Setulungan ala Besemah untuk Kebaikan Bersama

Suasana gotong-royong pembersihan kompleks TPU Pengandonan

Budaya gotong-royong merupakan salahsatu ciri khas masyarakat Indonesia. Hampir semua daerah di Indonesia memiliki budaya yang bernilai positif ini. Di Besemah pun demikian. Di Besemah, gotong-royong lebih karib disebut dengan setulungan yang bertujuan untuk kebaikan bersama.




JARUM jam belumlah tepat menunjukkan pukul 08.00 WIB, ketika masyarakat Dusun Pengandonan Kelurahan Selibar Kecamatan Pagaralam Utara berkumpul. Mereka berkumpul di tempat pemakaman umum yang berada persis di depan sebuah sekolah dasar negeri. Namun, kedatangan mereka kemarin pagi itu (19/1), bukanlah dalam rangka menguburkan jenazah. Mereka hendak bersama-sama membersihkan TPU itu dari ‘serbuan’ semak dan ilalang.




Menggunakan beragam alat mulai dari pisau, arit, mesin potong rumput, hingga penyemprot herbisida, mereka bahu-bahu membersihkan kompleks kuburan tersebut. Rerumputan maupun ilalang yang sudah dibabas lalu dikumpulkan untuk kemudian dibakar. Asap membumbung tinggi ke udara. Tak begitu lama, proses pembersihan kompleks yang cukup luas itu selesai.




Itulah salahsatu bentuk gotong-royong yang biasa dijumpai di berbagai dusun di Pagaralam. Masih banyak bentuk gotong-royong lainnya. Namun, di besemah, istilah gotong-royong sering disebut dengan “Setulungan,” ucap Satarudin Tjik Olah, dihubungi Pagaralam Pos, kemarin (19/1). Menurut Satar, selain gotong-royong, setulungan juga dapat diartikan sebagai bentuk saling bantu membantu antara satu dengan yang lainnya.




Di Besemah, kata Satar, setulungan mencakup semua lini dan aspek kehidupan. Dia mencontohkan, setulungan dapat dilihat dalam negak ghumah (titik nol pembangunan rumah), persedekahan, bersih-bersih fasilitas umum dan pembuatan jalan menuju areal persawahan atau perkebunan. Semua kegiatan ini dikerjakana bersama-sama sampai selesai. “Tujuan setulungan untuk kepentingan dan kebaikan bersama. Misalkan membersihkan jalan, itu kan untuk kebaikan bersama,”ujarnya. Bersama-sama membantu kehidupan sesama yang membutuhkan juga merupakan bentuk setulungan. Anak-anak yatim dan janda tidak mampu dibatu secara bersama-sama oleh banyak orang.




Satar memastikan, budaya setulungan tersebut hingga saat ini masih hidup dan dijalankan masyarakat Besemah. Kata dia, masyarakat sangat sadar bahwa ini adalah budaya yang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Selain karena tujuannya sangat positif, juga karena ada sanksi sosial bila tidak ikut menjalankannya. “Budaya setulungan ini sudah ada sejak dulu,”ucap Satar.




Pemerhati budaya dan seni Besemah, Asmadi, sepakat bila setulungan memiliki pengertian dan makna yang sama dengan gotong-royong. Setulungan kata Mady, sapaan akrab Asmadi, dapat digunakan ketika akan membersihkan kebun atau sawah. Pemilik kebun atau sawah meminta pertolongan dari orang lain untuk membantunya. Kelak keesokan harinya, pemilik sawah itu gantian dimintai tolong oleh orang yang telah membantunya itu untuk membersihkan sawah atau kebun juga. Proses ini disebut Mady dengan istilah mblas aghi. “Mereka sama-sama saling bantu-membantu,” kata Mady.




Satar maupun Mady sama-sama berharap, agar budaya setulungan ini dapat terus hidup dan dijalankan masyarakat Besemah. Dengan demikian, sebagaimana kata Satar, suasana kehidupan di tengah masyarakat akan terasa lebih harmonis, dan akrab. Sebuah permasalahan pun akan cepat selesai bila dipikirkan dan dicarikan solusi secara bersama-sama pula.

Suasana gotong-royong pembersihan kompleks TPU Pengandonan

Bersama-sama untuk Mencapai Tujuan

PENGERTIAN gotong-royong bisa ditelusuri di berbagai lama di dunia dalam jaringan (Daring). Kesimpulannya praktisnya, gotong-royong merupakan sebuah bentuk tindakan yang dilaksanakan bersama-sama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.




Mengutip laman id.wikipedia.org, gotong royong merupakan istilah Indonesia untuk bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu hasil yang didambakan. Istilah ini berasal dari gotong berarti “bekerja”, dan royong berarti “bersama”. Bersama dengan musyawarah, pantun, Pancasila, hukum adat, ketuhanan, dan kekeluargaan, gotong royong menjadi dasar filsafat Indonesia.




Sementara laman www.spengetahuan.com menjelaskan, dalam ilmu sosial diartikan sebagai salah satu bentuk prinsip kerja sama, saling membantu tanpa imbalan lansung yang diterimanya yang hasilnya untuk kepentingan bersama atau kepentingan umum. Gotong royong merupakan budaya bangsa Indonesia yang dilaksanakan oleh seluruh warga masyarakat sesuai dengan kegiatan masing-masing.




Kemudian definisi dari gotong royong menurut ahli adalah salahsatunya menurut Koentjaraningrat. Budaya gotong royong yang dikenal oleh masyarakat Indonesia dapat dikategorikan ke dalam dua jenis, yakni gotong royong tolong menolong dan gotong royong kerja bakti. Jadi, gotong royong bukan sepenuhnya tentang bekerja bakti, namun dalam bentuk saling tolong menolong juga merupakan salah satu contoh dari budaya gotong royong.




Budaya gotong royong tolong menolong terjadi pada aktivitas pertanian, kegiatan sekitar rumah tangga, kegiatan pesta, kegiatan perayaan, dan pada peristiwa bencana atau kematian. Sedangkan budaya gotong royong kerja bakti biasanya dilakukan untuk mengerjakan sesuatu hal yang sifatnya untuk kepentingan umum, entah yang terjadi atas inisiatif warga atau gotong royong yang dipaksakan.




Sedangkan dalam pandangan ilmu sosial atau sosiologi, gotong royong adalah semangat yang diwujudkan dalam bentuk perilaku atau tindakan individu yang dilakukan tanpa mengharap balasan untuk melakukan sesuatu secara bersama-sama demi kepentingan bersama atau individu tertentu. Gotong royong menjadikan kehidupan manusia Indonesia menjadi lebih berdaya dan sejahtera. Dengan menanamkan sikap mau melakukan gotong royong, berbagai permasalahan kehidupan bersama bisa terpecahkan secara mudah dan murah, demikian halnya dengan kegiatan pembangunan masyarakat. (11)

Suasana gotong-royong pembersihan kompleks TPU Pengandonan

You can leave a response, or trackback from your own site.