Hikayat Dempoee Ryokan, Penginapan di Zaman Penjajahan

Foto-foto: Dok/Pagaralam Pos
TAK BERSISA: Jalan Kapten Sanaf membelah kawasan Dempoe Reoakan Kecamatan Pagaralam Utara. Di sinilah dulu terdapat bangunan semacam penginapan yang dibangun Belanda.

Nama Dempoe Reokan rupanya tak ada hubungannya dengan kesenian reok-meskipun kedengarannya sama. Nama ini erat berhubungan dengan sejarah penjajahan Belanda dan Jepang.




BEGITU mendengar nama Dempoe Reokan, Satarudin Tjik Olah laksana kembali ke masa lampau persisnya di masa penjajahan kolonial Belanda. Belum lekang di ingatan Satar bangunan yang dibuat di zaman Belanda itu. “Namanya Dempoee Ryokan,”ujar Satar saat ditemui Pagaralam Pos di kediamannya kemarin (26/1).




Menurut Satar, Dempoe Ryokan merupakan tempat beristirahat para pejabat penting di pemerintahan kolonial Belanda. Karena itu tak sembarang orang bisa masuk ke sana. “Dempoe Ryokan spesial untuk gubernur jendral, gubernur, residen, sekurang-kurangnya asisten residen,”ujar pensiunan pegawai negeri sipil yang umurnya sudah lebih dari 70 tahun ini.




Namun kata ‘ryokan’ di belakang ‘Dempoee’ tidak identitik dengan Bahasa Belanda. Kata ini lebih cocok dengan Bahasa Jepang. Mengutip laman wikipedia.org, ‘ryokan’ berasal dari Bahasa Jepang yang berarti penginapan yang memiliki arsitektur bergaya Jepang. Adapun ‘Dempoee’ jelas berasal dari Bahasa Indonesia yang merupakan nama untuk sebuah gunung di Pagaralam. Kata ‘Dempoee’ dilafalkan dengan Dempu. Dengan demikian Dempoe Ryokan bila diartikan menjadi ‘Penginapan Dempo’ atau ‘Peristirahatan Dempo’ dan sebangsanya. “Kalau istilah sekarang, Hotel Dempo,”ujar Ahmad Bastari Suan, saat dihubungi Pagaralam Pos.




Satar tak menampik nama ‘ryokan’ tersebut lebih identik dengan Bahasa Jepang. Dia sendiri mengaku sudah lupa sejak kapan nama tersebut melekat di bangunan itu. Yang pasti kata dia, bahwa Dempoe Ryokan di bangun di zaman Belanda. ‘Dempoe Ryoken’ dibangun perusahaan-perusahaan perkebunan asing yang ada di Pagaralam atas perintah Belanda. “Bentuknya rumah limas khas Belanda yang lantai dan dindingnya serta tiangnya terbuat dari kayu. Memiliki halaman yang luas dan taman,”ucap Satar menggambarkan bentuk bangunan ‘Dempoe Ryokan’.




Mengenai nama penginapan ini, Aryo Arungdinang, Pamong Budaya di Dinas Pendidikan dan Kebudayan Kota Pagaralam punya pendapat lain. Kata Aryo, nama ‘Dempoe Ryokan’ baru diperkenalkan ketika penjajah Jepang masuk ke Pagaralam. “Mereka (Jepang) mengambil-alih semua aset yang dimiliki Belanda, termasuk penginapan itu,”ujar Aryo saat dihubungi Pagaralam Pos kemarin.




Sebelum Jepang masuk, Aryo melanjutkan, penginapan ataupun peristirahatan tersebut memiliki nama khas Belanda. Sayang, Aryo mengaku sudah lupa nama Belanda untuk peristirahatan tersebut. “Yang pasti bukan Dempoe Ryokan. Belanda punya nama tersendiri,”katanya.




Soal bentuk bangunan, Aryo punya pendapat yang agak berbeda dengan Satar. Kata dia,
penginapan tersebut mirip sebuah barak yang bangunannya memanjang seperti bedeng. Aryo menduga, penginapan ini mulai dibangun sekitar tahun 1800-an. Sementara Ahmad Bastari Suan mengaku kurang tahu persis sejak kapan ‘Dempo Ryokan’ dibangun.

