Hikayat Janur Kuning di Pagaralam

Foto-foto: dok/Pagaralam Pos
MESTI TELITI: Proses pembuatan janur yang dilakukan sekumpulan anak muda di sebuah dusun beberapa waktu lalu.

‘Cahaya Surga’ Dari Pulau Seberang

Di Pagaralam janur acap terlihat ketika ada sebuah acara tasyakuran pernikahan. Perlambang cahaya dari surga yang disebut datang dari pulau seberang.




DI pinggir sebuah mulut gang yang terletak di Dusun Bumi Agung Kelurahan Bumi Agung Kecamatan Dempo Utara tegak sebuah sebatang bambu sepanjang 7 meter yang ujungnya melengkung. Di ujung lengkungan tergantung sebuah benda berbentuk bundar warna kuning keemasan yang terbuat dari anyaman daun kelapa muda.




Pemandangan serupa juga terlihat di depan mulut gang lainnya yang berjarak sekira beberapa ratusan meter. Hari itu (30/8) ketika jarum jam menunjukkan pukul 10.00 WIB, kendaraan bermotor roda empat maupun roda dua berdesak-desakan di depan mulut dua gang itu. Ramai orang berbaju batik dan kebaya memasuki gang.




“Itu namanya janur. Penanda lokasi sebuah pesta pernikahan. Biasanya, yang mengadakan pernikahan adalah orang berada,”ucap Asmadi Lani, Pemerhati Budaya Besemah, saat dimintai pendapatnya lewat sambungan telepon kemarin (31/8). “Kalau ada janur, orang tidak salah arah,”katanya pula.




Lelaki yang memiliki nama pena Mady Lani itu berujar, bentuk janur memiliki banyak variasi. Selain yang tergantung sebagai tanda, ada juga yang ditempatkan di pelaminan yang diisi dengan aneka buah. Juga ada janur yang ditempel. “Ada istilah janur lanang dan janur betine,”sebutnya.




Meskipun bentuknya bervariasi, Mady melanjutkan, umumnya janur dibuat dari anyaman daun kelapa yang masih muda. Inilah sebabnya, janur menyemburatkan warna kuning keemasan. Dipasang di depan pintu masuk, membuat suasana resepsi pernikahan menjadi terasa meriah dan warna-warni.




Penamaan janur rupanya tidak sembarangan melainkan cerminan dari do’a. Menurut Mady, janur berasal dari bahasa Arab yakni jannah dan nur. Jannah artinya surga sedangkan nur artinya cahaya. “Bila digabung, artinya cahaya surga,”tuturnya.




Dengan demikian, Mady menambahkan, pada dasarnya janur merupakan lambang do’a. Supaya rumah tangga yang baru saja menikah mendapatkan keberkahan. “Harus diketahui, warna kuning di janur itu lambang kemakmuran,”ucapnya menjelaskan.




Dengan filosofi semacam ini, Mady sepakat bila tradisi penggunaan janur dalam acara pernikahan dipertahankan. Jangan sampai katanya, penggunaan janur lambat-lambat jadi hilang ditelan zaman. Apalagi lanjutnya, janur ada kaitannya dengan penyebaran Islam ke Besemah.




Berdasarkan sejarah papar Mady, tradisi penggunaan janur dalam pesta pernikahan pertamakali muncul di zaman Sunan Kalijaga. Salahsatu tokoh Wali Songo ini, lanjut Mady, memperkenalkan janur di tanah Jawa. Begitu Islam masuk di Besemah, tradisi ini pun ikut diperkenalkan. “Sampai sekarang, penggunaan janur ini masih ada,”ucap Mady yang mengaku menggali tentang sejarah janur pada 2013 lalu ini.




Namun menurut Sejarawan Besemah yang kini tinggal di Palembang, Ahmad Bastari Suan, tradisi pemasangan janur saat pesta pernikahan belum terlalu lama masuk ke Besemah. Ia memperkirakan, tradisi ini masuk Besemah sekitar tahun 1970-an. “Tahun 1960-an belum masuk,”katanya, dihubungi secara terpisah kemarin. Bastari menambahkan, pemasangan janur sebagai tradisi yang meniru dari daerah luar Besemah.




