Lapangan Merdeka Saksi Bisu Sejarah Pagaralam

Foto-foto: dok/Pagaralam Pos/net
BERSEJARAH: Lapangan Merdeka menjadi saksi bisu sejarah Pagaralam dari masa ke masa. Lapangan ini pernah jadi tempat berkerumunnya massa saat kedatangan Presiden RI pertama Ir Soekarno

Kembalinya Lapangan Bersejarah Itu
Dari Era Kolonial Hingga Penyambutan Soekarno

Tanah lapang itu bukannya tak bernilai. Merupakan saksi bisu sejarah Pagaralam dari masa-masa. Sempat bernama alun-alun kini tanah lapang itu kembali seperti semula:Lapangan Merdeka.




SUATU hari di penghujung 1989 seorang pejabat pemerintahan menghampiri Satar. Dia meminta pendapat Satar perihal lokasi yang rencananya akan dibangun sebuah masjid. Kepada Satar, pejabat itu berujar bahwa masjid itu rencananya akan dibangun di atas Lapangan Merdeka. Mendengar rencana itu, Satar yang kini berusia lebih dari 60 tahun itu terdiam sejenak. Setelah berpikir dia menyampaikan pendapatnya. “Dide. Jangan. Lapangan Merdeka itu bersejarah,”ucap Satar menirukan perkataannya itu saat dijumpai Pagaralam Pos di kediamannya kemarin (22/12).




Kepada pejabat itu Satar melanjutkan, lebih baik masjid itu dibangun di lahan eks kantor kecamatan Pagaralam. “Sebab, kantor itu sudah tak digunakan lagi. Bangun saja di sana. Itu lebih baik, ”terangnya. Pejabat itu mengangguk. Dia menjalankan saran Satar.




Maka, masjid itu urung di bangun di Lapangan Merdeka. Sesuai saran Satar, masjid itu dibangun di atas lahan kantor kecamatan Pagaralam Utara. Bangunan kantor yang sudah ditinggalkan itu dibongkar. Pembangunan masjid itu pun dimulai. Masjid itu dinamai Taqwa yang masih berdiri kokoh sampai sekarang. Dan Lapangan Merdeka tetaplah sebagai lapangan yang kini juga masih ada.




Ia dikenal lantaran memiliki ingatannya yang tajam. Beragam sejarah masa lalu masih diingatnya dengan terang benderang. Wajar jika ia sering dijadikan narasumber oleh orang-orang yang mencintai sejarah masa lampau. Ia Satarudin Tjik Olah, pensiunan pegawai negeri sipil yang pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Adat Besemah.




Namun, khusus untuk sejarah Lapangan Merdeka Satar sudah banyak lupa. Termasuk tentang awal muasal lapangan itu. Ia sudah berusaha keras untuk mengingat tapi tetap tak bisa. “Dulu, lapangan itu memiliki nama tapi dari bahasa Belanda. Nah, namanya itu yang saya lupa,”kata Satar.




Mungkin karena itulah, ia berasumsi, lapangan itu dibangun di masa Belanda. Adapun yang membangunnya adalah saudagar belanda yang memiliki perusahaan perkebunan di tanah besemah. Bersamaan dengan tanah lapang ini turut dibangun swim bad (kolam renang), dan kantor societet. Lokasi swim bad sekarang berubah menjadi Perpustakaan Daerah. Adapun societet sekarang menjadi kantor Lembaga Adat Besemah.




Fungsi lapangan antara lain untuk tempat olahraga. Pasca Belanda angkat kaki, tanah lapang itu digunakan antara lain sebagai latihan militer para prajurit gyugun yang dibentuk Jepang. Pada 1952 lanjut Satar, Lapangan Merdeka itu pernah jadi tempat berkerumunnya massa dari segala penjuru untuk mendengar orasi Presiden RI pertama Ir Soekarno. Karena peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa itulah, Satar menganggap Lapangan Merdeka itu bersejarah. “Harus dijaga,”ucapnya.




Namun penjelasan Satar itu tak seluruhnya diamini Aryo Arungdinang. Pamong Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pagaralam menyatakan, jauh sebelum kedatangan Belanda, lapangan tersebut sudah ada. “Belanda hanya menatanya saja,”ujar Aryo ketika dihubungi Pagaralam Pos kemarin. “Dulunya sekali, lapangan itu mulanya adalah areal persawahan. Ini dibuktikan dengan bukti foto,”tambah Aryo.




Aryo pun tak sepakat bila Lapangan Merdeka itu pernah dijadikan sebagai tempat latihan militer prajurit sebelum dan pasca kemerdekaan. Latihan para prajurit gyugun misalnya, namun menurut Aryo lokasinya bukan di Lapangan Merdeka. “Latihannya ada di tempat lain,”sebut dia.




