Diperkenalkan Belanda, Menopang Hidup Hingga Kini

Foto: Dok/Pagaralam Pos
BANGGA: Kedai Asmara bertekad untuk memperkenalkan kopi robusta asal Pagaralam. Kedai yang beralamat di kawasan Swakarya ini kerab didatangi para penikmat kopi.

*Hikayat Kopi Robusta Besemah

Andai penjajah Belanda tak datang mungkin kini masyarakat Pagaralam tak akan mengenal kopi robusta. Bahkan karena kopilah sebagian besar masyarakat Pagaralam dapat hidup.




AHMAD Rajasa begitu mencintai kopi robusta Pagaralam. Dia menggeleng ketika ditawari untuk menjual kopi robusta dari daerah lain. Karena itu, di kedai kopi miliknya yang dinamai Asmara, lelaki berumur 30 tahun ini hanya menjual kopi robusta Pagaralam saja. “Kami ingin menonjolkan produk sendiri,”ucapnya.




Siang kemarin (6/4), di Kedai Kopi Asmara, Raja demikian sapaan akrabnya, nampak cukup sibuk. Tangannya sibuk meracik kopi bua para konsumennya. Maklum, di kedai yang berada di depan kawasan Swakarya ini, selain sebagai pemilik, Raja bertugas sebagai peracik. Di sebuah bangku kayu panjang, dia meminta Pagaralam Pos untuk duduk sebentar sampai tugasnya kelar.




Di sebuah etalase kaca yang berada dekat dengan meja tinggi panjang itu, terdapat aneka rupa kopi bubuk dalam kemasan. Semuanya adalah kopi robusta Pagaralam. Ini terlihat dari merek yang tertera dalam kemasan plastik warna-warni itu. Menurut Raja, secara kualitas kopi robusta di Pagaralam tidak kalah dengan daerah lain. Untuk itu,kata dia,tidak ada salahnya memperkenalkannya lebih luas, salahsatunya lewat kedai kopi.




Apalagi Raja melanjutkan, saat ini bisnis kedai kopi di Pagaralam tengah menjamur. Momentum ini bisa ditangkap untuk mengangkat kopi robusta menjadi lebih terkenal lagi. “Istilah sekarang viral,”ucap lelaki yang hobi memakai topi bundar dan syal terikat di leher ini.




Jika Raja bekerja di sektor hilir, maka warga Pagaralam kebanyakan memilih di sektor hulu yakni mulai dari menanam, merawat, memanen hingga menjual kopi kepada pengepul. Aktivitas ini sudah sudah dilakoni sejak turun-temurun persisnya ketika Belanda menancapkan kakinya di Tanah Besemah.




SIMPANG Padang Karet. Demikianlah masyarakat menamakan kawasan yang dibelah jalan Serma Somad ini. Selain dipadati pemukiman, kawasan ini-terutama di bagian ujung-ditumbuhi batang kopi. Sejauh mata memandang, hanya terlihat rimbunnya kebun kopi. Rupanya dari dulu kawasan ini sudah dikenal sebagai kawasan perkebunan kopi. Adapun yang menanam adalah penjajah kolonial Belanda.




“Padang Karet adalah salahsatu lokasi perkebunan kopi milik Belanda,”ucap pemerhati sejarah dan budaya Besemah Asmadi, ketika ditemui Pagaralam Pos di kediamannya kemarin (6/4).




Dari penelusuran yang dilakukan Mady, Belanda mulai menanam kawasan Padang Karet dengan kopi pada 1922 . Ini setelah sebelumnya Hendrik van Dermak, seorang ilmuwan asal Belanda, melakukan penelitian terhadap tanah di kawasan itu. “Hendrik van Dermak menyatakan, kawasan Padang Karet cocok ditanami kopi jenis robusta,”ucap Mady Lani, nama pena Asmadi.




Sejak saat itulah, kawasan Padang Karet berubah total. Yang semula berupa hutan dan semak belukar disulap menjadi perkebunan kopi robusta. Areal perkebunan ini membentang dari arah barat sampai timur. Jika dilihat kondisi sekarang, menurut Mady, areal perkebunan milik Belanda ini membentang dari kawasan Lantabur sampai tempat pemakaman umum (TPU).




Sayang, tak ada catatan berapa jumlah batang kopi robusta yang ditanam saat itu. Yang jelas, kata Mady, Dua tahun setelah ditanam, perkebunan kopi robustas ini mulai mengeluarkan hasil. Panen perdana dimulai dengan hasil yang menggembirakan. “Produksi kopi mencapai puncaknya pada 1930,”tutur Mady.




