Anak Umang Ditunakkah, Kerbai Jande Dibiyekah

Foto-foto: dok/Pagaralam Pos
SUKA SEJARAH : Sarasehan sejarah di SMAN 1 Pagaralam, beberapa waktu lalu. Sarasehan yang digelar MGMP Sejarah Sumsel ini mengikutsertakan budayawan serta seniman dalam dan luar Pagaralam.

Kearifan Lokal Besemah
PAGARALAM POS, Pagaralam – Kearifan lokal Besemah mencakup sampai ke aspek sosial. Salahsatu buktinya adalah adanya perhatian besar terhadap anak umang (yatim piatu) dan kerbai jande (janda). “Untuk anak umang, itu ditunakkah. Kalau kerbai jande dibiyekah. Ini salahsatu kebiasaan di Besemah. Di zaman sekarang disebut kearifan lokal,” ucap Satarudin Tjik Olah, anggota Lembaga Adat Besemah Satarudin Tjik Olah, ditemui Pagaralam Pos di kediamannya, Ahad malam pekan lalu (9/9).




Anak umang ditunakkah artinya dijelaskan Satar, anak yatim piatu-bila sudah dewasa- segera dinikahkah. Adapun yang bertugas menikahkannya disebutkan Satar, adalah seluruh masyarakat. Mereka semua ikut andil dalam membantu proses pernikahan sampai syukuran.




“Sebelumnya, para pemuka adat dan masyarakat berkumpul. Di sanalah, diutarakan tentang rencana menikahkan anak yatim piatu itu. Semua yang hadir dimintakan bantuannya,” urai Satar. Dengan cara begini, si anak umang tak perlu khawatir soal biaya dan lain sebagainya.

Sementara kerbai jande dibiyekah, lanjut Satar adalah bermakna membantu kehidupan ekonomi seorang janda. Ia mencontohkan bila si kerbai jande sedang nugal sawah. Maka, seluruh masyarakat wajib membantunya sampai selesai. “Prinsipnya gotong-royong membantu yang lemah,”ucapnya.




Ditambahkan Satar, dengan kearifan lokal semacam itu, maka akan terjadi hubungan yang baik antara seluruh masyarakat. Tidak akan ada penduduk yang merasa ditinggalkan sendirian dalam penderitaannya. Karena itu ia menyatakan, Lembaga Adat Besemah terus berupaya supaya kearifan lokal ini dapat terus dipertahankan.




Sementara Budayawan Sumatera Selatan, Vebri Al-Lintani menilai, Anak umang ditunakkah dan kerbai jande dibiyekah merupakan bentuk kearifan lokal yang sangat akan nilai sosial tinggi. Karenanya ia salut dengan masyarakat Besemah. “Ini membuktikan bahwa, masyarakat Besemah sejak dulu sudah berbudaya tinggi,” papar Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP) ini.

Nak Idop Tarek Nyawe Sesughangan
SAYANGNYA, ‘Anak umang ditunakkah dan kerbai jande dibiyekah’, kini nyaris tinggal kenangan belaka. Diakui Satar, saat ini yang terjadi saat ini adalah sikap individualistis yang cuek denga kehidupan orang yang susah. “Kalau sekarang ini, nak idop tarek nyawe sesughanangan (kalau mau hidup tarik nyawe sendiri-sendiri),”ucapnya memberikan istilah. Istilah ini bila diartikan kurang lebih bermakna kalau mau hidup carilah caranya sendiri.




Lebih lanjut Satar menyebutkan nak idop tarek nyawe sesughangan, bertolak belakang dengan prinsip kearifan lokal yang dijunjung masyarakat Besemah. Dia sendiri heran mengapa kearifan lokal yang memiliki nilai sosial tinggi bisa tergerus. “Mungkin karena faktor masuknya budaya dari luar. Orang kita Besemah tak percaya denga adat istiadat diri sendiri,”sebutnya.




Menurut pandangan Budayawan Sumatera Selatan Vebri Al-Lintani, tergerusnya kearifan lokal Besemah tak bisa dipisahkan dengan sejarah kebijakan. Tergerusnya kearifan lokal ini katanya, dimulai sejak Pemerintah Pusat menghapuskan sistem pemerintahan marga di Besemah. “Begitu marga dihapuskan dan diganti dengan sistem kecamatan dan desa, kearifan lokal Besemah mulai terkikis,”ucapnya.




Itu bisa terjadi lanjut Vebri karena desa yang dipimpin seorang Kepala Desa (Kades)maupun kecamatan yang dipimpin camat tidak memiliki peranan secara kultural. Pejabat desa dan kecamatan hanya berperan dalam bidang struktural saja. Inilah sebabnya peranan kultural yang melekat pada Pesirah-pemimpin marga- seperti menjaga kearifan lokal menjadi hilang. “Saat ini arahnya menuju individualistis. Padahal masyarakat Besemah ini terkenal dengan komunalnya (kekeluargaan),”tuturnya.




Kondisi itu ditambahkan Vebri, diperparah dengan tujuan pendidikan di masa kini yang mengarah kepada konsumtif. Sekolah katanya didesain untuk menciptakan para pekerja yang siap pakai. “Kalau sekarang kita tanya kamu sekolah di sana untuk apa? Pasti dijawabnya untuk bekerja di sana. Padahal sekolah tidak sesempit itu,”paparnya.




Untuk itu, Satar maupun Vebri mendorong supaya seluruh pihak di Pagaralam untuk segera melakukan tindakan lebih lanjut. Peranan pemerintah kata Vebri sangat dibutuhkan, misalnya membuat kebijakan supaya masyarakat tidak buta dengan sejarah dan budaya sendiri.

Sejalan dengan Ajaran Islam
BILA dicermati, kearifan lokal masyarakat Besemah yang memperhatikan anak umang dan kerbai jande sejalan dengan ajaran Islam. Banyak perintah Allah yang termuat dalam ayat Al-Qur’an yang menyuruh berbuat baik kepada anak-anak yatim dan janda miskin. Demikian pula denga hadist Nabi Muhammad SAW.




Dalan surah An-Nisa ayat 36 misalnya Allah berfirman yang berarti “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin….”.




Lalu dalam surah Al-Baqarah ayat 1777 Allah yang berfirman, artinya, “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin,”




Bagaimana dengan kerbai jande dibiyekah? Juga sejalah dengan ajaran Islam. Banyak hadist Nabi Muhammad SAW yang memerintahkan umat muslim untuk membantu para janda miskin.




Misalnya saja dalam hadist berikut ini yang berarti “Orang yang berusaha menanggung para janda dan orang miskin itu sama seperti orang yang berjihad di jalan Allah, orang yang qiyam (menegakkan sholat) malam tanpa istirahat dan seperti orang yang berpuasa tanpa berbuka”. [HR Muslim: 2982, al-Bukhoriy: 5353, 6006, 6007. (net/berbagai sumber)

You can leave a response, or trackback from your own site.