Pilkada Pagaralam : Meraih Menang Dengan Tidak Melupakan Asal


PAGARALAM POS, Pagaralam – Pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah (Pilkada) di Pagaralam rupanya tak bisa dilepaskan dengan budaya dan sejarah. Siapa yang berhasil menyatukan asal keturunan, besar kemungkinan dapat meraih kemenangan. Sebuah takdir demokrasi yang sudah berlangsung sejak zaman pemilihan pesirah.




Anggota Lembaga Adat Besemah Satarudin Tjik Olah menuturkan, masyarakat besemah memiliki kontur budaya yang masih sangat kuat. Hal ini menurut Satar, sangat mempengaruhi setiap lini kehidupan, termasuk dalam hal pemilihan kepala daerah. “Besemah mengenal yang namanya istilah seghepat seghendi atau seiya sekata,”ujar Satar saat ditemui Pagaralam Pos di kediamannya kemarin (3/11).




Karena itu, Satar melanjutkan, seseorang calon yang mampu mencari sekaligus menyatukan asal muasal keturunannya, memiliki peluang untuk menang yang besar. Sebabnya, masyarakat yang disatukan ke dalam satu keturunan yang sama memiliki dasar persatuan yang kuat sekaligus satu kesepahaman. “Pengalaman yang sudah-sudah memang seperti itu,”katanya pula.




Sebaliknya, Satar melanjutkan, seseorang calon yang melupakan masa lalunya, biasanya sulit untuk mengalami kemenangan. Calon yang seperti ini,biasanya akan dikalahkan oleh calon yang gemar mencari serta menyatukan silsilah kehidupannnya. Karena itu Satar sendiri menyambut baik bila saat ini sudah ada banyak bakal calon yang mulai aktif mencari asal muasalnya. Calon ini disebut memiliki kepedulian sejarah yang tinggi terhadap masa lalu sekaligus masa depannya.




Untuk mendapatkan masa depan, calon ini tidak serta merta meninggalkan masa lalunya. “Dari satu dusun ke dusun dicari betul keterkaitan asal muasal keturunannya. Akhirnya nanti, didapat satu silsilah yang padu dan untuh,”tutur pensiunan pegawai negeri sipil ini.




Ditambahkan Satar, silsilah keturunan juga kerab menentukan dalam pemilihan pesirah pada tempo dulu. Saat itu kenang dia, seseorang calon pesirah yang mampu menyatukan asal keturunan serta silsilahnya dengan benar, biasanya akan meraih kemenangan. Adapun calon yang tak mampu menyatukan asal muasalnya, biasanya akan mengalami kekalahan yang nyata. “Tidak ada pendudukungnya,”urai Satar.




Berpengalaman Memilih Langsung
MASYARAKAT Pagaralam sendiri sudah cukup berpengalaman dalam memilih pemimpin sejak langsung. Sejak 2008, masyarakat Pagaralam sudah mulai dibiasakan memilih pasangan calon walikota dan wakil walikota secara langsung.




Berdasarkan data yang dihimpun Pagaralam Pos, pada Pilkada Pagaralam 2008 ada empat pasangan calon yang maju. Setelah ‘bertarung’ akhirnya yang ke luar jadi pemenang adalah pasangan Drs H Djazuli Kuris MM dan dr Hj Ida Fitriati MKes. Selanjutnya pada Pilkada 2013, masyarakat Pagaralam kembali memilih pemimpin secara langsung. Pada 2013, ada sembilan pasang calon yang bertarung. Setelah ‘bertarung’selama dua putaran, akhirnya pasangan dr Hj Ida Fitriati MKes dan Novirzah Djazuli SE ditetapkan sebagai pemenang Pilkada 2013.




Pada 2018 mendatang, masyarakat Pagaralam akan kembali memilih pemimpin secara langsung. Belum diketahui jumlah Paslon yang akan ‘bertarung’ pada 27 Juni 2018 kelak itu. Sebab, masa pendaftaran calon baru akan dibuka pada Januari 2018. Yang pasti, masyarakat Pagaralam sudah bersiap-siap untuk kembali nyoblos di dalam tempat pemungutan suara (TPS). (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.