Ghumah Baghi yang Tahan Gempa

Foto: Dok/Pagaralam Pos
BERDIRI Kokoh: Sebuah ghumah baghi yang berada di sebuah dusun di Pagaralam yang sedikit mengalami perubahan. Foto diabadikan beberapa waktu lalu.

Kearifan Lokal Masyarakat Besemah

PAGARALAM POS, Pagaralam– Kearifan lokal masyarakat Besemah terwujud dalam ghumah (rumah) baghi. Rumah panggung ini dibuat sedemikian rupa supaya tahan dari gempa. “Itu (tahan gempa), sudah jelas,”ucap pemerhati budaya Besemah yang tinggal di Palembang, Ahmad Bastari Suan, dihubungi Pagaralam Pos kemarin (10/8).




Buktinya, Bastari melanjutkan, hingga sekarang, ghumah baghi masih banyak yang berdiri kokoh di pelbagai dusun. Belum ada yang sepengetahuan Bastari yang roboh. “Kalau ada dirobohkan, mungkin ada,”ucapnya.




Padahal katanya, umur ghumah baghi ini sudah ratusan tahun. Juga di masa lalu, banyak terjadi gempa. Inilah sebabnya, Bastari Bastari meyakini kalau ghumah baghi dibuat dengan mempertimbangkan segala kemungkinan terjadi bencana alam seperti gempa. “Ini merupakan salahsatu bentuk kearifan lokal masyarakat Besemah,”tuturnya.




Ia menjelaskan, ghumah baghi bisa tahan gempa karena struktur bangunan yang dibuat sedemikian rupa. Ia mencontohkan ghumah baghi menggunakan tiang yang ditopang dengan batu yang disebut gilar. Inilah yang membuat rumah bisa bergerak fleksibel bila terjadi gempa. “Pada umumnya dinding ghumah baghi tidak tinggi. Ini juga dibuat supaya rumah tahan dari goncangan gempa,”tambahnya.




Pemerhati budaya Besemah lainnya Asmadi juga mengatakan, bahwa ghumah baghi memiliki ketahanan yang kuat terhadap gempa. Senada dengan Bastari, beberapa struktur bangunan ghumah baghi dibuat sedemikian rupa. Ia menyebutkan, ghumah baghi tak menggunakan paku untuk menghubungkan antar struktur bangunan. “Melainkan menggunakan anyaman rotan dan pasak kayu,”lanjutnya.




Sementara itu M. Ali Husin dalam “Kearifan Lokal dan Mitigasi Bencana pada Rumah Tradisional Besemah, Pagar Alam, Sumatra Selatan”, seperti dikutip Pagaralam Pos dari tirto.id, mengatakan, ghumah baghi menggunakan konstruksi sambung ikat dan memanfaatkan bahan-bahan bangunan ringan.




Rumah Baghi menggunakan batu sebagai alas tiang yang disebut umpak batu. Selain agar gerak tiang menjadi lebih fleksibel, alas batu juga berfungsi melindungi tiang yang berada di atasnya agar tidak langsung bersentuhan dengan tanah yang memiliki kelembaban tinggi sehingga dapat merusak tiang tersebut.




“Semua rincian konstruksi diselesaikan dengan prinsip-prinsip ikatan, tumpuan, pasak, tumpuan berpaut dan sambungan berkait. Untuk pengikat umumnya digunakan rotan dan bambu, atau dengan teknik pasak. Jika terjadi gempa, maka struktur rumah akan bergerak dinamis,” tulis Ali Husin.

Dibuat Dari Kayu Pilihan

Ghumah baghi dibangun dengan bahan dasar kayu. Dari tiang, dinding, lantai, semuanya terbuat dari kayu. Pemerhati Sejarah Besemah Ahmad Bastari Suan mengatakan, ghumah baghi terbuat dari kayu pilihan. “Saya pernah dengar cerita orang tua, kayu-kayu yang digunakan untuk membuat ghumah baghi berasal dari satu pohon,”ucapnya. “Saya tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya pohon itu,”katanya pula.




Ghumah baghi sendiri tambah Bastari ada tiga jenis, yakni tatahan, gilapan, sasak. Ghumah baghi tatahan dijelaskannya, merupakan sebuah rumah yang memiliki ukiran khas. Sedangkan ghumah baghi gilapan, merupakan sebuah rumah yang polos alias tak memiliki ukiran apapun. Adapun ghumah baghi sasak, adalah rumah yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu. Dari tiga jenis rumah tersebut, lanjut Bastari, ghumah tatahan, dan gilapan yang paling banyak. Di pelbagai dusun, katanya, masih bisa dijumpai dua jenis ghumah baghi itu.




Hingga kini, ghumah baghi memang masih bisa dijumpai di pelbagai dusun di Pagaralam. Sayang kata pemerhati Besemah Asmadi, tak banyak lagi yang bentuknya sempurna. Sepengetahuan Mady Lani-sapaan Asmadi- hanya ada beberapa buah ghumah baghi yang lengkap sampai ke bagian dapur. “Di Dusun Gunung Agung itu ada satu ghumah baghi yang lengkap sampai ke dapur,”sebutnya.

Filosofi Tinggi

Anggota Lembaga Adat Besemah Satarrudin Tjik Olah mengatakan baik ghumah tatahan maupun gilapan lanjut Satar memiliki nilai-nilai atau filososofi yang tinggi. Ghumah tatahan misalnya, dicontohkannya memiliki ukiran yang berbentuk di lingkaran dan rebung (bambu muda). Dua bentuk ukiran itu disebutkannya memiliki makna tersendiri. “Ukiran berbentuk lingkaran itu melambangkan matahari. Merupakan perwujudan kesatuan dan persatuan. Sedangkan rebung itu bermakna doa. Agar para penghuni rumah itu terus beranak pinak, atau terus memiliki keturunan,”terangnya panjang lebar.




Sejarawan Sumatera Selatan Ahmad Bastari Suan menambahkan, dalam arti sempit, ghumah tatahan merupakan rumah yang bangunannya terdapat ukiran, atau dipahat. “Ghumah tatahan merupakan rumah adat Besemah,”ucap Bastari.




Sedangkan soal makna yang ada dalam ghumah tatahan, Bastari sependapat dengan Satar. Kata Bastari, ghumah tatahan memiliki banyak makna yang luas. Hampir semua bagian di ghumah tatahan terkandung filosofi yang tinggi. “Karena itu, untuk membahasnya (filosofi) tidak bisa dalam wacana dua-tiga halaman,”sambungnya.




Bastari lalu mencontohkan ghumah tatahan yang lengkap dalam artian memiliki beruge undang-undang bighai terbuka. Itu jelas Bastari, secara umum memiliki makna kekeluargaan, keramahtamahan, keterbukaan. Juga kerukunan dan kewaspadaan.




Dengan filosofi atau makna yang sedemikian hebatnya, Bastari menyerukan agar semua pihak dapat melestarikan ghumah tatahan. “Akankah ghumah tatahan yang sedemikian hebat akan punah. Tentu kita harus berupaya agar ghumah tatahan dapat lestari sepanjang zaman,”serunya. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.