Ngulangi Rasan dan Nueghi Rasan

Menanyakan Kebenaran dan Keseriusan

Ketika hubungan bujang dan gadis sudah semakin serius, saatnya orangtua untuk tampil. Orangtua dari kedua belah pihak baik bujang akan ngulangi rasan. Di zaman dulu-mungkin juga sekarang- ketika datang ke rumah orangtua pihak gadis, orangtua dari pihak bujang membawa kampek berisi lemang.




NGULANGI RASAN, sebagaimana dijelaskan di sebuah tulisan berjudul ‘Upacara Perkawinan Masyarakat Besemah’ bab III halaman 14’, merupakan proses lanjutan dari begareh, merekis, berayak dan nyemantung. “Ngulangi rasan merupakan salahsatu tahapan menuju jenjang pernikahan,”ujar Mady Lani, pemerhati budaya besemah, saat dijumpai Pagaralam Pos beberapa waktu lalu. Mady adalah salahseorang dibalik tulisan yang sejatinya ditujukan untuk skripsi itu.




Hubungan bujang dan gadis yang sudah melewati berbagai tahapan itu biasanya sudah serius. Bujang dan gadis bermaksud untuk menuju jenjang yang lebih serius: pernikahan. Ini kemudian disebut dengan rasan bujang dan gadis. Rasan bujang dan gadis itu, lalu disampaikan kepada orangtua masing-masing. Nantinya rasan dan bujang dan gadis ini akan ditueghi (diambil alih) oleh orangtua kedua belah pihak.




Jika rencana bujang dan gadis ini benar adanya maka, orangtua dari kedua pihak akan bertemu. Inilah yang kemudian disebut ngulangi rasan yakni sebuah upaya dari orangtua pihak bujang atau perwakilan untuk menanyakan kebenaran rasan ke orangtua pihak gadis. Istilah lain untuk menyebut proses ini adalah nampunkah kule.

Kampek Lemang

Dalam ngulangi rasan, utusan pihak bujang akan membawa kampek berisi enam batang lemang yang sudah dipotong 12 bagian. Utusan pihak orangtua laki-laki ini bermalam di rumah kerabat dekat gadis. Pada saat ini, kerabat dekat orangtua gadis akan pantauan. “Mengajak makan rombongan utusan bujang ke rumah mereka sebagai bentuk perkenalan pertama (mantau kule),”tulis hasil penelitian yang dihimpun dengan metode wawancara ini.




Apakah prosesnya sampai di situ? Ternyata belum. Usai ngulangi rasan, masih ada proses atau tahap selanjutnya yakni disebut dengan nueghi rasan. Dalam proses ini, masih dijelaskan dalam ‘BAB III Upacara Perkawinan Dalam Masyarakat Besemah’, pihak keluarga bujang akan mengutus jurai tue atau wakilnya untuk beghawas. Dalam beghawas ini, utusan ini membawa kampek lemang berisi 25 batang. Tapi, beda dengan saat ngulangi rasan, saat nueghi rasan, utusan tidak lagi bermalam di rumah kerabat dekat gadis melainkan di rumah tua gadis.




Saat beghawas, para tetua dusun seperti malim dan rebiyah sudah berkumpul. Utusan pihak bujang akan menanyakan beberapa hal seperti kedudukan pernikahan apakah akan ‘tuna’, belaki, ambik anak, semendean dan sejenisnya. Dalam kesempatan ini juga ditanyakan tentang jumlah permintaan pihak hadis, menanyakan hari melaghikah, hari persedekahan sebagainya. Setelah perasanan dirasa sudah mencapai mufakat, utusan pihak bujang diperkenankan pulang keesokan harinya.

Lamaran ala Besemah

Anggota Lembaga Adat Besemah, Satarudin Tjik Olah menuturkan, nampukah kule atau ngulangi rasan merupakan cara jeme besemah ketika melaksanakan lamaran. “Tradisi nampunkah kule ini, sudah ada sejak dulu,”ucapnya, ketika ditemui beberapa waktu lalu.




