Pemilihan Pesirah Marga di Besemah

Foto: Dok.Pagaralam Pos/ilustrasi
PILIH LANGSUNG: Seorang warga memasukkan surat suara yang sudah dicoblos ke sebuah kotak pada Pileg 9 April 2014 lalu.

Cukup Berbisik-bisik, Menang Tanpa Uang
Pemilihan pemimpin secara langsung bukanlah sesuatu yang baru bagi masyarakat besemah. Dulu, sebelum pemerintahan marga dihapus, masyarakat besemah sudah terbiasa memilih pesirah secara langsung. Tanpa menggunakan uang, di zaman itu, seseorang calon bisa memenangkan pemilihan.
————————-
KALENDER bertarikh di angka tahun sekitar 1940 ketika masyarakat Jarai melaksanakan ‘pesta demokrasi’. Pagi itu, masyarakat di sana berkumpul di sebuah lokasi yang sudah ditentukan. Mereka melakukan pemilihan pesirah-pemimpin-Marga Sumbai Mangko Anom Suku Penantian. “Waktu saya masih kecil, saya sempat menonton pemilihan pesirah,”ujar Satarudin Tjik Olah, ketika mengenang suasana proses pemilihan Pesirah Marga Sumbai Mangko Anom Suku Penantian, ketika ditemui Pagaralam Pos di kediamannya kemarin (17/11).




Pemilihan serupa juga dilaksanakan di dusun lain yang berada di bawah naungan marga Sumbai Mangku Anom Suku Penantian. Total dusun yang berada di bawah marga ini saat sebelum kemerdekaan tercatat ada sebanyak 19 buah. Sehingga, hari itu, masing-masing dusun lain daripada biasanya. Warga yang sudah cukup umur yakni 17 tahun ke atas atau sudah menikah, bisa menyalurkan hak pilihnya. Karena itulah, Satar yang saat itu berumur lebih kurang lima tahun, belum bisa memilih.




Meskipun demikian, Satar masih ingat betul bahwa proses pemilihan pesirah saat itu dilakukan secara langsung. Bukan diwakilkan ke sebuah lembaga. Hanya saja bentuknya berbeda dengan yang sekarang. Di zaman sebelum kemerdekaan itu, menurut anggota Lembaga Adat Besemah ini, saat itu seorang warga memilih dengan cara duduk di belakang calon. “Misalnya ada 10 calon. Warga yang memilih, tinggal berbaris di belakang calon yang dipilihnya,”urainya.




Seorang Bestiur Ambtenar (pejabat Pamong Praja) yang saat itu populer disebut controleur Belanda, melakukan perhitungan setelah semua warga menyalurkan hak pilihnya. Dukungan dihitung dimulai dari warga pertama yang duduk pertama di belakang calon sampai dengan yang terakhir. Seorang calon yang mendapatkan dukungan terbanyak, langsung ditetapkan sebagai pemenang.




Helmi Madjid, mantan juru tulis pesirah Marga Sumbai Mangko Anom Suku Muara Siban, juga memiliki pengalaman yang terkait dengan pemilihan pesirah. Helmi memastikan, pemilihan calon pesirah pada zaman sebelum kemerdekaan dilakukan secara langsung. “Calon yang jumlah pendukung berbaris di belakangnya sedikit, dipastikan kalah dari pemilihan,”ujar Helmi ketika dihubungi Pagaralam Pos kemarin.




Depati Dulu, Pangeran Kemudian
Seorang calon terpilih, lanjut Satar, akan mendapatkan surat keputusan dari residen Belanda . Setelah dilantik pesirah ini mendapatkan gelar depati. Bila mendapatkan penghargaan bintang emas, barulah pesirah tersebut mendapatkan gelar sebagai panggeran. Menurut Satar, sebelum penjajah belanda masuk, pemberian SK dan gelar kepada pesirah dilakukan langsung Sultan Palembang. “Sistem pemerintahan kesultanan diganti Belanda menggantinya keresidenan Palembang,”terang Satar.




Masa jabatan seorang pesirah di zaman kolonial penjajah belanda ini adalah seumur hidup. Karena itu, kata Satar, seorang pesirah bisa memimpin sebuah marga sampai tidak sanggup lagi untuk memimpin.




Berbisik-bisik
Setelah Soekarno-Hatta mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, pemilihan pesirah tetap dilakukan secara langsung. Namun, caranya saja yang berbeda. “Sekitar delapan bulan setelah kemerdekaan, pemilihan pesirah dilakukan dengan cara berbisik,”ucap Satar.




Ia lantas mengilustrasikan proses pemilihan dengan cara berbisik itu. Warga mengantre di depan sebuah bangunan yang ditetapkan sebagai tempat pemilihan. Di dalam gedung ini ada panitia yang duduk di atas kursi dengan meja di hadapannya. Ketika sampai di depan panitia ini, warga tinggal membisikkan nama calon yang dipilihnya. “Panitia lalu mencatat nama calon yang dibisikkan warga itu,”sambung pensiunan Pegawai Negeri Sipil ini.




Setelah semua warga menyalurkan hak pilih, panitia lalu menghitung peroleha suara masing-masing calon. Seorang calon yang mengantongi lebih dari 51 persen suara dari total pemilih, langsung ditetapkan sebagai pemenang. Adapun calon yang belum mendapatkan suara sebanyak itu, langsung dinyatakan kalah. Ketentuan ini, kata Satar, berlaku setelah Indonesia merdeka.




