Febrianto : Mau Hebat, harus Berkorban Hebat Pula

Febrianto

PERTEMUAN di Palembang kala itu, membuat keinginannya untuk mengabdikan diri kepada masyarakat Pagaralam kembali membuncah. Dia kembali memutuskan maju di Pilkada Pagaralam. Sebuah niatan yang sebelumnya sudah lama dia kubur dalam-dalam. Hanya, maju di Pilkada, bukanlah tanpa resiko. Dia harus menanggalkan jabatan stategis di sebuah perusahaan daerah milik Pemkot Palembang. Tapi dia juga tak risau barang sedikit pun. Dia, Febrianto SSi MH, bakal calon Wakil Walikota Pagaralam. Mendampingi Ir Gunawan MT, Febri menganggap untuk menjadi hebat, harus mau berkorban yang hebat pula. “Itulah resiko perjuangan,” kata Febri.




Selasa menjelang Maghrib lalu (9/1), di kediaman pribadinya di Dusun Tebat Baru, mantan perwira Polri dengan pangkat terakhir Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) itu menerima permintaan wawancara dari Pagaralam Pos. Selama hampir setengah jam, Febri yang sore itu mengenakan kaos berkerah warna abu-abu, menjawab pertanyaan dengan lugas. Dia mengaku, dirinya bersama Gunawan tak gentar menghadapi banyaknya pesaing. “Tapi, Pilkada itu bukanlah permusuhan,” ucap Febri.




Berikut beberapa petikan wawancaranya :

Nama Anda sempat muncul dan meredup. Tiba-tiba di detik-detik terakhir nama Anda muncul lagi sebagai pendamping Gunawan. Bisa diceritakan bagaimana bisa demikian?
Yang pertama, saya garis bawahi. Saya tidak berminat lagi untuk nyalon Walikota maupun Wakil Walikota Pagaralam. Karena Insha Allah, saya akan diangkat menjadi Dirut PD Pasar Jaya Palembang yang memimpin 44 pasar. Posisi ini strategis, baik dari jabatan maupun gaji serta tanggungjawab. Tapi itulah yang namanya takdir. Takdirnya itu bagaimana. Dengan saya tidak berminat lagi, setiap saat ada yang meminang. Ada yang menginginkan saya jadi pasangan maupun menjadikan nomor satu. Tapi saya sampaikan saya konsentrasi dengan pasar.




Satu sisi, saya mengenal Pak Gunawan sebagai ahli infrastruktur. Saya sudah seringkali bertemu, tapi di luar konteks politik. Ketemu dengan Pak Gunawan tanpa direncanakan. Kebetulan saya datang untuk nige aghi anaknye (takziah). Saya lihat disana sudah banyak petinggi partai. Di situ saya dipanggil dan ditawari. Saya memang tidak berminat lagi. Tapi, saya berpikir sederhana. Kalau mau menang itu, harus satu punya kekuatan sama-sama besar. Dari rasa keinginan besar beliau itu, timbul juga keinginan besar dari saya. Saya di bidang kebijakan hukum dan pasar pertanian, beliau di bidang infrastruktur. Nah ini harus digabung.




Kedua, sebelum itu, saya sering mendengar adek sanak yang merasa tiap hari ujung taun (paceklik) terus. Dengan banyak keluhan inilah saya ucapkan bismillah. Dengan niatan untuk membantu percepatan ekonomi ini.




Jadi pasangan Gunawan-Febri ini tidak direncanakan sejak jauh-jauh hari?
Ini ditemukan Tuhan. Tapi faktor utamanya melihat kemampuan masing-masing. Saya tahu kemampuan beliau di bidang infrastruktur. Saya tahu kemampuan saya. Kedua misinya sama, tidak ada setor-setoran lagi. Itu nanti jadi nol. Supaya ini jadi normal. Kemudian pembagian tugas. Kalau sama-sama ahli di bidang hukum, cuman menang keamanan bae yang baik. Kami juga bertujuan untuk memakmurkan. Hingga satu tahun terlihat perubahan ekonomi. Kesamaan selanjutnya menghindari money politic. Kita harus mengajari seluruh masyarakat supaya menghindari itu.




Tapi, money politic sekarang itu sudah jadi semacam ‘budaya’?
Budaya itu yang bisa merubahnya pemimpin. Kalau pemimpinnya bersih, di bawahnya bersih gale. Kalau pemimpin munafik, bawahnya munafik gale. Nanti akan dipayungi KPK dan Polri. Siapa (menggunakan) money politic kalau itu tim sukses, pidana langsung. Kalau calon didiskualifikasi.




Resiko dari pencalonan ini Anda sudah tahu?
Itulah resiko perjuangan. Saya sudah beberapakali pensiun dini. Dari polisi pensiun dini. Baru setahun Dirops, pensiun dini. Baru mau naik Dirut saya mundur. Itulah resiko pemimpin. Saya tidak pernah takut. Tapi dengan keyakinan dan hitungan. Kalau mau jadi hebat, harus berani mengorbankan yang hebat juga. Seorang yang mau menjadi Kades harus berhenti jadi ketib.




Sekarang Anda sudah mundur dari Dirops PD Pasar Jaya Palembang?
Setelah penetapan calon. Mengajukan surat sudah. Tapi di Acc-nya (disetujui) setelah penetapan calon.




Calon di Pagaralam ini banyak, ada petahana. Anda yakin menang?
Semua calon pasti yakin menang. Tapi ini bukan permusuhan. Kita menentukan nasib. Itu (calon) saudara kita semua. Kalau takdir saya menang, aku di pemerintahan sini. Kalau tidak juga, saya mungkin kembali lagi ke Palembang. Atau jadi petani di Pagaralam.




Apa strateginya untuk menang?
Umum saja. Masyarakat pasti akan memilih yang terbaik setelah kita jelaskan visi dan misi. Kedua kita bisa mengukur elektabilitas dan popularitas. Unsur kekeluargaan di Pagaralam ini sangat tinggi. Siapa yang banyak keluarga, akan banyak pendukung. Kalau banyak berbuat baik akan terkenal. Itu manusia baik pasti banyak yang menggandrungi. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.