Dijelaskan Satar, nampunkah kule dilaksanakan dengan cara pengiriman utusan dari pihak laki-laki. Utusan ini ditunjuk untuk menyampaikan pesan lamaran kepada pihak perempuan. “Utusan dari pihak laki-laki itu jumlahnya dua orang,”bebernya. “Kalau dulu, utusan ini membawa kampek. Isinya di antaranya lemang 10 ruas dan ibatan nasi,”katanya pula.




Ketika sampai di rumah pihak perempuan, utusan dari pihak laki-laki ini lalu menyampaikan maksud dan tujuannya. Yakni bermaksud untuk menyampaikan lamaran. Yang meladeni utusan laki-laki ini adalah utusan dari perempuan.




Kata Satar, utusan dari perempuan bertindak sebagai juru bicara. Umumnya jubir ini diambil dari keluarga dekat pihak perempuan. “ Tapi, sebelum masuk ke tujuan, utusan laki-laki itu biasanya bercengkrama lebih dahulu dengan keluarga perempuan. Biasa. Agar suasana lebih terasa akrab,”imbuh Satar.




Usai mendengarkan maksud dan tujuan utusan dari pihak laki-laki, maka Jubir pihak perempuan kemudian bertanya kepada orangtua mempelai wanita. Kalau orangtua setuju, maka lamaran artinya sudah diterima. Dengan demikian, tuntas sudahlah tugas utusan dari pihak laki-laki.




Sebelum pamit pulang, utusan laki-laki itu menyerahkan kampek yang berisi aneka makanan itu kepada orangtua calon mempelai wanita. Utusan laki-laki itu lalu pulang. Mereka melaporkan kepada pihak laki-laki, bahwa lamaran sudah diterima.




Bagaimana cirinya bila lamaran tidak diterima? Kata Satar cirinya mudah diketahui. Ini terang dia, bisa dilihat dari respon pihak perempuan. “Biasanya pihak perempuan langsung menjawab terus terang. Bahwa, lamaran ditolak,”jawab Satar.

Masih Ada

Apakah ngulangi rasan dan nueghi rasan ini di zaman sekarang masih ada? Ternyata masih ada. Rendi (34), salahseorang warga Pagaralam menyatakan, ngulangi rasan dan nueghi rasan masih ada dan dijalankan. Tapi, diakuinya bentuknya sudah berbeda dengan yang dulu. “Tidak lagi membawa lemang,”ujar Rendi kemarin (25/8).




Diakuinya, ngulangi rasan dan nueghi rasan merupakan tanda bahwa hubungan bujang dan gadis sudah masuk ke dalam tahap yang serius. Pasangan ini sudah akan mau menikah. Tapi sebelum sampai ke jenjang itu, diperlukan peran orangtua kedua belah pihak. “Biasanya kalau sudah nueghi rasan, hari pernikahan sudah diketahui,”ucapnya lelaki yang berdomisili di belakang alun-alun Merdeka ini.

Selalu ada ‘Ayam Pramuka’

AYAM itu bewarna kuning kecoklat-coklatan. Mungkin warna inilah yang mengilhami untuk menamakannya sebagai ayam ‘pramuka’. Di Pagaralam, membawa ‘ayam pramuka’ ke tempat hajatan maupun persedekahan-jelang hari jadi- sudah menjadi semacam tradisi. “Memang tidak wajib. Tapi, karena sudah tradisi, tentu harus diikuti,”ujar anggota Lembaga Adat Besemah, Satarudin Tjik Olah beberapa waktu lalu.




Ayam pramuka lalu diterima pihak ahli rumah persedekahan. Selanjutnya, ayam-ayam yang dibawa dari tamu undangan ini dikurung sementara waktu. Esoknya atau hari itu juga, ayam-ayam tersebut disembelih untuk kemudian dimasak.




Tradisi inilah yang membuat penjual ‘ayam pramuka’ tumbuh di seantero Pagaralam. Mulai di pasar hingga pinggir jalan, hampir pasti dijumpai adanya penjual ayam pramuka. Di musim hajatan seperti sekarang, biasanya, harga ayam pramuka mengalami kenaikan. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.