Tradisi Pantauan Bunting

Perjamuan untuk Menghormati Pengantin

Di Pagaralam ada satu tradisi yang ditujukan untuk menghormati para pengantin -dalam bahasa besemah pengantin disebut dengan bunting. Tradisi itu dinamakan pantauan bunting. Hingga kini, pantauan bunting masih terus dijalankan masyarakat Pagaralam.




KEPALA Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pagaralam Drs Marjohan MPd merasa surprise. Peneliti dari sebuah badan kebudayaan dari Sumatera Barat datang ke rumahnya. Para peneliti ini, kata Marjohan, bermaksud untuk meneliti salahsatu tradisi masyarakat Besemah. “Mereka ingin meneliti tentang pantauan bunting,”ucap Marjohan, saat memberikan sambutan dalam acara Gebyar Pelajar Mahasiswa di Balaikota Pagaralam Jum’at siang pekan lalu (22/6).




Gebyar Pelajar dan Mahasiswa merupakan kegiatan yang digagas Ikatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa (IKPM) Komisariat Besemah Pagaralam Yogykarta. Selain memberikan sambutan, Marjohan didaulat untuk membuka kegiatan ini secara resmi. Begitu Marjohan memukul gong, acara itu resmi dimulai.




Gara-gara peneliti itu, Marjohan pun terkenang dengan masa lalunya. Di depan para mahasiswa dan pelajar itu, Marjohan mengenang, bahwa dirinya pernah ‘mencicipi’ langsung tradisi pantauan bunting ini. “Saat itu saya baru saja menikah di Palembang. Keluarga di Tanjung Sakti meminta saya pulang. Mereka ingin menggelar pantauan bunting,”tuturnya.




Pada mulanya adalah penghormatan. Masyarakat Besemah begitu menghormati para pengantin. Anggota Lembaga Adat Besemah, Satarudin Tjik Olah, menjelaskan, pantauan bunting, merupakan tradisi untuk menghormati pengantin. “Juga untuk mempererat tali kekeluargaan,”ucap Satar, ketika diwawancarai Pagaralam Pos, di kediaman pribadinya, beberapa tahun lalu.




Pantauan bunting kata Satar, digelar oleh sanak famili pengantin. Bisa juga digelar oleh warga di dusun tempat pengantin itu melangsungkan pernikahan. “Umumnya mantau bunting dilaksanakan saat hari bemasak (satu hari jelang resepsi),”tuturnya. “Sebab, di hari itu, pengantin belum terlalu repot. Kalau dilaksanakan pada hari H, tentu akan repot,”katanya lagi. Mereka yang menggelar pantauan bunting kemudian disebut mantau bunting




Orang yang mantau bunting lanjut Satar, biasanya harus mengajak pengantin untuk datang ke rumahnya. Di dalam rumah inilah, pengantin dijamu dengan berbagai macam makanan. “Pengantin tidak datang sendiri. Mereka juga ditemani oleh bujang dan gadis ngantat,”imbuhnya.




Di dalam rumah, pengantin serta bujang dan gadis ngantat dipersilahkan untuk mencicipi makanan yang disediakan oleh orang yang mantau bunting. Sembari makan, yang empunya rumah menyempatkan diri untuk berbincang dengan pengantin.




“Makanya seperti yang saya bilang tadi. Dengan mantau bunting, seseorang bisa memperkenalkan diri sebagai bagian dari keluarga si pengantin. Nah, dari sini, pengantin akan tahu bahwa rumah yang didatangi itu adalah keluarganya,”bebernya.




Tentu yang didatangi pengantin serta para pengiringnya bukan satu dua rumah. Tapi sangat banyak. Menurut Satar, bila yang menggelar pantauan bunting jumlahnya banyak. Maka dipastikan, pengantin akan kekenyangan. “Kadang karena sudah terlalu kenyang, pengantin tidak makan lagi. Tapi, karena demi menghormati tuan rumah, tetap saja mereka makan sedikit,”tutur Satar sembari tersenyum.




Pemerhati Budaya Besemah, Mady Lani mengatakan, Besemah memiliki banyak tradisi yang berkaitan dengan pernikahan. Karenanya pantauan bunting hanyalah satu dari sekian banyak tradisi itu. “Ada yang disebut dengan ngulangi rasan dan nueghi rasan,”tuturnya beberapa waktu lalu. “Ini merupakan tradisi sebelum masuk ke jenjang pernikahan,”katanya lagi.




Ngulangi rasan ujar Mady menjelaskan, merupakan salahsatu tahapan menuju jenjang pernikahan. Adapun nueghi rasan, pihak keluarga bujang akan mengutus jurai tue atau wakilnya untuk beghawas. Pendek kata, upaya menuju jenjang pernikahan antara bujang dan gadis sudah masuk ke jenjang sangat serius .




Satar memastikan, hingga kini, pantauan bunting masih terus diterapkan warga Pagaralam. Terutama kata dia di dusun-dusun yang mempertahankan tradisi besemah. “Berdasarkan pengamatan saya, masih berlangsung. Sebab, tradisi pantauan bunting sudah mengakar kuat di tengah masyarakat. Sulit untuk ditinggalkan,”ucapnya menegaskan.




Kadisdikbud Kota Pagaralam Drs Marjohan MPd sangat yakin bila hingga kini, tradisi pantauan bunting masih berjalan. Diakuinya pula, tradisi pantauan bunting ini sarat dengan nilai luhur. Karenanya ia sangat berharap, tradisi ini terus bertahan. “Nilai luhur juga bisa digali dengan cara melakukan penelitian ilmiah,”ucapnya.




Marjohan pun memastikan, Pemkot Pagaralam mendukung penuh setiap kegiatan yang bertujuan untuk melestarikan kebudayaan Besemah. “Kami support,”ucapnya.

Upat Manjang

Satar menyatakan, pengantin wajib datang bila ada keluarga atau warga lain yang mengajaknya ke rumah dalam rangka pantauan bunting. “Hukumnya wajib. Pengantin harus datang ke rumah yang mantau bunting. Sebabnya kan pantauan bunting tujuannya untuk menghormati pengantin itu sendiri,”katanya. Bila tidak, maka ada konsekuensinya. “Bila tidak didatangi. Timbul upat manjang (fitnah). Jadi perbincangan orang-orang,”lanjut Satar.




Bagaimana kalau seandainya lupa? Satar menyatakan, wajib untuk diulangi. Kata dia, tidak ada alasan bagi pengantin untuk tak mendatangi pantauan bunting. “Makanya orangtua pengantin harus mengingatkan. Bahwa semua rumah yang menggelar pantauan bunting harus didatangi satu persatu. Tidak boleh ditinggalkan,”jawabnya.




Demikian pula dengan mantau bunting. Kata Satar, keluarga pengantin sangat dianjurkan untuk melaksanakan pantauan bunting. “Bila tidak, juga akan jadi perbincangan orang,”sambungnya. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.