Asal-usul Burung Dinang Kota Pagaralam

Foto-foto: dok/Pagaralam Pos TERAWAT: Bangunan beratap yang disebut sebagai makam puyang Burung Dinang. Makam ini berlokasi di Dusun Tanjung Keling. Foto diabadikan pada Oktober 2016 lalu.

Dua Versi yang Berbeda

Burung Dinang. Siapapun dia yang pasti namanya tetap dikenang sampai sekarang. Sebuah makam di Dusun Tanjung Keling menandai keberadaanya. Tak mudah melacak asal-usulnya.




DUA bangunan beratap seng berdiri berdampingan di tengah rimbunnya pohon bambu di tepi jalan Tanjung Keling-Talang Banan Kelurahan Burung Dinang Kecamatan Dempo Utara. Masing-masing bangunan ini menaungi lantai marmer bewarna putih. Di tengah-tengah dua lantai marmer putih ini menyembul batu warna hitam.




“Masyarakat menyebutnya makam Puyang Burung Dinang. Saya kurang paham yang mana makam itu karena ada dua bangunan,”ucap Franses Jhoniko SE, Lurah Burung Dinang, ketika dihubungi Pagaralam Pos kemarin (4/5).




Yang jelas, menurut Iko-sapaan Franses Jhoniko- makam itu sudah ada di sana sejak dulu. Masyarakat pun kerab datang untuk berziarah di makam ini. “Bangunan makam itu dibuat oleh orang yang sering ziarah ke sana,”ujar Iko.




Burung Dinang memang bukanlah orang sembarangan. Dia disebut sebagai puyang-pendahulu. Toh tak mudah untuk melacak asal-usulnya. Asal-usul Burung Dinang memiliki beberapa versi.




Versi pertama datang dari Asmadi. Pemerhati sejarah dan budaya Besemah ini memperkirakan Burung Dinang berasal dari tanah tinggi Sebakas, kawasan yang terletak di Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan. “Ini saya dapat dari syair-syair guritan lama,”ucap Mady Lani-sapaan akrab Asmadi-ketika dihubungi Pagaralam Pos kemarin.




Mengutip guritan itulah, Mady menyebut, Burung Dinang merupakan salahseorang anak dari Rindang Papan dan Lemang Batu. “Kalau tidak salah, Burung Dinang ini anak bungsu,”ucapnya. Saudara-saudara Burung Dinang ini disebutkan Mady adalah Bujang Beghusik, Bujang Juare, Raden Kumbang, Raden kuning, Anak Dalam, dan Langit Hitam.




Itulah sebabnya, Mady menyebutkan, lantaran memiliki hubungan darah, makam-makam para puyang ini berdekatan. Di dekat makam Puyang Burung Dinang, kata Mady, adalah makam saudaranya sendiri yakni Puyang Anak Dalam. “Dan di depan makam puyang Burung Dinang, itu ada makam Puyang Raden Kuning,”lanjutnya. Tak jauh dari sini, persisnya di atas Air Terjun Keling kata Mady lagi, terdapat makam Puyang Bujang Juare.




Kendati Mady mengakui asal-usul Puyang Burung Dinang hasil penelaahannya ini masih bisa diperdebatkan lagi. Salahsatunya mengenai apakah Burung Dinang ini seorang lelaki atau perempuan. “Kuat dugaan, Burung Dinang ini seorang perempuan. Tapi ini bisa diperdebatkan,”ucapnya.




Versi lain mengenai asal usul Puyang Burung Dinang dilontarkan Saturudin Tjik Olah. Anggota Lembaga Adat Besemah ini memperkirakan, Burung Dinang adalah anak Puyang Serunting Sakti. “Untuk anak ke berapa, saya kurang paham,”ucap Satar, ketika dihubungi kemarin.




Puyang Serunting Sakti sendiri bermakam di bukit Padang Langgar Dusun Pelang Kenidai Kecamatan Dempo Tengah. Sama seperti Burung Dinang, makam Serunting juga dilindungi bangunan beratap serta diteduhi pohon bambu.




