Tradisi Njamu Kiaji di Pagaralam

Foto: dok/Pagaralam Pos
DARI TANAH SUCI: 65 jama’ah haji asal Kota Pagaralam tiba dengan kondisi yang selamat dan sehat pada Selasa lalu (4/9).

Wujud Penghormatan dan Syukur

Musim haji 2018 sudah berakhir. Ini ditandai dengan kembalinya jemaah haji dari tanah suci ke kampung halaman masing-masing. Di kota Pagaralam, kedatangan para tamu Allah ini disambut dengan tradisi njamu kiaji.




LAPANGAN Eks MTQ Gunung Gare diselimuti suasana haru dan bahagia. Hari itu (4/9), 65 jama’ah haji asal Pagaralam yang tergabung dalam kloter 6 embarkasi Palembang tiba di kota ini dengan selamat. Mereka tiba di Pagaralam dengan menggunakan bus. Ini merupakan moda transportasi yang sama saat membawa mereka meninggalkan Pagaralam ketika hendak berangkat haji sebulan lalu .




Begitu jama’ah haji turun dari bus, tangis haru keluarga pecah. Rasa rindu setelah lebih dari satu bulan tidak bertemu, terbayar lunas hari itu. Mereka saling berpelukan serta berangkulan. Selain keluarga, jama’ah haji ini juga disambut asisten I Rachmat Madroh. Madroh mengucapkan rasa syukurnya karena 65 jama’ah haji Pagaralam pulang dengan kondisi yang sehat. “Tiada kekurangan suatu apapun,”ujar Madroh, dalam sambutannya.




Dari Gunung Gare, dengan diantar keluarga yang menjemput, jama’ah haji bergerak pulang ke rumah masing-masing. Di rumah, sudah ada sanak keluarga lain yang juga menunggu-nunggu kedatangan para haji ini. Selanjutnya, para haji ini akan ‘disibukkan’ dengan undangan njamu kiaji yang datang dari berbagai penjuru.




Njamu kiaji, menurut Anggota Lembaga Adat Besemah Satarudin Tjik Olah merupakan tradisi yang sudah lama berkembang di tengah masyarakat Besemah. “Sampai sekarang, tradisi njamu kiaji masih ada,”ucap Satar, ketika dijumpai Pagaralam Pos, dalam sebuah kesempatan beberapa tahun lalu di kediaman pribadinya, di kawasan simpang Dusun Petani.




Dijelaskannya, njamu kiaji njamu memiliki makna yang dalam. Di antaranya sebut Satar sebagai wujud penghormatan dan kegembiraan. Hormat karena yang bersangkutan selesai menunaikan salahsatu rukun Islam. Gembira karena yang bersangkutan tiba di kampung halaman dalam keadaan sehat tak kurang suatu apapun. “Ini juga sesuai dengan hadist Nabi Muhammad SAW. Yakni, sambut dan peluklah sahabatmu yang pulang dari pelayaran,”tambah Satar.




Njamu kiaji menurut Satar, dilaksanakan ketika haji tiba di kediamannya. Untuk waktunya sebut Satar berbeda-beda. Ada yang melaksanakannya ketika sepekan haji itu pulang. Ada pula yang melaksanakannya lebih cepat dari itu. “Njamu kiaji bisa dilaksanakan di rumah ataupun di masjid. Tapi, yang paling sering di dalam masjid,”sambungnya.




Karena itu, seorang haji harus selalu siap untuk diundang untuk datang. Baik itu ke masjid ataupun ke rumah. Baik itu menghadiri undangan di dalam masjid di kampungnya sendiri maupun di dusun lain. “Tapi, umumnya, jadwal undangan itu harus ditentukan oleh haji. Tujuannya agar tidak berbenturan dengan jadwal undangan di tempat lain,”bebernya.




Sang haji yang diundang pun tak perlu khawatir soal ongkos transportasi. Sebab, menurut Satar, pada umumnya, bila undangan itu datang dari dusun lain, maka yang mengundang akan memberikan ongkos.




Berapa lama njamu kiaji digelar? Menurut Satar, tergantung dengan jumlah haji. Namun biasanya berlangsung selama 40 hari. Itu dikarenakan, jamaah haji harus mendatangi undangan dari dusun satu dengan yang lainnya. “Kalau sekarang, transportasi sudah lancar. Jadi, bisa saja dalam satu hari, seorang haji bisa menghadiri njamu kiaji di berbagai tempat terpisah,”imbuhnya.