Namun, cara memilih dengan cara berbisik-bisik ini tidak berlangsung lama. Seingat Satar,cara ini bertahan selama kurang lebih 1 tahun. Setelah itu, kata dia, cara pemilihan dilakukan dengan cara memasukkan surat suara ke dalam kotak. Setelah menghadap panitia, warga mendapatkan sebuah surat suara yang berbentuk kartu. Di sebuah bilik suara , warga tinggal memasukkan surat suara itu ke dalam kotak suara yang bergambar calon pilihannya.




Helmi Madjid membenarkan cerita Satar. Kata dia, setelah kemerdekaan, pemilihan pesirah dilakukan dengan cara memasukkan kertas suara ke dalam kotak suara. Selain itu, lanjut Helmi, pemilihan dilaksanakan per dusun. “Satu buah kotak dibawa ke dusun untuk diisi warga dengan surat suara,”ujar Helmi.




Dengan demikian, pemilihan pesirah marga Sumbai Mangku Anom Suku Muara Siban berjalan selama 22 hari. Hal ini lantaran jumlah dusun di marga ini berjumlah 22 buah. Ketika 22 dusun usai melaksanakan pemilihan, kotak suara yang menampung surat suara dari warga dibuka untuk kemudian dihitung. Diakui Helmi, saat itu, sudah berlaku sistem 51 persen suara. Artinya, bila ada calon yang memenuhi suara sebanyak itu, langsung ditetapkan sebagai pesirah terpilih.




Dengan ketentuan seperti itu, diakui Helmi, pemilihan pesirah pernah berlangsung dua putaran. Sebabnya, semua calon tak memenuhi ketentuan 51 persen suara. “Calon dengan urutan perolehan suara pertama dan kedua mengikuti proses pemilihan lagi,”kenang dia.




Soal lokasi pemilihan, Satar agak berbeda pendapat dengan Helmi. Menurut Satar, pemilihan pesirah dengan cara memasukkan surat suara ke dalam kotak dilakukan per zona. Bukan per dusun. “Bisa saja lokasi pemilihan untuk empat dusun dijadikan satu lokasi,”urainya.




Setelah terpilih, pesirah hasil pilihan usai kemerdekaan Indonesia akan dilantik bupati. Usai dilantik, biasanya pesirah ini akan mengadakan pesta, untuk mengungkapkan rasa syukur. Pesta ini mengundang seluruh masyarakat di marga itu. “Menyembelih kerbau, saat itu merupakan hal yang biasa dilakukan pesirah,”ucap Satar.




Adapun masa jabatan pesirah di zaman setelah kemerdekaan ini adalah lima tahun. Setelah itu, akan diadakan pemilihan kembali dengan cara yang sama yakni secara langsung. Adanya pemilihan pesirah seperti itu, diakui Satar dan Helmi, merupakan bukti bahwa masyarakat besemah dari dulu sudah mengenal sistem pemilihan langsung. Karenanya, Pemilu maupun Pilkada, bukanlah sebuah kejutan bagi masyarakat besemah.




Memperhatikan Silsilah Keturunan
Baik Satarudin Tjik Olah maupun Helmi Madjid sepakat, selain dilakukan secara langsung, pemilihan pesirah di zaman dulu bersih dari pelanggaran. Di zaman itu tidak mengenal yang namanya politik uang alias membeli suara. “Tidak mengeluarkan uang sedikit pun, kecuali untuk menyiapkan makanan setelah pemilihan selesai,”kata Satar. “Belum ada istilah politik uang seperti sekarang,”ucap Helmi.




Menurut Satar, seorang calon pesirah yang bisa memenangkan sebuah pemilian lantaran memiliki kedekatan emosional dengan para pemilihnya. Kata dia, seorang pesirah yang gigih mengumpulkan dukungan kepada sanak keluarganya di berbagai dusun – masih dalam satu keturunan-umumnya akan menang. Demikian pula sebaliknya. “Cara pesirah ini dulu pernah ditiru seorang calon walikota. Akhirnya dia menang,”sebut Satar yang kini berusia lebih dari 70 tahun.




Sayang, sistem pemerintahan marga tak berumur panjang. Pada 1983, sistem ini resmi dihapus pemerintah pusat. Helmi menyatakan, pemilihan pesirah terakhir kali berlangsung pada 1968. Sejak itu, pemilihan pesirah di Marga Sumbai Mangku Anom Suku Muara Siban tak pernah lagi dilakukan. Sehingga ulas dia, sejak awal sampai akhir, Marga Sumbai Mangku Anom Suku Muara Siban hanya memiliki 9 orang pesirah. (11)




12 Marga di Wilayah Besemah
1. Marga Sumbai Tanjung Raya Suku Muara Payang, membawahi 7 dusun
2. Marga Sumbai Suku Mangko Anom Suku Penantian, membawahi 19 dusun
3. Marga Sumbai Ulu Rurah Suku Pajar Bulan, membawahi 25 dusun
4. Marga sumbai besar suku alun dua, membawahi 14 dusun.
5. Marga Sumbai Mangko Anom Suku Muarasiban, membawahi 22 dusun
6. Marga Semidang Suku Pelang Kenidai, membawahi 6 dusun
7. Marga Sumbai Besak Suku Lubuk Buntak, membawahi 15 dusun
8. Marga Besemah Ulu Manak Ilir
9. Marga Besemah Ulu Manak Ulu
10. Marga Sumbai Besak Suku Kebun Jati
11. Marga Penjalang Suku Tanjung Kurung, membawahi tiga dusun
12. Marga Sumbai Ulu Rurah Suku Mulak Ulu
(Sumber: hasil wawancara Pagaralam Pos dengan Satarudin Tjik Olah)

You can leave a response, or trackback from your own site.