Meskipun demikian, Aryo membenarkan bila Lapangan Merdeka pernah jadi saksi bisu kedatangan Bung Karno. Berdasarkan catatan sejarah kata Aryo, selain pada 1952, Bung Karno datang ke Pagaralam pada 1962. Karena itu, ia sangat sepakat bila Lapangan Merdeka disebut memiliki nilai-nilai sejarah yang tinggi. Karenanya lapangan ini perlu dijaga.




Sementara itu, Pemerhati Budaya Besemah Mady Lani juga pernah mendengar cerita mengenai kedatangan Bung Karno ke Pagaralam. Berdasarkan cerita yang dia peroleh, disebutkan Bung Karno dengan diiringi masyarakat di antar ke Lapangan Merdeka. “Bung Karno tegak di atas mobil yang mesinnya dimatikan. Mobil itu berjalan karena ratusan orang,”tutur Mady.



Tersebab Kemerdekaan RI

SEJAK kapan tanah lapang itu disebut Lapangan Merdeka? Tidak ada yang tahu persis. Aryo Arungdinang, seorang Pamong Budaya Disbudpar Pagaralam mengatakan, ada banyak versi yang melatarbelakangi penamaan itu. Di antara versi tersebut papar dia adalah terkait dengan peristiwa penaikan bendera merah putih pertamakali di Pagaralam pada 17 Agustus 1945. Penaikan bendera merah putih ini dilakukan setelah pejuang kemerdekaan di Pagaralam mendengar kabar proklamasi RI yang dibacakan Bung Karno. “Lokasi upacara pengibaran bendera merah putih itu dilaksanakan di lapangan. Makanya lapangan itu disebut Lapangan Merdeka,”urai Aryo, saat dihubungi Pagaralam Pos kemarin.




Namun Aryo beranggapan versi ini masih bisa diperdebatkan. Sebab kata dia, ada versi lain yang menyebutkan bahwa pengibaran bendera merah putih pertamakali di Pagaralam dilaksanakan pada 22 Agustus. Lokasinya pun bukan di Lapangan Merdeka, tapi di depan sebuah toko di kawasan pasar Pagaralam sekarang. Adapun versi terakhir lanjut Aryo, terkait dengan kedatangan Bung Karno. Kemungkinan besar, Bung Karno datang untuk meresmikan penamaan Lapangan Merdeka tersebut.




Agus, salahseorang pemerhati Budaya Besemah tak menampik bila penamaan Lapangan Merdeka terkait dengan kedatangan Bung Karno. Mungkin karena ada faktor Bung Karno inilah kata dia, yang membuat rezim Orde Baru mengganti nama lapangan tersebut. “Dari Lapangan Merdeka menjadi Lapangan Ahmad Yani,”tutur Agus, saat dihubungi Pagaralam Pos kemarin.



Kembali Merdeka!

TIAP kali mendengar nama Alun-alun Merdeka, Satarudin Tjik Olah selalu mengerinyitkan kening. Anggota Lembaga Adat besemah ini sangat asing dengan nama tersebut. Yang dia kenal adalah Lapangan Merdeka. “Alun-alun itu tempat beghusek. Beda dengan lapangan. Jadi jangan disamakan,”ujar Satar. Walau tak sepakat dengan nama alun-alun, namun Satar mengaku tak bisa berbuat banyak untuk mencegahnya.




Penamaan alun-alun Merdeka juga mengusik seorang Agus. Pemerhati budaya Besemah ini merasa penamaan alun-alun tidak tepat. Untuk itu dia berharap, agar nama alun-alun diganti menjadi seperti semula yakni lapangan. “Lapangan Merdeka, itu yang lebih tepat. Dan itu memiliki sejarah,”terang Agus.




Aryo Arungdinang, seorang pamong Budaya Disbudpar Pagaralam pun demikian. Dia menyatakan, kata alun-alun berkonotasi Jawa bukan besemah. “Saya berharap, agar nama Lapangan Merdeka kembali digunakan. Misalnya saja dalam surat-surat resmi,”ujar Aryo kemarin.




Harapan tiga orang tersebut sebenarnya kini sudah terwujud. Alun-alun Merdeka kini sudah kembali menjadi Lapangan Merdeka. Rangkaian huruf berukuran besar menbentuk nama Lapangan Merdeka dipajangkan besar-besar tepat di muka lapangan yang berhadapan langsung dengan Gedung Juang itu. Satar, Aryo maupun Satar pun menjadi lega. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.