Mengenal Tebat Ayek Garaman Pagaralam

Foto: Ist/Pagaralam Pos
SEBELUM DIBUBUS: Panitia pengelola Tebat Ayek Garaman mempersiapkan berbagai alat untuk melaksanakan pengeringan pada Ahad pekan lalu (20/8).

Dibubus Pansus Jelang Riaye Haji

Ayek Garaman merupakan salahsatu tebat (danau) warisan leluhur yang masih dipertahankan hingga sekarang. Dikelola oleh panitia khusus (Pansus), tebat yang berada di Dusun Gunung Agung Tengah Kelurahan Agung Lawangan Kecamatan Dempo Utara dibubus jelang Riaye Haji Hari Raya Idul Adha




“Pagi ini kami mau membuat pelumpatan,”ucap Agusman, Anggota Panitia Khusus Pengelola Tebat Ayek Garaman kepada Pagaralam Pos melalui sambungan telepon seluler, Ahad pekan lalu (20/8). “Untuk nanggok, akan kami lakukan besok. Tapi, kalau mau datang sekarang, silahkan,”tambahnya dengan nada bicara yang semangat.




Agus memang sangat senang bila aktivitas bubus dan nanggok ikan Tebat Ayek Garaman diliput. Dia ingin menunjukkan pada masyarakat Pagaralam di dusun lain bahwa, Tebat Ayek Garaman masih bertahan dan dikelola dengan sangat baik.




Saat menelepon Pagaralam Pos, Agus sendiri sudah berada di pematang Tebat Ayek Garaman. Ia ditemani anggota panitia pengelola Tebat Ayek Garaman lainnya. Sepagi itu, ketika sinar matahari baru saja bersinar terang, Tebat Ayek Garaman sudah ramai. Para panitia melaksanakan berbagai persiapan di antaranya membuat pelumpatan yang bahan dasarnya dari bambu.




Tebat Ayek Garaman terletak di belakang pemukiman Dusun Gunung Agung Tengah. Karena itu, tidak sulit untuk mencari tebat ini. Di dekat tebat ini ada sebuah sumber mata air terkenal yang diberi nama Ayek Garaman. Mungkin nama sumber mata air inilah yang dijadikan ilham bagi penamaan tebat.




Bentuk Tebat Ayek Garaman tak jauh berbeda dengan tebat pada umumnya. Berbentuk seperti oval memanjang yang airnya dalam. Di dalam tebat inilah hidup aneka jenis ikan seperti nila dan mas. Ikan-ikan inilah-yang di waktu-waktu tertentu dipanen.




Untuk memanen ikan, sudah barang tentu tebat tersebut mesti dibubus (dikeringkan) terlebih dahulu. Warga Dusun Gunung Agung Tengah menunjuk panitia khusus untuk membubus sekaligus memanen ikan di Tebat Ayek Garaman. “Panitia dibentuk di masjid,”ujar Antoni, Ketua Panitia Pengelola Tebat Ayek Garaman “Panitianya sekarang beranggotan 14 orang penduduk,”tambahnya. Tahun lalu jumlah anggota panitia 10 orang.




Waktu pembubusan juga tidak dilakukan sembarang. Agus menyebutkan, Tebat Ayek Garaman dibubus jelang Hari Raya Idul Adha. Waktu pembubusan ini menurut Agus dipilih dengan tujuan untuk membantu penduduk untuk memenuhi kebutuhan untuk berlebaran haji. “Apalagi seperti sekarang, musim panen kopi kan sudah lewat. Jadi kondisi ekonomi masyarakat agak menurun,”ucapnya.




Inilah sebabnya pada Ahad lalu, Tebat Ayek Garaman dibubus karena Idul Adha akan jatuh dua hari kemudian yakni pada Rabu (22/8).




Tebat Ayek Garaman dibubus dengan cara membuka pemetung (sejenis pintu air). Di bagian luar pemetung inilah pelumpatan yang dibikin Agus dkk ditempatkan. “Supaya ikan tak ikut hanyut bersama air yang ke luar dari pemetung,”terang Agus mengenai fungsi pelumpatan.




Proses pembubusan Tebat Ayek Garaman tidaklah singkat. Butuh waktu sehari semalam, barulah Tebat Ayek Garaman kering. Para panitia pun mesti menginap di pinggir tebat sampai tebat tersebut kering.




