Jangan Ngotori Ayek Ulu Tulung, Kele Kebendun!

*Menjaga Hubungan Antara Manusia dengan Lingkungan

PAGARALAM POS, Pagaralam– Adat istiadat di Besemah rupanya tidak hanya mengatur hubungan antar sesama manusia saja. Adat istiadat Besemah juga mengatur hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya. Meskipun tak tertulis, sanksi bagi para pelanggar aturan ini sangatlah berat.




Anggota Lembaga Adat Besemah Satarudin Tjik Olah mengatakan, adat istiadat Besemah mengatur hubungan antara manusia dengan manusia sekaligus dengan lingkungannya.Adat istiadat yang mengatur hubungan manusia dengan lingkungan ini, dicontohkan Satar, adanya larangan mengotori ayek ulu tulung (sumber mata air). “Mengeringkan ayek ulu tulung itu tidak boleh. Termasuk menebas pepohonan di sekitarnya,”ujar Satar, ketika ditemui Pagaralam Pos di kediamannya kemarin (16/2).




Dijelaskan Satar, larangan tersebut bertujuan untuk menjaga ketersediaan pasokan air bagi masyarakat banyak. Bila bagian hulu saja sudah rusak, maka bagian hilir akan kena imbas seperti kekeringan. Karena itulah, ekosistem di ayek ulu tulung, harus selalu dijaga, jangan sampai rusak. Selain berimbas dengan masyarakat banyak, orang yang melanggar adat ini kata Satar, biasanya akan langsung kena sanksi.“Kebendun. Bentuknya seperti ditinggalkan oleh orang-orang yang disayangi, atau bahkan pacak gile,”ujar Satar mengenai sanksi bagi pelanggar adat istiadat.




Sanksi lain yang mengancam pelanggar adat istiadat-termasuk merusak ayek ulu tulung- adalah tulahan atau penyakit ringan. Kemudian pemali yang berbentuk hasil panen yang tidak bagus. Sanksi yang paling berat ujar Satar adalah mentarang ini merupakan sanksi yang berbentuk hidup yang sangat susah. Penerima sanksi ini biasanya jarang menerima kemudahan-kemudahan. “Ketika mati, dide diterime bumi. Di dalam kubur gerintak-gerintungan,”ucapnya.




Memang, diakui Satar, adat dan sanksi ini tidak tertulis. Namun, kata dia, aturan dan sanksi ini sangat dipercaya masyarakat. Sebabnya, adat ini dipercaya sumbernya berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa yang dalam istilah Besemah disebut ugha kelam. “Tapi ini (adat istiadat) bukan kepercayaan. Sekumpulan peraturan,”kata dia memberikan penjelasan.Sampai sekarang adat tersebut diyakini Satar, masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat Besemah.




Ditambahkan Satar, adanya adat istiadat yang mengatur hubungan antara manusia dengan lingkungan tersebut, secara tidak langsung telah membantu upaya Pemerintah dalam menjaga kelestarian alam. Dengan demikian, antara adat istiadat dan peraturan pemerintah dapat seiring berjalan sekaligus melengkapi.

Mengatur Hubungan Manusia dengan Manusia

ADAPUN adat istiadat Besemah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia juga sangat banyak. Satar menyebutkan, menyantuni anak yatim piatu, menggotong-royongi gawehan kerbai jande, merupakan bentuk adat istiadat yang mengatur hubungan manusia dengan manusia. Selanjutnya ada juga adat yang mengatur tata kerama memanggil orang yang lebih tua apalagi itu adalah ayah, ibu maupun kakek dan nenek. “Tidak diperkenankan memanggil orangtua dengan menyebutkan namanya,”ujar dia.




Pelanggaran terhadap adat itu pun akan terancam kena sanksi yang berat, mulai dari kebendun, tulahan, pemali, dan mentarang. Karena itu Satar mewanti-wanti, jangan sampai adat tersebut-meskipun tak tertulis- dilanggar. Dia berharap, adat istiadat Besemah dapat dijaga agar jangan sampai hilang.




Sementara itu, Pemerhati Budaya Besemah Asmadi menyatakan, banyak sekali aturan atau adat istiadat di Besemah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia. Beberapa adat tersebut dicontohkannya menganai tutughan –tata krama memanggil, singkuh dan sundi. “Yang paling perlu diperhatikan adalah singkuh dan sundi. Sebab, adat ini mulai dilupakan,”ujar Madi Lany-sapaan Asmadi, ketika dihubungi Pagaralam Pos kemarin. Diakui Mady, aturan-aturan ini jarang yang berbentuk tertulis.

Sirap Malam Jangan Ngeluagh

ADAT istiadat Besemah juga berkaitan dengan pergantian waktu. Ini dapat dilihat dengan adanya larangan ke luar rumah ketika sirap malam (jelang Maghrib) dan abe-abe siang (jelang matahari terbit).




Menurut Satar, larangan ini dapat dimaklumi, lantaran saat memasuki waktu Maghrib dan jelang matahari terbit, merupakan saat tumbuh-tumbuhan mengeluarkan gas karbon dioksida (CO2). Gas ini tidak baik untuk kesehatan tubuh manusia. “Makanya orangtua-orangtua dulu sering bilang, jangan ke luar rumah saat sirap malam,”ujar Satar. Selain itu, saat tengaghi kuning-ketika posisi matahari berada persis di atas kepala- diharuskan untuk segera menghentikan aktivitas di luar rumah. Bila sedang berada di kebun maupun sawah, segeralah beristirahat sebentar. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.