Hutan Peramuan Dijaga, Ngerani Jalan di Muke Lawang

Foto: dok/Pagaralam Pos
MASIH ASRI: Salahsatu pemukiman penduduk di kota Pagaralam dengan latar belakang Gunung Dempo dan latar depan persawahan. Foto diabadikan beberapa waktu lalu.

Menyeimbangkan Hubungan Manusia dengan Alam

Tiap dusun besekaman
Sekeman kecik pinggir ayek
Sekaman besak di karang lembak
Ngerani jalan di muke lawang
Tebaris tiang lalu..
———————————————————–
BAIT-BAIT guritan tersebut bukanlah tanpa makna. Itu merupakan bait yang menunjukkan tentang hubungan antara manusia dengan alam. “Tiap dusun besekaman. Ini artinya, bahwa di tiap dusun memiliki tempat pembungan sampah,”ucap Satarudin Tjik Olah, anggota Lembaga Adat Besemah, ketika ditemui Pagaralam Pos di kediamannya kemarin (28/9).




Adapun bait sekeman kecik di pinggir ayek, Satar melanjutkan, memiliki arti bahwa tempat pembuangan sampah berada di tepi sungai. Sekaman besak di karang lembak bermakna bahwa tempat pembuang sampah juga mesti jauh dari pemukiman. Karenanya, “Sampah tidak boleh dibuang di sungai atau di tengah dusun,”tutur Satar.




Dengan dibuang pada tempatnya, maka kondisi lingkungan tetap terjaga. Tidak ada sampah yang menumpuk di sungai pun di sekitar kampung. Di zaman sekarang, sekeman sama dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Di sinilah semua sampah-sampah penduduk bermuara.




Bait selanjutnya berbunyi ngerani jalan di muke lawang. Menurut Satar bait ini memiliki arti, jalan umum mesti bersih dari rerumputan luar. Ini agar jalan ini bisa dilalui penduduk dengan nyaman. Sedangkan bait tebaris tiang lalu dijelaskan Satar, memiliki arti bahwa sebuah pemukiman penduduk mesti tertata dengan rapih.




Menurut Satar, bait-bait dalam guritan tersebut menunjukkan bukti bahwa adat istiadat Besemah memiliki cakupan yang luas. Bukan hanya mengatur manusia dengan manusia dan manusia dengan Tuhannya. Melainkan juga telah mencakup dan mengatur hubungan antara manusia dengan alam. “Hubungan manusia dengan alam mesti seimbang,”sebutnya.




Di luar bait-bait guritan tersebut, Satar juga menyebutkan ada aturan untuk menjaga hutan lindung. Aturan ini berbunui “Jangan nebas hutan peramuan”. Hutan peramuan dijelaskan Satar, sama saja dengan hutan lindung. Maka, aturan jangan nebas hutan peramuan sama artinya dengan larangan merambah Hutlin. Juga ada larangan untuk merusak ulu tulung atau sumber mata air yang digunakan orang banyak untuk kebutuhan minum dan masak.

Ditulis Dalam Kitab
Dalam tradisi Besemah, katanya, sebuah aturan tidak hanya berupa lisan sebagaimana bait guritan tersebut. Sebuah aturan juga ditulis ke dalam lembaran-lembaran kulit kayu, bambu dan batok kelapa.




Belakangan, berdasarkan cerita Satar, adat istiadat Besemah tersebut juga ditulis di dalam kitab Simbur Cahye. Menurut Satar, kitab ini ditulis Ratu Sinuhun Palembang pada tahun 1630 M. Dengan demikian, siapapun dapat membaca sekaligus memahami maknanya.

Kearifan Lokal
Adat yang mengatur tentang hubungan antara manusia dengan alam di masa kini disebut dengan kearifan lokal. Menurut Satar, kearifan lokal merupakan inti dari budaya. “Makna dari budaya, itu kemudian disebut dengan kearifan lokal,”katanya.




Sayangnya, Satar mengakui, di masa kini, larangan-larangan yang menjadi adat istiadat Besemah yang mengatur hubungan manusia dengan alam tersebut mulai luntur. Banyak orang yang tidak paham, apalagi mau menjalankannya. Padahal diakuinya, aturan ini bila diikuti akan membawa kebaikan bagi orang banyak.




