Kisah Misteri Tang Alit, Ditemani Ular Sanca Besar dan Putri Kecil Nan Cantik

Foto: Madhon/Pagaralam Pos
MILIKI MOTIF CANTIK: Tampak bagian paving blok di Kampung Selfi memiliki motif cantik, yang dapat menjadi daya tarik masyarakat untuk selfie.

Di balik indahnya corak warna-warni motif pembangunan jalan paving blok Kampung Selfi Gang Reformasi RW 10 RT 20 Kelurahan Nendagung, Kecamatan Pagaralam Selatan, dikerjakan masyarakat secara bersama lewat dana bantuan program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) ternyata cukup banyak menyimpan misteri di dalamnya.




Apa saja misteri yang berhasil terungkap tersebut, berikut kisah Wiliansyah atau kerap disapa Tang Alit Ketua RW 10 Gang Reformasi dan menjabat pula Ketua Koordinator kolektif LKM Maju Bersama kepada wartawan koran ini.

Rahmad Romadhon – Nendagung

Mengunjungi Kampung Selfi berada di kawasan Jl Air Perikan Gang Reformasi, sorotan mata langsung di suguhkan pemandangan cukup menawan. Badan jalan lingkungan sebelumnya dipenuhi tanah merah, becek dan berlumpur, sudah beubah jadi conblok yang dipenuhi dengan warna.




Dari kejauhan nampak terlihat pria berpostur tinggi besar tegap tak lain ialah Tang Alit, dengan ditemani kance kentalnya Mat Sohan, yang penampilannya beda 180 derajat dari bawaan biasa yang selalu tampil nyentrik, dengan seragam safari lengkap dengan topi hitam dan kacamata.




Kedua sohib ini dibantu sejumlah pemuda, sambil duduk selonjoran kaki, nampak begitu asik menggoreskan kuas dan cat genteng di conblok yang tersusun rapi, sesekali Tang Alit pun berdiri buat merebahkan pinggang.




“Alhamdulillah, pengerjaan pembangunan jalan paving blok, termasuk pengecatan warna-warni dengan motif berbeda, pada setiap jalan gang program KOTAKU di Kelurahan Nendagung sudah hampir selesai,” ucap Tang Alit, mengawali cerita.




Di ‘Kampung Selfi’ ini, kata Tang Alit, selain dapat berfoto selfi, dengan corak warna-warni berbeda di setiap gangnya, masyarakat juga bisa refleksi mengijakan kaki di bebatuan kecil, yang sengaja dipasang pada pinggiran jalan. “Bebatuan kecil yang ada disini, bisa dijadikan obat syok terapi,” ungkapnya.




Mengenai motif goresan cat, yang berbeda dituangkan pada paving blok, diakui Tang Alit, semua itu idenya mengalir dengan sendirinya, lebih lagi ketika mengecatnya hingga larut malam, seperti ada yang menemani. “Terkadang saya sempat mengecat jalan sampai pukul 02.00 WIB, begitu saya ingin konsen dipengerjaan perbaikan kampung ini,” terangnya.




Saat mengecat hingga larut hari inilah, diungkapkan Tang Alit, dirinya merasa seperti ada seorang yang menemani, apalagi mengerjakan di gang pangkal pertama KSM Semangat Pemuda, serasa tangan ini ada yang turut menggerakan.




“Untuk di Gang Pertama itu, kita sebut sebagai motif sisik ular sanca, dengan corak yang mendominasi putih, kuning dan hitam, karena ketika mengerjakan cat itu, saya melihat wujud ular besar yang senantiasa menemani,” kenangnya.




Sedang di bagian jalan kedua KSM Gema Pals, sambung Tang Alit, pemandangan hampir serupa pun ditemuinya, yakni ditemani seorang putri kecil nan cantik, yang selalu riang gembira menari-nari kesana kemari.




“Itulah mengapa corak motif di jalan KSM Gema Pals, kita buat seperti motif bunga atau kembang, karena permintaan dari gadis kecil itu tadi. Makanya, kita menilai setiap guratan dan goresan cat disini, memiliki makna yang berbeda-beda,” tandasnya. (*)

You can leave a response, or trackback from your own site.