Belanju Riaye

Foto: dok/Pagaralam Pos
MENUJU TUJUAN: Bus merupakan moda transportasi yang banyak dipilih masyarakat untuk mudik ke tempat asalnya. Foto diabadikan beberapa tahun lalu.

Pererat Silaturahim, Kembali ke Asal

Istilah mudik semakin sering terdengar bila sudah mendekati hari Raya Idul Fitri. Istilah mudik merujuk pada aktivitas orang perantauan kembali tanah kelahirannya. Di Besemah, mudik lebih dikenal dengan istilah belanju.




BEBERAPA hari terakhir Haidir Murni SH nampak lebih sibuk dari biasanya. Penumpang yang naik angkutan miliknya membludak. Para penumpang yang berasal dari Lampung, Bengkulu dan Palembang ini memiliki satu tujuan yakni Pagaralam. “Orang Pagaralam banyak yang merantau di Lampung. Kalau mau lebaran, mereka mudik ke Pagaralam,”ucap Haidir, ketika ditemui Pagaralam Pos di loket travel Gautama kemarin (8/6).




Menurut Haidir, mudik jelang lebaran sudah menjadi kebiasaan tiap tahun. Karenanya dia mengaku tak terlalu terkejut dengan adanya peningkatan volume penumpang yang mudik ke Pagaralam. “Tapi, jumlah pemudik tahun ini lebih sedikit ketimbang tahun lalu,”ucap Ketua Organda Pagaralam ini. Haidir sendiri bila ada waktu, akan mudik ke asalnya yakni Lampung.




Mudik memang erat kaitannya dengan pulang kampung. Menurut Sejarawan Sumatera Selatan, mudik adalah istilah bagi orang pulang ke tanah kelahirannya. Adapun tujuan mudik dikatakannya bermacam-macam, tergantung dengan individu masing-masing. “Ada yang mudik karena rindu dengan keluarga dan kampung. Ada juga yang mudik karena mau lebaran seperti sekarang ini,”tutur Bastari ketika dimintai pendapatnya kemarin (8/6).




Namun Bastari menyatakan, istilah mudik tidak sepenuhnya tepat dilekatkan pada aktivitas pulang kampung. Mudik, jelas dia berarti menuju udik (hulu). Karenanya, ia mencontohkan, orang dari Palembang pulang ke Pagaralam sangat tepat disebut sebagai mudik. Sebab, Pagaralam adalah daerah hulu, sedangkan Palembang dari hilir. “Kalau orang Pagaralam mau ke Palembang, ini tidak tepat dikatakan mudik. Semestinya disebut milir artinya ke hilir,”ucap penulis buku tentang sejarah besemah ini.




Karena itu Bastari mengusulkan satu istilah yang lebih tepat ketimbang mudik yakni belanju. Menurut Bastari belanju ialah aktivitas orang rantau yang pulang ke tanah kelahiran atau asalnya. Karenanya, istilah ini bisa dipakai oleh orang yang mau pergi ke mana saja. Belanju juga tak memiliki lawan istilah sebagaimana mudik dengan milirnya. “Bila bertujuan untuk merayakan hari raya, maka disebutlah dengan istilah belanju riaye,”ucapnya.




Dulu istilah belanju masih dipakai masyarakat Besemah. Bastari terkenang dengan masa lalunya. Suatu ketika dia pulang ke Pagaralam dan ditanyai oleh keluarganya. “Sughang belanju (pulangnya sendirian saja?),”kata Bastari mengenang sapaan seorang keluarganya puluhan tahun lalu itu.




Adapun kini, istilah belanju cukup jarang diucapkan warga Pagaralam. Bastari menduga ini terjadi karena warga Pagaralam biasanya berusaha mencoba menyerap istilah baru. Ini membuat istilah seperti belanju lama-lama dilupakan. Kasus ini menurut Bastari sama dengan penggunaan ngabuburit. Kata Bastari, istilah ngabuburit lebih populer ketimbang nunggu buke (Besemah) atau anten-anten nunggu buko (Palembang). “Padahal istilah ngabuburit tak elok didengar bagi kita orang Besemah dan Palembang,”tambah Bastari.




Selain belanju, kata anggota Lembaga Adat Besemah Satarudin Tjik Olah, ada istilah Besemah lainnya yang mengambarkan aktivitas orang yang pulang kampung karena mau lebaran yakni balek riaye. Istilah balek riaye sedikit lebih sering diucapkan masyarakat Besemah ketimbang belanju riaye. Meskipun demikian, diakui Satar, penggunaan dua istilah ini sama-sama tepat. “Kalau istilah mudik sebenarnya juga tepat dipakai,”tambah Satar ketika dihubungi terpisah.




PEMUDIK-sebutan bagi orang yang mudik-biasanya datang dari jauh. Meskipun jauh mereka nampak gembira. Ini karena mereka pulang ke kampung halamannya. Menurut Bastari, filosofi belanju riaye ataupun mudik, sebenarnya adalah merajut tali silaturahim. “Begitu pulang, orang perantauan dapat bertemu kembali dengan keluarganya,”ucap Bastari.




Selain itu Bastari melanjutkan, dengan pulang, maka orang rantau dapat menjejakkan kaki di tanah kelahirannya. Sesukses apapun seseorang di tanah rantau, tidak boleh melupakan tanah kelahiran yang telah membesarkannya di masa lalu. “Makna penting dari mudik lebaran atau balik riaye maupun belanja memang adalah silaturahim. Dulu kalau masih muda, saya sering mengajukan cuti tahunan untuk merayakan lebaran bersama keluarga,”kata Satar.




Puncak arus mudik sendiri diperkirakan Haidir akan jatuh pada H-2 lebaran. Saat itu kata dia, seluruh pemudik akan memadati stasiun, loket-loket, dan terminal angkutan umum. “Tiket akan habis,”ucapnya. Dari sinilah awal perjuangan mereka pulang ke tanah kelahirannya.

Beghantagh di Masjid

Ada satu tradisi masyarakat Pagaralam yang terlihat ketika Hari Raya Idul Fitri. Tradisi ini adalah beghantagh di masjid. Ini merupakan istilah untuk mengambarkan kegiatan warga yang membawa rantang berisi nasi serta lauk pauk ke dalam masjid setelah pelaksanaan sholat Ied.




Rantang-rantang itu kemudian ditata di tengah masjid. Sebelum rantang dibuka, diadakanlah semacam pembukaan acara yang diakhiri dengan do’a. Setelah itu, isi rantang kemudian dibuka, warga kemudian makan bersama-sama di dalam masjid. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.