Senin pagi (21/8) debit air di Tebat Ayek Garaman sudah sangat surut. Para panitia memutuskan untuk memulai nanggok ikan dengan menggunakan pelbaga alat. Banyak warga Dusun Gunung Agung Tengah yang menyaksikan proses pembubusan ini dari dekat.




Proses nanggok pun selesai. Ikan yang didapat lumayan banyak. Menurut Agus, hasil panen ikan tahun ini lebih banyak ketimbang tahun lalu. “Yang paling banyak itu mujair. Kalau ikan mas ada tapi tidak sebanyak mujair,”ucapnya




Hasil tangkapan tersebut kemudian dibagi-bagikan kepada penduduk setempat. Total penerima disebutkan Agus mencapai 250 rumah tangga. Tapi Agus menyatakan, yang dapat ikan hanya yang ikut pupuan (patungan) uang saja. “Peraturan ini adalah hasil kesepakatan bersama,”katanya pula. Inilah sebabnya, dapat dipastikan penduduk yang tak ikut patungan, tak akan kebagian ikan. Uang hasil patungan sendiri dibelikan bibit ikan yang kemudian dilepas di Tebat Ayek Garaman .




Sementara itu Effi, salahseorang warga Dusun Gunung Agung Tengah mengatakan, tradisi bubus dan nanggok ikan Tebat Ayek Garaman sudah ada sejak lama. “Sejak dusun ini (Gunung Agung Tengah) ini ada, tradisi itu sudah ada,”ujarnya. Diakuinya, tradisi ini lebih teratur karena diorganisir oleh panitia khusus.

Manis yang Khas

HANYA setahun sekali warga Dusun Gunung Agung Tengah mencicipi ikan dari Tebat Ayek Garaman. Inilah sebabnya, begitu mendapatkan ‘jatah’ ikan, penduduk setempat girang bukan main. Seperti Didek (35) ini misalnya yang karena ikut patungan dapat jatah ikan. “Rata-rata tiap rumah tangga dapat 2,7 Kg ikan,”ujar Didek, bercerita kepada Pagaralam Pos kemarin.




Bagi Didek, yang penting bukan banyak atau sedikitnya jumlah ikan yang didapat. Yang terpenting katanya adalah keikutsertaan dengan kegiatan di tengah masyarakat. “Gaweh (kegiatan) di dusun, kalau bisa, jangan sampai ditinggalkan,”ucapnya.




Di rumahnya, ikan dari Tebat Ayek Garaman dimasak. Bagaimana rasanya? “Manis, khas ikan tebat”kata Didek. “Ikan tebat kan beda dengan ikan yang banyak dijual di pasar,”tambahnya.




Pun dengan Effi, warga Dusun Gunung Agung Tengah lainnya yang juga mendapatkan jatah ikan dari Tebat Ayek Garaman. Sama dengan Didek, Effi juga sangat senang karena kembali mendapatkan ikan dari Tebat Ayek Garaman. “Tahun lalu juga dapat,”ujarnya.

Patut Dicontoh

CARA mengelola Tebat Ayek Garaman patut ditiru. Dengan cara yang terstruktur dan sistematis, tebat ini mampu dipertahankan sekaligus memberi manfaat kepada orang banyak.




Pengamatan Pagaralam Pos di lapangan, tak banyak yang menganut sistem pengelolaan tebat seperti di Dusun Gunung Agung Tengah. Inilah sebabnya, tebat warisan leluhur di berbagai dusun tak terkelola dengan baik. Padahal, bila dikelola dengan baik, manfaat yang dirasakan masyarakat akan lebih besar lagi.




Di Pagaralam sendiri, jumlah tebat warisan leluhur cukup banyak. Sebut saja misalnya Tebat Libagh di Dusun Muara Tenang Kecamatan Dempo Selatan. Lalu Tebat Libagh di Dusun Karang Dalo Kecamatan Dempo Tengah. Tebat Gheban di Dusun Alun Dua Kecamatan Pagaralam Utara. Nun di Dusun Kerinjing Kecamatan Dempo Utara ada Tebat Kerinjing. Di Dusun Tanjung Aro ada Tebat Mayan namanya. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.