Tradisi Bubus Tebat Puyang

Foto-foto: Madhon/Pagaralam Pos
BERENDAM: Penduduk berasal dari berbagai dusun begitu antusias mencari ikan di Tebat Libagh Muara Tenang yang tengah dibubus, Kamis siang (12/7).

Beghikan di Waktu-waktu Tertentu

Berbagai dusun di Pagaralam memiliki tebat (sejenis danau) yang dibuat oleh puyang (pendiri dusun). Di waktu-waktu tertentu tebat tersebut dibubus. Penduduk yang masih merupakan anak cucu pembuat tebat boleh beghikan (menangkap ikan).




Tebat Libagh yang biasanya hening nampak berbeda pada Kamis siang lalu (12/7). Tebat yang berada di Dusun Muara Tenang Kelurahan Perahu Dipo Kecamatan Dempo Selatan ini nampak ramai. Orang-orang berkumpul di tengah-tengah tebat yang kedalaman airnya tinggal sebatas pinggang. Sebagian orang lagi tumplek blek di pinggiran tebat yang dipenuhi kiambang (rumput yang biasa hidup di air) itu.




Orang-orang itu tengah berusaha nanggok (nangkap) ikan. Karena itu ketika datang ke tebat, mereka membawa sejumlah alat tradisional penangkap ikan di antaranya sesauk, seghekap, kinjagh dan bubu. Teriknya sinar matahari tak mengurangi semangat mereka untuk beghikan. Tak sia-sia. Berbagai jenis ikan mulai dari nila, mas, ghuan dan mujair berhasil ditangkap.




Hari itu Tebat Libagh memang dibubus (dikeringkan) untuk kemudian diambil ikannya. Ini momen yang jarang terjadi tiap tahun. “Seingat saya, tebat ini terakhir kali dibubus tahun 2013,” ucap Ana, salahseorang warga Dusun Tebing Tinggi ketika ditemui Pagaralam Pos.




Membubus tebat -apalagi jika itu milik bersama seperti Tebat Libagh- memang tidak bisa dilakukan sembarang. Harus ada kesepakatan antar pemilik. Bila tidak, jangan harap ada yang bisa membubus tebat.
Tebat Libagh sendiri dibubus lantaran ada warga Dusun Tebing Tinggi yang menggelar hajatan. “Warga Tebing Tinggi dan Muara Sindang adalah pemilik Tebat Libagh,” ucap Satarudin Tjik Olah, anggota Lembaga Adat Besemah, ditemui Pagaralam Pos kemarin (13/7). “Pembuat Tebat Libagh Muara Tenang itu puyang jeme Dusun Tebing Tinggi dan Muara Sindang,” tambahnya.




Itulah sebabnya kata Satar, ketika ada warga Tebing Tinggi yang menggelar hajatan, tebat itu pun diperkenankan untuk dibubus dan diambil ikannya. Warga Muara Sindang pun ikut serta nanggok. Selain alasan hajatan, lanjut Satar, tebat puyang biasanya dibubus jelang bulan puasa. “Yang boleh beghikan, ya anak cucu puyang pembuat tebat itu sendiri,” ucapnya.




Bukan hanya di Muara Tenang. Tradisi bubus tebat puyang juga kerap terlihat di pelbagai dusun di Pagaralam lainnya. Misalnya saja di Dusun Karang Dalo dengan Tebat Libaghnya, di Dusun Kerinjing dengan Tebat Kerinjingnya dan lainnya. Tebat-tebat ini pun dibubus di waktu-waktu tertentu.




Adapun Samsul (55), warga Dusun Tebing Tinggi menyatakan bubus Tebat Libagh merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan di waktu-waktu tertentu. “Bubus tebat sudah ada sejak zaman dulu,” ujar Samsul, ketika ditemui secara terpisah. Ia mengaku sangat gembira, karena sampai sekarang masih bisa menjalani tradisi ini.

Dide Pupuan, Dek Boleh Nanggok

Di Dusun Gunung Agung Tengah, Kelurahan Agung Lawangan, Kecamatan Dempo Utara juga punya tebat warisan leluhur; Tebat Ayek Garaman. Ketika dibubus, warga yang tak patungan untuk membeli bibit ikan dilarang ikut nangguk. Pada Agustus tahun lalu Pagaralam Pos sempat menyaksikan tradisi bubus ikan di sini.




Tebat Ayek Garaman yang berada di belakang pemukiman tersebut dikelola oleh panitia khusus yang dibentuk masyarakat setempat. Panitia yang terdiri dari 11 orang warga Dusun Gunung Agung Tengah inilah yang mengelola tebat mulai dari pemberian bibit sampai pembubusan. “Untuk beli bibit ikan, kami andalkan biaya dari hasil patungan warga,” ucap Antoni, ketua Panitia pengelola Tebat Ayek Garaman, ketika ditemui Pagaralam Pos.




Bibit ikan kemudian dilepas ke Tebat Ayek Garaman. Untuk menjaga dari segala sesuatu, panitia pun berjaga-jaga secara gantian. “Warga yang mau mancing pun kami larang,” ucapnya. Inilah sebabnya, diakui Antoni, bibit ikan cepat tumbuh besar dan jumlahnya tak berkurang.
Ketika waktu pembubusan tiba, panitia pun bergerak lagi. Di tebat ini, menurut Antoni, yang boleh membubus dan nanggok ikan hanyalah panitia. “Warga boleh datang, tapi cukup mendekat saja,” ujar Sudarso, salahseorang anggota panitia lainnya.




Ikan hasil tangkapan kemudian dikumpulkan lalu dibagi-bagikan kepada warga yang datang. Jumlahnya dipastikan Antoni sama banyak. “Kalau dijatah satu kilo, maka semuanya dapat satu kilo,” ucapnya.




Tapi tak semua warga mendapatkan ikan hasil nanggok. Antoni menyatakan hanya warga pupuan (patungan) untuk membeli bibit ikan saja yang boleh menangguk dan mendapatkan jatah ikan. “Itu (perjanjian) merupakan kesepakatan bersama warga,” terang Antoni. (09/11/CE-V)

You can leave a response, or trackback from your own site.