Bambu yang ujungnya dipasangi janur di samping mulut gang itu masih ada meskipun pesta pernikahan itu sudah selesai. Terpapar air hujan dan sinar matahari selama berhari-hari membuat warna janur sedikit berubah dari kuning keemasan menjadi kecokelat-cokelatan.

Janur Api Sampai Janur Kertas

SELAIN untuk pesta perkawinan, janur kata Mady, juga acap digunakan untuk pertanda adanya musibah meninggal dunia. Biasanya menurutnya, orang yang meninggal masih gadis maupun bujang. “Janur ini dinamakan sebagai janur api,”ucapnya. Janur sebangsa ini lanjutnya, dipasang di muka kompleks pekuburan. Inilah sebabnya ia meminta, janur api tidak digunakan sembarangan.




Dewasa ini, diakui Mady, janur api sudah jarang digunakan. Janur hanya digunakan saat pesta perkawinan semata. Bahkan hari-hari ini, bahan pembuatan janur sudah berubah dari daun kelapa yang masih muda menjadi kertas. Meskipun bentuk janur dari daun kelapa dan kertas mirip-mirip, namun Mady tak mau menyamakannya. “Kalau janur dari kertas, saya tidak bisa katakan itu memiliki makna cahaya surga,”sebutnya.




Penggunaan janur yang terbuat dari bahan kertas memang sudah marak di Pagaralam. Sama seperti janur daun kelapa, janur kertas juga dipasangi di ujung bambu untuk kemudian dipasang di depan mulut gang. Warna janur kertas ini dominan merah, bukanlagi kuning keemasan. Toh, dua-duanya sama-sama menandakan bahwa di sana ada sebuah pesta pernikahan.

Merangkai di Malam Hari

MERANGKAI daun kelapa yang masih muda menjadi janur, diakui Mady, bukan perkara mudah. Katanya, merangkai daun kelapa hingga selesai menjadi janur dibutuhkan ketelitian tingkat tinggi. Juga pengalaman serta konsetransi. “Umumnya yang membuat janur ini adalah para bujangan,”tuturnya.




Waktu yang dipilih untuk membuat janur, lanjutnya, biasanya adalah malam hari, beberapa hari jelang hari pesta pernikahan dimulai. Yang membuatnya bisa satu atau dua orang yang telah berpengalaman. Sebelum pesta dimulai, janur sudah kelar dan tinggal dipasang di lokasi yang telah ditentukan.




Memang, diakui Mady lagi, membuat janur memang terlihat mengasyikkan. Namun dia mewanti-wanti, jangan sampai terlalu asyik sehingga lupa dengan kegiatan lain. Toh merangkai janur bisa melatih kesabaran dan keuletan seseorang serta fokus. “Karena membuat dan merangkai janur itu perlu hati-hati, supaya bentuknya tak salah,”ucapnya.

Kembar Mayang

DI Jawa, sepasang hiasan kombinasi janur, buah-buahan, serta bunga-bungaan dipajang di tepi pelaminan pada upacara perkawinan, yang disebut kembar mayang (mayang sepasang). Ini merupakan simbol penyatuan dua individu dalam wadah rumah tangga. Hiasan serupa juga ditemukan dalam upacara-upacara di Bali.




Bagian-bagian yang terdapat pada kembar mayang diantaranya tatakan, awak, dan mahkota. Sementara warna keputihan pada janur diharapkan menjadi doa agar cinta dan kasih sayang di antara mempelai selalu muda dan bersemi laksana sebuah janur.




Salah satu teknik yang dipakai untuk melengkapi bentuk kembar mayang adalah menggunakan teknik gembung. Ini merupakan teknik baru dengan bentuk lebih besar di bagian bawah, makin ke atas makin mengecil. Gembung ini sebagai simbolisasi yang memiliki makna penyembahan terhadap Sang Pencipta. (net/berbagai sumber)

You can leave a response, or trackback from your own site.