Tradisi Ziarah Kubur Jelang Ramadhan

Foto-foto: Dok/Pagaralam Pos
INGAT KEMATIAN : TPU Simpang Padang Karet diramaikan para peziarah kemarin. Mereka menziarahi anggota keluarganya yang kuburnya ada di TPU ini.

Berdo’a Seraya Mengingat Kematian

Ziarah kubur sudah menjadi semacam tradisi yang mengakar di tengah masyarakat. Jelang ramadhan, pelaksanaan tradisi ini semakin kentara. Mendoa’kan yang telah meninggal, seraya mengingat kematian.




SATU per satu peziarah mengambil seikat dari sekian banyak sapu lidi yang bertumpuk di dalam kompleks Tempat Pemakaman Umum (TPU) Simpang Padang Karet. Mereka juga mengambil botol plastik yang berada di dalam keranjang. Botol plastik ini kemudian diisi dengan air yang berasal dari gentong di samping pintu gerbang TPU.




Mereka kemudian berjalan pelan di antara kuburan yang ‘berdesak-desakan’ di TPU ini. Di sebuah sebuah kuburan yang lokasinya agak di tengah, beberapa peziarah yang terdiri dari perempuan dan lelaki itu menghentikan langkahnya. Sebagian lagi melanjutkan langkah. Dengan sapu ikat lidi di tangan, peziarah itu mulai membersihkan kuburan yang dikunjunginya.




Setelah berdoa dengan khusyu’, air yang berada di dalam botol plastik disiramkan perlahan-lahan ke atas kuburan. Tak lupa para peziarah menaburkan kembang yang sebelumnya dibeli di depan TPU dengan harga Rp 5 ribu per bungkus-bungkusan berupa daun pisang.




Halimah-salahsatu peziarah- mengaku sengaja datang untuk berziarah karena sebentar lagi mau puasa. Ia menziarahi kubur anaknya. “Setiap mau puasa, saya pasti datang ke sini untuk berziarah. Juga ketika lebaran,”ujar warga yang bermukim di kawasan belakang SMAN 1 Pagaralam ini, ketika dijumpai Pagaralam Pos beberapa saat setelah berziarah.




Selain mendoa’kan anaknya, menurut Halimah dengan berziarah, secara tidak langsung akan mengingatkan kematian. Bahwa ujar dia, yang hidup pasti akan menemui kematian. “Apalagi umur saya sekarang sudah 75 tahun,” ujarnya seraya menambahkan, meskipun tidak berziarah ke kubur, do’a untuk anak-anaknya selalu didaraskannya setiap saat.




Sedari pagi hingga siang kemarin (11/5), kompleks TPU Simpang Padang Karet memang ramai dikunjungi peziarah. Para peziarah, kata Endang-istri juru kunci TPU Simpang Padang Karet- datang sejak pagi. “Kalau sampai siang ini (kemarin), rasanya sampai ratusan peziarah,” ucap Endang.




Menurut Endang, ramainya para peziarah ini karena sudah mendekati bulan puasa. Sesuai tradisi, kata dia, jelang puasa, orang-orang akan datang untuk menziarahi kubur anggota keluarganya. “Satu hari sebelum puasa, rasanya masih banyak yang datang untuk berziarah,”katanya.




Turiman (69), salahseorang petugas kebersihan TPU Padang Karet juga mengatakan yang sama. Kata dia, menjelang puasa, jumlah peziarah yang datang ke TPU Padang Karet akan meningkat pesat ketimbang hari biasa. “Juga saat lebaran. Itu pasti banyak yang datang,”ucapnya sembari menyebutkan, kebiasaan ini sudah berlangsung sejak lama.




Yang berziarah pun, Endang menambahkan, bukan hanya berasal dari dalam Pagaralam. Ia menyebutkan, peziarah bahkan ada yang datang dari luar Pagaralam seperti Tanjung Enim, Manna Bengkulu Selatan dan berbagai daerah lainnya.




