Kancung Beghete dan Suli Dalam Guritan

Foto: Pidi/Pagaralam Pos
DISKUSI: Kedai Kopi Asmara siap untuk dijadikan tempat bagi anak-anak muda Pagaralam untuk menunjukkan kreativitasnya dalam dunia seni dan budaya.

*Mengingat Kembali Base Besemah Baghi

Hampir semua warga paham dan pandai bercakap-cakap dalam Bahasa Besemah. Tapi, ketika disuruh untuk memahami sekaligus mengucapkan sebuah kata ke dalam bahasa Besemah baghi (lama), belum tentu bisa. Hari-hari ini bahasa Besemah Baghi memang sudah tak terdengar lagi. Perlu upaya untuk mengingatnya kembali.




SATARUDIN Tjik Olah mengingat satu kata yang sering digunakannya puluhan tahun silam ketika masih duduk di bangku Sekolah Rendah-setingkat Sekolah Dasar di zaman sekarang. “Engku,”ujar Satar, saat dijumpai Pagaralam Pos di kediamannya kemarin (9/3). Menurut Satar, engku merupakan sebutan dalam bahasa Besemah baghi yang ditujukan bagi kalangan pendidik kala itu. Di ‘zaman now’, engku nyaris tak terdengar lagi. Engku sudah digantikan dengan sebutan “Guru,”ucap anggota Lembaga Adat Besemah ini menjelaskan.




Engku hanyalah satu dari sekian banyak kata-kata dalam bahasa Besemah baghi yang sudah tak perpakai lagi. Wajar jika banyak orang di masa kini-apalagi generasi milenial-tak paham dengan apalagi mengucapkannya dalam percakapan sehari-hari.Satar sudah membuktikannya sendiri. Beberapa hari lalu, Satar bertanya kepada para mahasiswa yang menemuinya di kantor Lembaga Adat Besemah. Dia menanyakan, dalam Bahasa Besemah, seminar disebut dengan apa. Mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi di Palembang itu, bingung tak tahu menjawab apa. “Ada yang menjawab, seminar dalam Bahasa Besemah disebut dengan perkumpulan,”ujar Satar, lantas tersenyum.




Kepada para mahasiswa itu, Satar menjelaskan bahwa, seminar dalam Bahasa Besemah baghi disebut dengan sasehan. Adapun moderator seminar disebut dengan palak sasehan. Sedangkan narasumber, dalam Bahasa Besemah baghi disebut dengan kancung beghete. “Kancung beghete adalah orang yang memiliki informasi untuk disampaikan kepada orang banyak,”urai Satar. Maka, Satar menyatakan, kancung beghete di masa sekarang sama dengan wartawan. “Tukang penyampai informasi,”ucapnya.




Satar mengamini, Bahasa Besemah baghi sudah hilang dari pergaulan sehari-hari. Tapi tidakhalnya dengan sastra tutur. Kata dia, sastra tutur besemah seperti guritan, rimbai, tadut dan rejung masih memakai Bahasa Besemah. Maka, bila ingin mempelajari Bahasa Besemah baghi, “Bacalah guritan,”kata Satar.




DESA Sukaraja Kabupaten Lahat. Kalender bertarikh di angka tahun 2009 dan bulan keenam ketika Asmadi menyambangi desa yang tak terlalu jauh dari Kota Pagaralam ini. Di desa ini dia menemui salahseorang tokoh guritan: Gatam yang ketika ditemui saat itu berusia 79 tahun. Mady Lani-nama pena Asmadi-datang dengan maksud untuk mewawancarai Gatam tentang guritan. Dari hasil wawancara ini, Mady berhasil mendapatkan salahsatu guritan yang berjudul “Rindang Papan Ngah Lemang Batu”. Ini merupakan guritan yang berisi lebih dari 100 bait. “Tapi, yang saya tulis di sini hanya sekitar 28 bait saja,”ujar Mady, ketika dijumpai Pagaralam Pos, di Kedai Kopi Asmara, kemarin.