Gegap gempitanya perkebunan kopi robusta ini rupanya membuat investor asing tertarik untuk menanamkan modalnya. Untuk pertamakalinya, investor asing yang berasal dari negara-negara selain Belanda masuk ke Pagaralam untuk membangun pabrik. “Di kawasan Jalan Gunung itu ada bekas pabrik pengolahan kopi milik Yahudi Israel,”ucap Refdinal, Pamong Budaya Disdikbud Kota Pagaralam, ketika dihubungi Pagaralam Pos kemarin.




Ketika Belanda angkat kaki di Pagaralam setelah Indonesia menyatakan merdeka, pabrik dan perkebunan kopi robusta itu tak bertuan. Namun, ketika melancarkan agresi militer 1947, Belanda hendak merebut kembali aset-asetnya itu. Sebelum aset itu direbut, pejuang kemerdekaan menerapkan strategi bumi hangus. Kecuali perkebunan, pabrik-pabrik milik asing di Pagaralam dibakar. “Perkebunan kopi itu diambil alih pribumi. Kebanyakan kalangan panggeran dan pesirah,”ujar Refdinal.




Sejak saat itulah, kopi mulai dibudidayakan sendiri oleh masyarakat Pagaralam. Sampai sekarang, sebagian besar areal perkebunan di Pagaralam didominasi kopi robusta. “Kalau kopi arabika memang ada yang menanam, tapi tak banyak,”ucap Hendi Romiko SPd, pemilik rumah industri kopi olahan, ketika ditemui Pagaralam Pos beberapa waktu lalu.




Perkebunan kopi di kawasan Padang Karet sampai sekarang pun memang masih ada. Namun sudah sulit untuk mencari bekas tanaman kopi robusta Belanda. Pengamatan Pagaralam Pos kemarin, kebanyakan kopi robusta yang ditanam di kawasan ini, tak ada perbedaan dengan dusun-dusun lain di Pagaralam. “Kalau Anda menemukan batang kopi robusta yang tinggi besar seperti pohon, itulah peninggalan Belanda,”ucap Mady.

Dijadikan Film Hingga Asian Games

RAJA sebetulnya hendak memutar sebuah film di kedainya hari itu. Namun cepat-cepat rencana itu dibatalkannya. Musababnya, Raja khawatir film itu makin membuat nama kopi Robusta Pagaralam makin tergerus. “Di film itu yang diperkenalkan adalah kopi luar. Kopi robusta Pagaralam tidak masuk. Saya khawatir, yang nonton nanti memiliki kesan bahwa kopi itu adalah satu-satunya yang terbaik,”tutur Raja.




Maka, Raja berencana untuk membuat film yang temanya tak akan jauh dari kopi robusta Pagaralam. Raja berencana, meskipun berdurasi pendek, film tersebut dapat memberikan gambaran tentang kopi robusta Pagaralam. “Mudah-mudahan kopi robusta Pagaralam makin jaya,”katanya berharap.




Selain Raja, usaha untuk memperkenalkan kopi robusta Pagaralam sudah dilakukan para pelaku usaha pengolahan kopi. Hasilnya menurut Mady, sebelas merek kopi bubuk olahan para pelaku usaha Pagaralam dinobatkan sebagai kopi resmi Asian Games. “Salahsatunya Kopi Jeme Kite buatan Arki, seorang warga Dusun Kerinjing,”lanjut Mady.




Selain di Asian Games, Mady menambahkan, baru-baru ini kopi robusta Besemah mendapatkan juara II tingkat nasional dalam sebuah iven kopi. Gelar juara ini kata Mady, didapatkan oleh Salama, seorang warga Dusun Karang Tanding Kabupaten Lahat. “Dalam iven itu, kopi Pagaralam bahkan mengalahkan kopi gayo, Aceh,”kata dia.




Mady menyebut, itu menandakan bahwa secara kualitas, kopi robusta asal Pagaralam tak kalah dengan daerah lain. Dia pun percaya bahwa saat ini, merupakan momentum kebangkitan bagi kopi robusta Pagaralam. “Peran semua pihak, termasuk media, sangat dibutuhkan supaya kopi robusta Pagaralam ini dapat lebih dikenal lagi,”tambah Raja.




Begitulah. Belanda mengawali, masyarakat Pagaralam meneruskannya. Sebuah warisan yang mungkin saja tak pernah ingin diserahkan Belanda. “Selain untuk menjajah. Belanda masuk ke Pagaralam ini memang untuk berdagang,”ujar Refdinal. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.