Begitulah. Tiba di Gunung Gare disambut, di dusun para jama’ah haji juga disambut serta dijamu dengan penuh rasa bahagia.

Berbagi Pengalaman dan Memberikan Doa

Njamu kiaji bukan hanya sekedar jamuan makan-makan. Tapi, lebih dari itu. Dipaparkan Satar, ketika berada dalam jamuan, seorang haji biasanya menceritakan pengalamannnya kepada hadirin. “Diceritakannya saat berhaji. Tujuannya, agar warga yang belum berhaji bisa belajar dari pengalaman itu,”jelasnya.




Dalam jamuan itu juga, seorang haji juga menyampaikan doa kepada Allah SWT. Intinya, agar para hadirin (yang belum berhaji), bisa melaksanakan haji seperti dirinya. “Jadi, makna njamu kiaji ini sangatlah tinggi,”tutur Satar.




Satar yakin, tradisi njamu kiaji akan terus lestari, meskipun zaman terus berganti. Selagi masih ada yang menjalankan ibadah haji kata Satar, tradisi njamu kiaji akan terus ada. “Memang, bentuknya bisa saja berubah, tapi tujuannya tetap sama,”imbuhnya.




Undangan njamu kiaji akan terus berdatangan kepada seorang yang baru saja menunaikan ibadah haji. Ketika selesai menunaikan semua undangan itu kata Satar, haji yang bersangkutan, ada yang melaksanakan syukuran. “Syukuran sebagai bentuk ucapan syukur kepada Allah karena sudah selesai menunaikan ibadah haji yang masuk ke dalam rukun Islam ke-lima,”jelas Satar.




Maka, sungguh beruntung bagi mereka yang telah menunaikan Rukun Islam yang ke-5 itu. Semoga makin banyak umat muslim di Pagaralam yang bisa memenuhi panggilan Allah SWT ini. Amin ya robbal alamin.

Syukuran Sebelum Berangkat

SAAT hendak berangkat tanah suci, hampir semua jama’ah haji itu menggelar sedekah. Sedekah ini punya maksud dan tujuan yang mulia. Menurut pengamat budaya dan sejarah Sumatera Selatan, Ahmad Bastari Suan, sedekah haji merupakan perwujudan rasa syukur. Sebab, sudah diberikan kesempatan untuk menunaikan salahsatu rukun Islam. “Karena sudah diberikan jalan dan waktu untuk berangkat haji,”ucap Bastari, ketika dimintai pendapatnya, dalam sebuah kesempatan beberapa tahun lalu.




Makna lain lanjut Bastari adalah, sedekah haji merupakan wadah bagi yang bersangkutan untuk meminta maaf kepada seluruh sanak keluarganya. “Ini dilakukan karena pergi haji itu kan tidak dalam waktu yang singkat. Cukup lama. Karena itu dirasa perlu untuk meminta maaf. Agar tidak ada lagi beban ketika pergi berhaji,”sambung Bastari menjelaskan.




Memang, dalam sedekah haji itu, semua sanak keluarga berkumpul. Demikian pula dengan para tetangga. Tak hanya keluarga dekat, keluarga yang lokasinya jauh pun tak lupa diundang. Tak heran, bila saat persedekahan itu, rumah yang bersangkutan terlihat ramai. “Setelah semuanya berkumpul, mulailah yang bersangkutan menyampaikan maksud dan tujuannya. Bahwa dia akan berangkat haji dan meminta maaf bila ada kesalahan,”imbuh Bastari.




Di dalam sedekah haji itu pula, yang CJH akan meminta doa kepada seluruh yang hadir. Tujuannya agar selama keberangkatan, sampai di tanah suci, dan kembali lagi dengan keadaan yang sehat. Tidak kurang suatu apapun. “Jadi tujuan sedekah haji ini sangat bagus sekali. Yang berhaji didoakan. Sementara yang ditinggalkan diharapkan tetap selalu sehat lahir dan bathin,”sebut Bastari.




Karena itu Bastari sangat berharap, agar tradisi yang dijiwai nilai Islam seperti itu bisa terus bertahan di besemah dan kota Pagaralam pada khususnya. “Perlu dilestarikan. Dijaga dan diterapkan,”pesannya. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.