Mengapa Puyang Burung Dinang bisa bermakam di Tanjung Keling? Satar tak bisa memastikan. Ia memperkirakan, itu kemungkinan karena Burung Dinang memiliki semacam ‘wilayah kekuasaan’ di kawasan Tanjung Keling.




Penjelasan Satar sama dengan jurai tue Semidang Suku Ghozali. Menurut Ghozali, dari istri pertamanya yang konon merupakan bidadari, Serunting Sakti memperoleh seorang anak laki-laki. “Namanya Burung Bhinang,”ucap Ghozali, ketika menziarahi makam Puyang Serunting Sakti pada akhir Desember 2017 lalu.




Adapun istri keduanya-adik dari seorang tokoh bernama Riye Tabing-Serunting mendapatkan enam orang anak. Dengan demikian, total anak Serunting Sakti berjumlah tujuh orang. “Tujuh orang inilah yang njadikah jagat. Hijrah ke mana-mana dan akhirnya membuat pemukiman baru,” lanjut Ghozali ketika itu.




Apapun versi tentang asal usulnya, yang jelas Puyang Burung Dinang masih dikenang sampai kini. Selain keberadaan makam, nama puyang ini juga disematkan sebagai nama kelurahan. Kelurahan Burung Dinang namanya. Kelurahan ini mencakup tiga dusun yakni Talang Darat, Tanjung Keling dan Tanjung Taring.

Ribuan Makam di Pagaralam

ARYO Arungdinang belum bisa menyebutkan jumlah makam puyang yang ‘terserak’ di seluruh Kota Pagaralam. Yang pasti ujar Aryo, makam puyang di Pagaralam ini sangatlah banyak. “Mencapai ribuan,”ucap Pamong Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pagaralam ini ketika dihubungi Pagaralam Pos kemarin.




Karenanya diakui Aryo, makam Puyang Burung Dinang hanyalah satu di antara sekian banyak makam puyang di Pagaralam. Makam-makam puyang lain katanya, bisa dijumpai di sejumlah dusun seperti di Keban Agung, Karang Dalo, dan Nanding. Kebanyakan makam ini telah dibuatkan bangunan beratap. “Dulu kami pernah melakukan pendataan,”ujarnya.




Apakah makam ini adalah tempat bersemayamnya jenazah para puyang itu? Aryo belum bisa memastikannya juga. Kata dia, untuk membuktikan kebenaran sebuah makam itu adalah kuburan atau bukan, perlu diteliti secara ilmiah. Dengan penelitian ilmiah, sebuah pertanyaan bisa dijawab dengan logis.




Namun diakuinya, bisa saja makam tersebut sebenarnya dalah tapak atau petilasan semata. “Anggapan masyarakat kan bisa berbeda. Padahal itu adalah sebuah menhir, disebut makam,”tutur Aryo. Kalaupun itu adalah kuburan, Aryo menduga, bisa jadi itu merupakan pengaruh dari ajaran Islam. (11)

Beberapa Lokasi Makam Para Puyang
•Makam Puyang Serambi, dipindahkan dari dusun Karang Anyar ke dusun Serambi
•Makam Puyang Mangku Anom, dipindahkan dari kawasan Tran Muara Dua ke dusun Muara Siban, Kedaton, Pagar Gunung.
•Makam Puyang Atung Bungsu, dipindahkan dari Muara Selabung ke Benua Keling Lama
•Makam Puyang Panggar Besi, dipindahkan dari Lubuk Sele ke Benteng Tanjung Sakti
•Makam Puyang Macan Jalalangan, dipindahkan ke Dusun Tangge Napal, Jarai
•Makam Puyang Tengalaman, dipindahkan dari Nganggiran Lame ke dusun Karang Dalo
•Makam Puyang Serunting Sakti, dipindahkan dari tepi Danau Ranau ke bukit Padang Langgar, Pelang Kenidai.

(Sumber: hasil wawancara dengan Satarrudin Tjik Olah)

You can leave a response, or trackback from your own site.