Salahsatu peziarah yang berasal dari luar Pagaralam itu adalah Hj Rosdiana (68). Ketika ditemui Pagaralam Pos, Rosdiana mengaku datang dari Jakarta. “Tapi saya asli Pagaralam. Hanya tinggalnya saja di Pondok Cabe, Jakarta,”ucap pensiunan guru SMP negeri di ibukota ini.




Datang dari jauh yang dituju Rosdiana bukan lain adalah kuburan ibu dan bapaknya yang berada di kompleks TPU Padang Karet. Rosdiana mengatakan, sesibuk apapun, jika sudah mendekati bulan puasa akan balek dusun guna menziarahi kubur orangtuanya itu. Sama dengan Halimah, Rosdiana menjelaskan, berziarah bertujuan untuk mendoa’kan orang yang telah mendahului. Juga sekaligus untuk mengingatkan diri sendiri akan kematian.




Di dalam loket travel Gautama, Haidir Murni SH-pemilik travel- nampak berbicang-bincang dengan tiga orang kenalan baiknya. Kamis siang itu (10/5), Haidir akan melepas tiga kenalannya tersebut untuk berangkat ke Palembang. “Mereka mampir ke sini sehabis ke Tanjung Sakti untuk berziarah. Ya karena sudah dekat puasa,”ucap Haidir.



Tradisi yang Mengakar
Satarudin Tjik Olah (70) tak heran dengan ramainya warga Pagaralam mendatangi TPU maupun kompleks pekuburan lainnya untuk melaksanakan ziarah. Menurut anggota Lembaga Adat Besemah ini, ziarah kubur jelang ramadan merupakan sebuah tradisi yang sudah ada sejak lama. “Ziarah ini menyangkut kepercayaan,”ucap Satar, ketika dihubungi Pagaralam Pos kemarin.




Dalam tradisi ini, Satar melanjutkan, peziarah datang untuk mendoa’kan yang telah meninggal dunia sekaligus untuk mengingatkan akan kematian. Meskipun demikian, Satar menambahkan, sesungguhnya ziarah bisa dilakukan kapan saja, tak mesti harus menjelang puasa. “Tapi ini tergantung dengan kepercayaan orang masing-masing,”katanya lagi.

Setelah membayar makanan yang dibelinya dari warung milik Endang, Halimah mengajak cucunya untuk ke luar dari TPU Padang Karet. Di luar gerbang, seorang tukang ojek bergegas menawarkan jasa angkutan.

Nyucughkah Ayek dan Kembang

ENDANG nampak sibuk benar siang kemarin. Sedari pagi, istri juru kunci TPU Padang Karet ini terus menerus melayani peziarah yang hendak membeli kembang yang dijualnya di depan kompleks. Tak heran, dari sekitar 100 bungkus kembang, yang sudah laku terjual mencapai separohnya.




“Saya jualnya dalam bungkusan. Di dalam bungkusan itu ada kembang mawar, bougenvile dan lain-lain,”kata Halimah, ketika ditemui Pagaralam Pos. Satu bungkus kembang dibanderol Endang dengan harga Rp 5 ribu. Endang menganggap jualannya kali ini lebih laris ketimbang hari-hari biasa.




Kembang memang sudah menjadi seperti barang ‘wajib’ dibawa ketika seseorang datang untuk berziarah. Karenanya Endang memanfaatkannya sebagai peluang bisnis. Kembang biasanya ditabur di atas kuburan. Inilah yang setidaknya terlihat di kompleks TPU Padang Karet.




Namun Asmadi menilai, penaburan kembang saat prosesi ziarah bukanlah tradisi masyarakat Besemah. Menurut pemerhati budaya Besemah ini, penaburan kembang di atas kuburan merupakan pengaruh tradisi masyarakat Jawa. “Kalau jeme Besemah, tak pakai kembang. Cukup nyugugkah ayek (menyiramkan air),” ucap Mady Lani-nama pena Asmadi-ketika dimintai pendapatnya kemarin.




Meskipun dianggap sebagai pengaruh dari luar, Mady menambahkan, penaburan kembang di atas kubur tersebut tak perlu diperdebatkan. Toh, ujar dia, tujuan dari ziarah adalah untuk mendo’akan orang yang telah meninggal dunia sekaligus mengingat-ingat kematian. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.