Di kedai yang berada di kawasan Swakarya Kecamatan Pagaralam Utara itu Mady menunjukkan guritan ‘Rindang Papan Ngah Lemang Batu’. Dia didampingi owner Kedai Kopi Asmara Ahmad Raja. Oleh Mady, guritan hasil wancaranya dengan Gatam diketik secara rapih dan dijilid menjadi satu bundel bersama dengan biografinya. Kelak, bundel yang cukup tebal ini akan dikirim ke Palembang.




Ketika membaca satu per satu bait dalam guritan Rindang Papan Ngah Batu itu, kening beberapakali dibuat mengerenyit. Ini ketika terbentur dengan kata-kata seperti suli,
jentaghe, ubagh-ubaghan, rap, kehemu, dan lainnya. Ya, inilah kata-kata dalam Bahasa Besemah baghi yang oleh Satar tadi disebutkan memang banyak ‘terserak’ dalam guritan. Dan Mady pun mengakui, kata-kata ini adalah Bahasa Besemah baghi. “Memang sudah jarang dipakai,”ujar Mady.




Karena jarang dipakai, arti dari kata-kata itu diakui Mady jarang diketahui secara seluas.
Toh, bukan Mady namanya kalau tak mampu menjelaskan arti dari kata-kata dalam Bahasa Besemah baghi itu. Jentaghe misalnya menurut Mady adalah sebutan untuk nama burung khas Besemah. Lalu ubagh-ubaghan merupakan sebutan untuk pewarna dari dari kulit kayu. Kemudian rap bisa diartikan sebagai memotong. Sedangkan kehemu sebutan untuk sayang.




Dari Palembang, Dr Suhardi Mukmin, seorang dosen yang pernah meneliti tentang guritan Besemah untuk disertasi juga menyatakan, guritan Besemah banyak memakai Bahasa Besemah baghi. “Sebagian besar masih menggunakan Bahasa Besemah baghi,”ujar Suhardi, ketika dihubungi Pagaralam Pos kemarin. Diakuinya, kata-kata yang memakai Bahasa Besemah baghi dalam guritan cukup sulit untuk diartikan karena sudah jarang dipakai lagi. “Bukan menggunakan Bahasa Besemah seperti yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari seperti sekarang,”ujar Suhardi yang merengkuh gelar doktor dari Universitas Indonesia ini.




Selain guritan, tambah Suhardi, Bahasa Besemah lama juga bisa didapati dalam budaya tutughan (tata cara memanggil). Panggilan-panggilan dalam tutughan ujar dia, banyak menggunakan Bahasa Besemah baghi.

Kamus dan Kurikulum

SUHARDI, Satar dan Mady sepakat bila Bahasa Besemah baghi diperkenalkan kembali. Tujuannya supaya Bahasa Besemah baghi tak semakin terlupakan. Diakui Suhardi, salahsatu cara itu adalah dengan memasukkan perbendaharaan kata dalam Bahasa Besemah baghi ke dalam sebuah kamus. “Dimasukkan ke dalam kurikulum juga bisa. Misalnya dalam muatan lokal Bahasa Besemah. Perbendaharaan kata dalam Bahasa Besemah baghi bisa diperkenalkan kembali,”ujarnya.




Cara lainnya diakui Suhardi lagi adalah melakukan penelitian yang mendalam tentang Bahasa Besemah baghi. Sayangnya diakuinya pula, di kalangan kampus, sangat minim mahasiswa yang memfokuskan penelitiannya pada Bahasa Besemah baghi. “Kebanyakan meneliti sastra Besemah,”kata Suhardi yang kini rutin membimbing mahasiswa program pasca sarjana ini.




Paling tidak, melalui guritan-dan seni sastra Besemah lainnya-Mady sudah berupaya untuk memperkenalkan kembali Bahasa Besemah baghi. Apalagi, kini Mady sudah dapat tempat yang pas untuk memperkenalkan kreativitasnya dalam bidang seni dan budaya yakni Kedai Kopi Asmara. Raja, sang pemilik kedai itu pun menyambut antusias bila ada orang-orang yang ingin menunjukkan kreativitasnya dalam bidang seni dan budaya. “Di Pagaralam ini banyak orang hebat,”ujar Raja. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.