Lanang Betine Pacak Gale Nganyam

Foto-foto: dok/Pagaralam Pos
TRADISI: Kerajinan tangan khas Besemah memiliki beragam bentuk. Bahannya diambil dari alam sekitar.

Kerajinan Tangan Besemah
Masyarakat Besemah memiliki kreativitas yang tinggi. Mereka sudah terbiasa untuk membuat beragam bentuk kerajinan tangan yang berbahan dari alam. Menganyam misalnya. Lanang maupun betine Besemah dulunya sama-sama bisa menganyam. Sampai sekarang bentuk kerajinan tangan Besemah ini masih bisa dijumpai di berbagai lokasi.
————————-
SUDAH 20 tahun lebih Neti berdagang di sebuah toko di bawah Pasar Dempo Permai. Ia di antaranya menjual beragam jenis kerajinan tangan. Kerajinan tangan khas Besemah seperti kinjagh dan bubu ada di sini. Kinjagh yang berbentuk bulat dan terbuat dari rotan itu di susun sedemikian rupa di depan toko. Adapun bubu yang berbentuk bundar memanjang digantung di langit-langit toko.




Neti mendapatkan kerajinan tangan khas Besemah itu dengan cara dibeli langsung dari pengrajinnya maupun melalui penyalur. “Kalau kinjagh itu ada yang dibuat penganyam dari Dusun Kota Raya, dan Perandonan. Untuk bubu dari Kota Agung,” terang Neti (52) saat dijumpai Pagaralam Pos di sela-sela kesibukannya kemarin (8/12).




Oleh Neti, kerajinan tangan khas Besemah itu dibanderol dengan harga yang bervariasi, tergantung dengan ukuran. Bubu misalnya dibanderol dari Rp90 ribu – Rp 170 ribuan per buah. Adapun kinjagh dibanderol dengan harga mulai dari Rp60 ribu per buah. Menurut Neti, puncak pembelian kerajinan tangan khas Besemah itu terjadi jika sudah memasuki musim panen kopi. “Kadangkala kalau sedang musim kopi ada yang beli kinjagh dan bubu sekaligus,” ujarnya. Adapun untuk saat ini, pembelian belum terlalu ramai.




Namun, ada kalanya bagi Neti kesulitan untuk mendapatkan kerajinan tangan khas Besemah. Bubu misalnya, dicontohkan Neti, pernah kosong. Ini lantaran pengerajinnya tidak membuatnya lagi, akibat kesulitan bahan berupa rotan. “Pengerajinnya tidak banyak lagi. Itupun sudah berumur,” tutur perempuan yang berdiam di Dusun Indra Giri ini.
Pasar Dempo Permai bukan satu-satunya lokasi yang menyediakan kerajinan tangan Besemah. Di tepi jalan Pagaralam – Lahat, tepatnya di Dusun Muara Tenang, Kelurahan Prahu Dipo, Kecamatan Dempo Selatan terdapat lapak yang khusus menjual kerajinan tangan khas Besemah. Sebut saja misalnya nighu dan bakul.




Kinjagh dan bubu maupun nighu hanya tiga buah di antara dari sekian banyak bentuk kerajinan tangan khas Besemah. Umumnya kinjagh diperuntukkan buat wadah menampung buah kopi, puntung kayu dan lainnya. Adapun bubu berfungsi sebagai perangkap ikan. “Jumlahnya banyak sekali,” ujar Satarudin Tjik Olah, mengenai jumlah kerajinan tangan khas Besemah, saat dijumpai Pagaralam Pos di kediamannya kemarin.




Kinjagh dan bubu, disebutkan Satar, adalah bentuk kerajinan tangan Besemah yang dibuat dengan cara dianyam. Adapun bahannya adalah uwi, alias rotan. Rotan yang telah dibentuk sedemikian rupa lalu dianyam hingga jadilah kinjagh dan bubu. Menurut Satar, tradisi menganyam tersebut sudah ada sejak lama. Diteruskan secara turun temurun, dari orangtua ke anaknya. “Kalau orang luar menyebutnya sebagai kearifan lokal,” kata dia.




Tapi, dalam tradisi masyarakat Besemah, kata Satar, antara laki-laki dan perempuan berbeda bentuk anyamannya. Kinjagh misalnya, dicontohkan Satar, pada umumnya dianyam betine (kaum perempuan).




Adapun bubu merupakan dianyam lanang (kaum lelaki). Dijelaskan Satar, ini merupakan bentuk kearifan lokal sekaligus pembagian tugas antara kaum laki-laki dengan perempuan. (Baca: Anyaman Lanang dan Betine)
Dengan pembagian tugas seperti itu, diakui Satar, di masa lalu mau tidak mau laki-laki dan perempuan harus memiliki kemampuan yang menganyam. Kemampuan menganyam bahkan dapat menentukan seorang laki-laki ataupun perempuan mendapatkan pasangannya. “Sedari kecil jeme Besemah sudah harus terampil dalam membuat beragam jenis anyaman,” lanjut tokoh budaya yang sudah berumur lebih dari 70 tahun ini.
Namun, untuk anak-anak kecil bentuk anyamannya tidak serumit orang dewasa. Dicontohkan Satar, untuk anak-anak misalnya menganyam sangkar burung pipit, cucup, empew-empew (sejenis terompet) dari daun dan lainnya. Ditambahkan Satar, selain anyaman, bentuk kerajinan tangan khas Besemah lainnya adalah betenun. Ini merupakan salahsatu bentuk kerajinan tangan untuk membuat kain. Adapun bahan dasarnya juga dari alam. “Bahan untuk menenun itu umumnya terbuat dari serat kayu. Misalnya serat keloy (rami),” urai Satar mengenai bahan dasar tenun kain khas Besemah.




Apakah sekarang masih banyak yang bisa mengayam? Satar memperkirakan masih ada. Di tiap dusun meskipun tidak banyak, pasti ada orang yang bisa menganyam. Tapi diakuinya, jumlah penganyam sekarang ini tidak sebanyak zaman dulu. Salahsatu alasannya diakuinya lagi, lantaran keterbatasan bahan dasar. “Rotan itu misalnya, sekarang susah didapat. Adanya di hutan-hutan,” ujarnya memberikan contoh.




Enam Jam Berjalan
Pada 2015 lalu Pagaralam Pos sempat bertemu dengan dua orang warga yang berjalan jauh menembus rimba belantara perbatasan antara Pagaralam dengan Tanjung Sakti. Tujuan dua orang ini adalah mencari rotan. Pencarian mereka membuahkan hasil. Kinjagh mereka nampak berisi dipenuhi rotan. Menurut pengakuan salahseorang warga ini, rotan-rotan kelak akan dijual ke pengerajin rotan yang ada di Pagaralam. (11/CE-V)



Anyaman yang Dibuat Betine
-Lapek pandan, lapek uwi, lapek pughon, lampek gumbai, lampek bemban.
-Guntung
-Sangkek,
-Bakul
-Lekagh
-Sampak atau beghunang,
-Tumbut, bake yg tidak punya bingkai
-Kinjagh,

Anyaman yang Dibuat Lanang
-Bubu
-Lempiung
-Sesauk
-Jale
-Tengkalak
-Lumpatan
-Rungkok atau lanjung, bake panjang
-Ambong atau sarang, kinjagh panjang
-Luku, bajak
-Perumbai
-Pasangan
-Tali andung
-Meranggi, membuat perangka senjata
-Sangkagh burung
-Bake. (**)
(Sumber: hasil wawancara dengan Satarudin Tjik Olah)

You can leave a response, or trackback from your own site.