Jangan nak Lemak Dek Bemule

Foto-foto: dok/Pagaralam Pos
KOMITMEN: Praktik politik uang jadi sorotan serius tiap pelaksanaan Pilkada karena dianggap mencenderai demokrasi.

*Budaya Besemah Memandang Politik Uang

Selain mencederai demokrasi, praktik politik uang juga bertentangan dengan budaya Besemah. Pantang bagi jeme Besemah ‘njualkah palak’. Beberapa seni tutur Besemah maupun pepatah Besemah sudah mengisyaratkan itu.




KERAMAIAN nampak di Lapangan merdeka, pada Rabu 14 Februari 2018. Di lapangan yang pernah dikunjungi Bung Karno ini, puluhan orang sedang menyaksikan momen penting. Siang itu, pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Pagaralam dimintai komitmennya untuk tidak menggunakan politik uang.




Hasilnya para calon pemimpin itu tegas menolak politik uang. Ini dibuktikan dengan ditandatanganinya deklarasi tolak dan lawan politik uang. Mereka juga sepakat untuk mempolitisasi isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA). Deklarasi ini pun bersejarah karena dilaksanakan untuk pertamakalinya dalam pelaksanaan Pilkada Pagaralam.




Deklarasi itu dianggap penting lantaran Panitia Pengawas Pemilihan (Panwas) mengganggap, dari para calonlah, politik bersih dapat dimulai. Tidak ada politik uang diharapkan pilkada berjalan jujur. “Politik uang mencederai demokrasi,” ujar Ketua Panwas Kota Pagaralam, Ihwan Nopri SE ketika membacakan poin-poin deklarasi.




“Oh, itu bukan budaye kite,” ujar Satarudin Tjik Olah. “Jeme Besemah pantang ‘njualkah palak’,”tambah lelaki yang kini berumur lebih dari 60 tahun ini, ketika ditemui Pagaralam Pos, pada Jum’at pekan lalu (16/3). Siang itu, Pagaralam Pos meminta komentarnya selaku tokoh adat Besemah perihal praktik politik uang yang berujung dengan transaksi pembelian suara.




Pendapat yang sama dilontarkan Asmadi. Pemerhati budaya Besemah ini menyatakan, politik uang bertolak belakang dengan budaya Besemah. Jeme Besemah diakui Asmadi, memiliki harga diri yang tinggi. Karena itulah, pantang suaranya dibeli. Lebih jauh, Mady Lani-sapaan akrab Asmadi- bahkan menyebutkan, politik uang sebagai budaya impor yang dibawa oleh orang luar. “Besemah tak mengenal yang namanya politik uang,”ketika dimintai pendapatnya lewat sambungan telepon seluler kemarin (23/2).




Menurut Mady, politik uang mencerminkan sikap yang tak berusaha keras, cenderung inginnya praktis, instan. Padahal ujar Mady, menjadi seorang pemimpin itu tak semudah membalikkan telapak tangan. “Jangan nak lemak dek bemule,”, ucap Mady mengutip salahsatu pepatah Besemah baghi (lama). Pepatah ini diakui Mady, mengajarkan bahwa semua hal butuh proses yang tidak lama. Karena itu, Mady melanjutkan, bila ingin jadi pemimpin, sedari lama sudah mempersiapkan segala sesuatunya.




Selaku budayawan, Mady juga mengingatkan bahwa menjadi pemimpin itu bukan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok. Menjadi pemimpin, kata dia, memiliki tanggung jawab yang besar. “Bukan mudah mimpin negeri, semut tekurung nak dijerambai,” ujar Mady mengutip bunyi salahsatu syair dalam Guritan Raden Suane (GRS).




Dijelaskannya, syair GRS tersebut memberikan isyarat bahwa menjadi pemimpin tidaklah mudah. Pemimpin bekerja untuk mengayomi orang banyak. Maka, Mady melanjutkan, bila sudah ada niat untuk ‘mbeli suaghe’ (membeli suara), tandanya punya tujuan yang kurang bagus. “Budaya yang baik dilahirkan oleh niat yang baik,” ujarnya.




Selaku budayawan, Mady mengakui, juga memiliki peran untuk menyadarkan masyarakat agar tidak terpengaruh dengan bujuk rayu yang mengandalkan uang. Budaya diharapkan dapat jadi tameng dari ‘serangan’ politik uang. Kendati ujar Mady, kesadaran itu kembali dengan pribadi masing-masing. Yang jelas, dia kembali mengutip pepatah Besemah yang berbunyi: “Kalu nak kaye, kekaghkah kukut,”.

Pantun untuk Pemimpin

BEBERAPA sastra tutur Besemah memberikan sindiran untuk para pemimpin yang tidak memperhatikan rakyatnya. Dalam pantun ini termuat bahasa kekecewaaan dari rakyat kepada pemimpinnya yang sudah diberikan kepercayaan berupa pangkat dan jabatan serta harta. Baca saja pantun berbahasa Besemah di bawah ini:

Dusun kami jerambah patah
Bandu agung jeramba bila
Ye beduit banyak ye bebapangkat lah katah
Besemah masih lukinilah

Juga pantun ini:

Alangkah panjang janggut kiaji
Ambek sebebak dibuat jambak
Alangkah malang nasib kami
Ikan dipais masih melumpat

Mady Lani menjelaskan, rakyat begitu berharap banyak dengan pemimpin yang dipilihnya. Namun apa daya, harapan itu tak berujung kenyataan. Pada akhirnya rakyat kecewa berat. “Bayangkan saja. Ikan yang sudah dimasak dengan cara dipais, ternyata masih bisa melompat. Ini gambaran harapan tak sesuai kenyataan,”ujarnya.




Jeritan Rakyat
Dusun kami jerambah patah
Bandu agung jeramba bilah
Ye beduit banyak ye bepangkat lah katah
Besemah masih lukinilah….
(sumber: Mady Lani)

You can leave a response, or trackback from your own site.