berubah menjadi Ghimbe Legun Dalam lalu kemudian menjadi Besemah. Perubahan nama ini kata Mady, terjadi seiring dengan berjalannya waktu.




Mendapatkan Pembenaran Dari Atung Bungsu

Sejak kapan nama besemah itu muncul? Untuk menjawab pertayaan ini, sudah banyak versi yang menjelaskannya. Versi yang kuat adalah dikaitkan dengan kisah kedatangan Puyang Atung Bungsu. Atung Bungsu disebut-sebut sebagai orang yang pertamakali mengucapkan nama besemah itu.




“Memang ada banyak versi yang menceritakan awal mula nama Besemah. Tapi, nampaknya, versi yang cukup sesuai adalah berkenaan dengan kedatangan Puyang Atung Bungsu,”ucap sejarawan Sumatera Selatan, Ahmad Bastari Suan, saat diwawancarai Pagaralam Pos lewat sambungan telepon pada 2016 lalu.




Dikisahkan, Puyang Atung Bungsu mendapatkan ilham nama besemah, setelah dirinya melihat adanya ikan semah di sebuah aliran sungai. Kini, sungai tersebut bernama besemah, lokasinya di kecamatan Dempo Selatan. “Kata Besemah, artinya memiliki ikan semah. Versi ini, rasanya cukup logis,”tutur salahsatu penulis buku Sejarah Besemah ini.




Kendati, Bastari menegaskan, bahwa kemungkinan besar kata besemah yang terucap dari Puyang Atung Bungsu itu pada dasarnya adalah sebuah pembenaran. Bahwa, daerah yang baru saja didatanginya itu memang cocok diberi nama besemah. Karenanya katanya, patut diduga, besemah sebenarnya sudah ada jauh sebelum kedatangan Atung Bungsu.




“Perlu dipahami bahwa Puyang Atung Bungsu bukanlah manusia pertama yang ada di Besemah. Dengan kata lain, Atung Bungsu bukanlah ‘Adam’-nya Besemah,”paparnya. Hal ini disampaikan Bastari, karena mengingat masih banyak pihak yang menganggap, saat Atung Bungsu datang, besemah itu masih sebuah hutan tak berpenghuni. “Sebelum ada Atung Bungsu, di besemah ini sudah ada manusianya. Bukan dalam keadaan kosong,”sebutnya.




Besemah imbuh Bastari, sebelum kedatangan Atung Bungsu sudah memiliki masyarakat. Tapi, kata dia, masyarakat itu kemungkinan belum memiliki tatanan sosial. Nah, lanjutnya, kedatangan Puyang Atung Bungsu, merupakan langkah untuk memperbaiki tatanan sosial masyarakat besemah itu. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.