Foto-foto: Dok/Pagaralam Pos
TAK BERSISA: Jalan Kapten Sanaf membelah kawasan Dempoe Reoakan Kecamatan Pagaralam Utara. Di sinilah dulu terdapat bangunan semacam penginapan yang dibangun Belanda.

Yang Tersisa hanya Nama
Kawasan yang ‘dibelah’ jalan Kapten Sanaf itu nyaris tak menunjukkan sebuah ciri lokasi yang dulunya pernah terdapat bangunan-bangunan Belanda. Kawasan yang berada di pusat kota ini sekarang ‘disesaki’ bangunan modern seperti gedung sekolah, rumah dan toko. Bahkan di seberang terdapat sebuah gedung bank. Di dekat kawasan inilah menurut Satar, Dempoee Ryoken dulu berdiri tegak. “Kalau sekarang, tidak ada lagi,”kata dia.




Sebab Satar melanjutkan, pada 1949, pejuang kemerdekaan membakar perumahan tersebut sampai tak tersisa lagi. Saat itu, seingat Satar, dirinya berusia sekitar 12 tahun. “Kalau tidak salah ingat, kebakarannya malam hari,”kata dia mengenang. Jangankan penginapan, rumah sakit sampai perkebunan milik perusahaan Belanda juga dibakar. Ini dikenal sebuah aksi bumi-hangus.




Aryo pun mengakui aksi bumi hangus itu membuat bangunan Dempoe Ryokan menjadi sulit terlacak lagi. Tapi, dia menyebutkan, di beberapa titik bangunan, sisa-sisa bangunan masih dapat dilihat. “Tanya saja orang-orangtua di sekitar sana, pasti tahu,”kata dia,




Yang tersisa dari Dempoe Ryokan yang sampai dengan saat ini adalah nama. Ya, Dempoe Ryokan ‘dipelesetkan’ menjadi Dempo Reokan. Kadangkala masyarakat Pagaralam menyingkatnya menjadi ‘Dempor’. Mungkin hal ini, ujar Satar karena “Jeme kite tak bisa melafalkan kata ryokan. Jadi, disebutnya reokan,”kata dia.

Foto-foto: Dok/Pagaralam Pos
TAK BERSISA: Jalan Kapten Sanaf membelah kawasan Dempoe Reoakan Kecamatan Pagaralam Utara. Di sinilah dulu terdapat bangunan semacam penginapan yang dibangun Belanda.

Beda Jabatan, Beda Tempat

BILA Dempoe Ryokan diperuntukkan untuk kalangan menengah ke atas, lain halnya peristirahatan untuk kalangan ke bawah. Kata Satar, peristirahatan bagi pegawai Belanda golongan rendah bukan di Dempo Ryokan. “Ada di tempat lain . Kalau sekarang lokasinya antara SDN 7 dan SDN 2. Bentuknya seperti bedeng panjang,” ucapnya.




Tempat peristirahatan untuk pegawai pribumi lain lagi. Bagi pegawai pribumi, disediakan tempat peristirahatan. Satar lupa bentuknya tapi yang pasti tak semewah tempat peristirahatan pejabat tinggi. Sedangkan tempat tempat beristirahat bagi kaum saudagar berada di kawasan yang sekarang dikenal dengan sebutan Jembatan Beringin. Dulu, ujar Satar, di sana terdapat sebuah rumah berbentuk limas segi delapan tempat menginap kaum saudagar. Orang-orang Pagaralam lebih mengenalnya dengan sebutan ‘ghumah kembang delapan’. (11)

Gelar Jabatan yang Dipegang Pribumi di masa Penjajah Belanda

-Upas, pesuruh
– Help besteur scriper atau juru tulis pembantu, juru tata usaha pamong praja
-Juru tulis
-Calon klerk, pegawai tamatan smp golongan 3
-Klerk, pegawai menengah
-Hoof klerk, kepala pegawai
-Ajun komish, komisaris
-Komish
-Hoof komish, kepala komisaris
-Besteur ambteenar, pejabat pamong praja
-Asisten demang
-Demang

(Sumber: Satarudin Tjik Olah)

You can leave a response, or trackback from your own site.