Menjaga Singkuh-Sundi

Foto-foto: Vhan/Pagaralam Pos
BUDAYA: Seminar yang digagas IKPM Komisariat Besemah Pagaralam di Balaikota kemarin (22/6) mengusung tema besar tentang pelestarian budaya Besemah.

Batasan-batasan Supaya tak Kebablasan

Adat besemah mencakup ke pelbagai aspek kehidupan. Pergaulan antar manusia pun turut diatur sedemikian rupa. Sejumlah batasan-batasan diterapkan dalam pergaulan dengan tujuan supaya tak kebablasan.




MADY LANI begitu resah. Dalam pandangannya, anak-anak muda di Pagaralam sekarang sudah tak memakai lagi singkuh-singkuh dalam bertingkah laku. Ia mencontohkan, singkuh sundi ketika seorang bujang bertamu ke rumah gadisan. Sebelum masuk ke rumah, ujarnya, lelaki itu mesti dapat izin dari orangtua si gadis. “Ini saya lihat, singkuh sundinya tak ada lagi,”ketika dijumpai Pagaralam Pos di balaikota kemarin (22/6).




Padahal, menurut lelaki yang bernama asli Asmadi ini, singkuh sundi mesti dipegang teguh. Ini supaya ketika bergaul dengan orangtua, ataupun dengan orang sepandan dengan dirinya, anak-anak muda tak dianggap tidak sopan. “Ada lagi satu contoh singkuh sundi yakni posisi saudara lelaki dan perempuan ketika berjalan. Ini sudah jarang terlihat,”lanjut Mady.




Keresahan itu lalu ditumpahkan Mady dalam sebuah tulisan pendek di atas kertas. Isinya tentang singkuh sundi. Siang kemarin, di balaikota, Mady yang menjadi narasumber akan memaparkan tema ini di hadapan peserta seminar budaya yang digagas Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa (IKPM) Komisariat Besemah Pagaralam Yogyakarta. “Saya akan sampaikan semuanya,”katanya. “Detail,”tambahnya.




Mady mengaku butuh waktu lama untuk mengartikan singkuh sundi ini. Dengan perenungan dan kajian mendalam, Mady akhirnya bisa mengartikan singkuh sundi secara singkat dan padat




Menurut Mady, singkuh merupakan batasan-batasan, kebebasan bergerak, berbicara dan bertingkah laku yang berlaku ketika seseorang bergaul denga sesama. Adapun sundi kata dia, adalah tata krama dan letak keterbatasan singkuh itu itu sendiri. Dengan kata lain diakui Mady, singkuh sundi tak ubahnya dengan “Tata krama dan sopan santun,”.




Dulu, pada era tahun 1990-an, Mady mengenang, singkuh sundi masih jamak dipakai masyarakat Pagaralam. Adapun sekarang, kata dia, etika itu sudah mulai luntur. “Mungkin sengaja dilupakan. Atau boleh jadi karena pengaruh perkembangan zaman,”ucap Mady mengenai penyebab hilangnya etika itu.




Dalam seminar kemarin, Mady memang sempat menyinggung masalah singkuh sundi ini. Sayang seminar ini memilik tema yang begitu luas. Itulah sebabnya, singkuh sundi hanya mendapat waktu yang sedikit. Meskipun demikian Mady, tetap mengapresiasi seminar ini sebagai upaya untuk melestarikan kebudayaan Besemah.




Refdinal, Pamong Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pagaralam mengakui bila Besemah ini memiliki adat istiadat yang begitu banyak-termasuk singkuh sundi. Dia pun berpendapat, Besemah pada dasarnya mirip dengan Minangkabau. Bedanya diakui Refidnal, adat istiadat Minangkabau terawat, adapun Besemah mulai terlupakan.




Refdinal sendiri terus menggali adat istiadat Besemah. Berdasarkan catatannya, ada adat istiadat Besemah yang masih terpakai, ada pula yang mulai luntur. Selain adat istiadat, Refdinal, juga mencatat beberapa kesenian besemah yang masih tetap dipakai hingga sekarang.




Sementara itu anggota Lembaga Adat Besemah Satarudin Tjik Olah, mengatakan, singkuh sundi merupakan warisan leluhur yang perlu dijaga dan dilaksanakan. Sebabnya, singkuh sundi ini memiliki nilai-nilai positif yang bagus bagi pergaulan antar sesama.




Kepala Dinas Dikbud Kota Pagaralam Drs Marjohan MPd menyatakan, adat istiadat Besemah sampai sekarang masih hidup. Salahsatu contohnya, disebutkan Marjohan adalah tradisi pantauan bunting. Ia berharap tradisi ini dapat terus dipertahankan.

Zaman Now, Budaye Lame

ZAMAN boleh berganti tapi budaya tidak boleh hilang. Setidaknya inilah pesan yang ingin disampaikan Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa (IKPM) Komisariat Besemah Pagaralam Yogyakarta. Dalam seminar yang berlangsung di balaikota kemarin, organisasi ini mengusung tema besar Zaman Baru, Budaye Lame’.




Sejalah dengan tema itu, organisasi tersebut menggelar seminar yang mengusung tema budaya dan sejarah besemah. Ini merupakan salahsatu rangkaian kegiatan yang bertajuk ‘Gebyar Pelajar Mahasiswa’. “Kita harus bangga dengan budaya besemah,”ucap Ketua IKPM Komisariat Besemah Pagaralam Yogyakarta, Muhamad Tomi. Menurut Tomi, budaya merupakan aset bangsa yang mesti dilindungi.




Adapun Nanda Apriansyah, Ketua Pelaksana menyebutkan, ada budaya besemah yang mulai hilang digerus zaman. Karenanya, ia mengajak kepada seluruh pihak untuk menumbuhkan kembali kesadaran akan pentingnya merawat budaya.




Sebelum pembukaan, para peserta seminar dihibur pertunjukan kesenian tradisional besemah yakni tari kebagh. Diperagakan tiga orang, tari kebagh sukses memikat perhatian para peserta serta tamu dan undangan. Sekapur sirih dipersembahkan salahsatunya dipersembahkan kepada Kadisdikbud Kota Pagaralam Drs Marjohan MPd.




Mady Lani yang tampil sebagai narasumber seminar mengakui bila lunturnya budaya karena masyarakatnya dihinggapi rasa tidak percaya diri. Kata dia mencontohkan, ada rasa gengsi ketika seseorang ingin bercakap-cakap dalam Bahasa Besemah. Padahal lanjut dia, Bahasa Besemah adalah identitas yang perlu dilestarikan. “Semestinya kita malu karena justru orang dari luar yang menggeluti tradisi Besemah,”tuturnya.




Apapun itu, seminar yang digagas IKPM kemarin, merupakan langkah awal bagi anak-anak muda Pagaralam untuk kembali mengenal adat dan budaya Besemah. “Kami akan terus berkontribusi untuk kebudayaan Pagaralam,”ujar Tomi, ketua IKPM. (11/vhan)

You can leave a response, or trackback from your own site.