Film Dokumenter Sastra Besemah Dikirim ke UNESCO

Foto: Pidi/Pagaralam Pos
PEDULI BUDAYA: Kru pembuatan film dokumenter Batanghari Sembilan Yayasan Tandi Pulau beserta pemain berfoto bersama di Markas Forpa Besemah, kemarin.

Pagaralam Miliki ‘Magnet’
Pagaralam rupanya memiliki ‘magnet’. Kota ini mampu menarik para pembuat dokumenter dari Yayasan Tandi Pulau Palembang untuk datang. Mereka akan membuat sebuah film dokumenter yang berisi antara lain tentang sastra tutur besemah. Kelak, bila sudah kelar, film berdurasi 30 menit ini akan dikirim ke UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization). Sebuah organisasi bentukan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang bergerak di bidang Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan
——————–
YANG pertamakali terpikirkan Hernawan adalah menemui narasumber sebanyak mungkin. Pikirannya pun tertuju kepada Asmadi. “Saya langsung hubungi Bung Madi. Dan kita langsung diterima di sini,” ujar Hernawan, ditemui Pagaralam Pos di Sekretariat Forum Pecinta Alam (Forpa) Besemah, kemarin (24/11).




Narasumber yang dicari Hernawan memang tidak bisa sembarang orang. Dia harus orang yang ahli di bidang sastra lisan besemah. Adapun Madi Lani-sapaan Asmadi-memang dikenal ahli di bidang itu. “Kami mau membuat film dokumenter Batanghari Sembilan. Di antaranya isinya tentang sastra lisan besemah yang bisa dipertanggungjawabkan,”terang Hernawan, mengenai isi film dokumenter tersebut. “Untuk itu perlu banyak narasumber,”tambahnya.




Hernawan bukan satu-satunya orang yang akan terlibat dalam pembuatan film itu. Bersamanya turut serta enam orang lainnya. Mereka semua berasal dari Yayasan Tandi Pulau Palembang. Dalam pembuatan film ini, Hernawan bertindak sebagai Art Director. Rudian sebagai sutradara, Jimi Pieter sebagai Director of Fotografi, Anisa Talia Faradiba sebagai talent. Kemudian M Bilian Dwiputra sebagai Unit Manager, Darmayadi cameramen dan Vatar drone operator.




Selain membawa orang-orang mereka sendiri, tim tersebut juga menggandeng sejumlah anak muda di Pagaralam. Mereka dipilih untuk menjadi pemain lantaran memiliki kemampuan menuturkan sastra lisan besemah. Anak-anak muda Pagaralam ini direkomendasikan langsung Mady. Jumlahnay ada kurang lebih 10 orang. “Seperti Dio itu, pernah mendapatkan juara di sebuah iven sastra. Dia mahir menuturkan guritan,”ucap Mady sembari menunjuk Dio yang duduk di dekatnya.




Namun dijelaskan Rudian-sang sutradara- dalam film dokumenter, semua pemain adalah figuran. Pendukung. Sebab, kata dia, yang jadi ‘pemeran utama’ itu adalah dokumen. “Kami ingin menunjukkan bahwa dokumen itu benar-benar ada. Bisa dipertanggung jawabkan,”timpal Hernawan, menambahkan.




Adapun soal pemilihan lokasi di Pagaralam, menurut Hernawan, lantaran pihaknya percaya bahwa sastra Batanghari Sembilan berakar di Besemah. Karena itu, kata dia, dalam film dokumenter tersebut, akan berisi tentang sastra lisan besemah di antaranya guritan dan rimbay. Untuk itulah, pihaknya memerlukan banyak narasumber dan pelaku sastra tersebut dari Pagaralam. Mereka diharapkan mampu mampu menunjukkan dan mempraktekkan sastra lisan besemah itu dalam sebuah film dokumenter. “Kami juga mengambil lokasi di Palembang,”imbuh Hernawan.




Selain itu, lanjut dia, lantaran faktor alam Pagaralam yang begitu mendukung untuk dimuat dalam film dokumenter. Kru akan berusaha untuk menarik sastra besemah di masa lalu ke masa sekarang. Sehingga, akan nyambung. “Bagi kami, Pagaralam ini memiliki magnet. Sehingga kami tertarik untuk datang,”sebut Hernawan.




Hernawan memperkirakan, film dokumenter tersebut akan kelar dalam beberapa ke depan. Saat ini kru masih terus berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin informasi dari narasumber. “Karena hari ini (kemarin) baru nyampe, besok kami mulai survei ke lapangan,”ucap Jimi, Director of Fotografi.




Kelak, bila film dokumenter itu kelar, Hernawan menyatakan, akan mengirimkannya ke UNESCO. Jaringan ke UNESCO ini didapat setelah Yayasan Tandi Pulau mendapatkan dukungan penuh dari Dinas Pariwisata Provinsi Sumsel. “Kami ingin menunjukkan bahwa ke dunia internasional. Bahwa kami punya ini loh. Inilah Sumsel itu,”ucapnya, bersemangat.




Bukan hanya untuk diperkenalkan saja. Menurut Rudian, film dokumenter itu ada, diharapkan ada tindaklanjut dari UNESCO. Pihaknya menginginkan agar UNESCO memberikan respon untuk melindungi sastra lisan tersebut. Ini agar sastra-sastra tersebut tidak hilang atau diklaim negara lain. “Kita bisa lihat sekarang ini. Ada daerah yang sastranya sudah hilang. Kita ingin di Pagaralam tidak seperti itu,”paparnya.



Jangan ‘Tutup Mata’
Di dalam kru pembuatan film dokumenter tersebut ada seorang yang namanya M Bilian Dwiputra. Pemuda ini asli Pagaralam. Karenanya, begitu mendengar ada rencana untuk pembuatan film dokumenter di Pagaralam, Bili sangat mendukungya. Dia pun terlibat penuh dalam pembuatan film ini. “Saya rela meninggalkan kuliah. Tidak apa-apa,”ujar mahasiswa semester tujuh di salahsatu perguruan tinggi swasta di Palembang ini.




Dijelaskan Bili, dengan adanya pembuatan film dokumenter itu, diharapkan sastra lisan besemah semakin terangkat ke permukaan. Para pelaku seni besemah pun, kata dia, diharapkan bisa tampil. Dia merasa begitu sedih, ketika melihat budaya besemah saat ini mulai dilupakan. Generasi muda kebanyakan lebih senang dengan kebudayaan luar. “Harusnya seni sastra ini dulu didahulukan. Nanti dulu yang lain itu,”ucapnya.




Dia pun berharap, agar pemerintah setempat mendukung penuh pembuatan film dokumenter tersebut. Minimalnya kata dia, pemerintah menyambut baik. “Kalau UNESCO itu kan seperti atap. Nah kami butuh pijakan yakni pemerintah,” tuturnya. Namun diakuinya, kadangkala dukungan dari pemerintah setempat kadangkala susah didapat.




Sebagai seorang yang hampir tiap hari bergelut dengan sastra lisan besemah, Mady Lani juga menyambut dan mendukung usaha pembuatan film dokumenter tersebut. “Saya rasa inilah film dokumenter pertama yang menyorot tentang sastra lisan besemah,” ujar Mady. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.