Kondisi ini disebutkan Satar berbeda dengan masyarakat zaman dulu yang begitu patuh dengan adat istiadatnya. Katanya, masyarakat zaman dulu sangat yakin dengan kebenaran di balik larangan itu. “Dulu masyarakat Besemah sangat takut dengan sanksi dari ugha kelam (Tuhan Yang Maha Kuasa),”katanya.




Dalam sebuah diskusi dengan Pagaralam Pos beberapa waktu lalu, Budayawan Sumatera Selatan, Vebri Al Lintani mengatakan, tergerusnya adat istiadat juga bisa disebabkan karena dihapusnya sistem pemerintahan marga.




Sejak pemerintahan marga dihapus dan diganti dengan sistem kepala desa katanya, penggunaan adat istiadat di tengah masyarakat Besemah mulai luntur. “Saat ini, tatanan masyarakat Besemah yang dulu sangat kental budaya komunalnya (kekeluargaan), sudah cenderung mengarah ke individualistis,”papar Ketua Dewan Kesenian Palemang ini.

Tanda-tanda Kerusakan Alam
SATAR yang kini berusia 81 tahun hanya bisa mengelus dada manakala mendengar informasi ada area persawahan di Pagaralam dilanda kekeringan. Ia terkenang dengan masa lalunya yang pasokan air untuk persawahan masih melimpah. “Dulu, air untuk sawah itu tingginya bisa sebatas pinggang. Sekarang, air sawah sudah sebatas mata kaki,”katanya.




Di lain waktu, ia mendengar ada kabar berita sebuah rumah tertimbun longsor. Juga ada banjir bandang yang menghanyutkan rumah penduduk serta persawahan.Bagi Satar, kondisi ini merupakan sebuah tanda. Bahwa katanya, hubungan antara manusia dengan alam sekarang sudah mulai tidak seimbang. Penduduk sudah tak mau lagi menuruti adat istiadat yang mengatur hubungan antara manusia dan alam.




Keringnya air untuk persawahan, menurut Satar, merupakan tanda bahwa hutan lindung mulai rusak. Pohon-pohon di rimba belantara mulai banyak ditebang. Hutan lindung sudah mulai beralih fungsi menjadi lahan perkebunan. Maka, tak heran bila air di sungai-sungai-terutama di musim kemarau- surut bahkan kering samasekali. “Fungsi hutan kan untuk menjaga air di dalam tanah,”sebutnya.

Mengelola Sekaligus Menjaga
HUBUNGAN manusia dengan alam pada dasarnya didasarkan pada dua prinsip yaitu: pertama, kewajiban menggali dan mengelola alam dan segala kekayaannya. Kedua manusia sebagai pengelola alam tidak diperkenankan merusak lingkungan karena kerusakan lingkungan pada akhirnya akan merusak kehidupan umat manusia itu sendiri.




Mengenai prinsip pertama, Allah berfirman dalam surat Hud ayat 61 yang artinya :”Dia (Allah) telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan memerintahkan kalian memakmurkannya (mengurusnya)”.




Adapun prinsip yang kedua dinyatakan ALLAH melalui berbagai ayat didalam Al-Qur’an, diantaranya surat Al-A’raf ayat 56 yang artinya :”Janganlah kamu berbuat kerusakan dimuka bumi setelah ALLAH memperbaikinya”

Simbiosis Mutualisme
Hubungan manusia dan alam semesta merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Manusia sebagai makhluk hidup tentu untuk mempertahankan hidupnya pastilah membutuhkan alam semesta sebagai tempat untuk hidup. Akan tetapi disamping itu alam satu sama lain semesta akan dapat terjamin kelangsungan dan kelestariannya sangat tergantung pada manusia. Dalam konteks ilmu alam inilah yang disebut dengan simbiosis mutualisme bahwa antara manusia dan alam semesta memiliki ketergantungan .




Pada dasarnya manusia dengan seluruh potensi yang dimilikinya sangat memahami bahwa dirinya adalah satu-satunya makhluk yang bertanggung jawab terhadap kelestarian alam semesta disamping peran sunnatullah yang diemban seluruh makhluk hidup. Jika mencoba menelusuri secara lebih jauh, maka pada dasarnya hubungan manusia dengan alam semesta dapat dibagi ke dalam dua bahagian yaitu hubungan historis dan hubungan fungsional.




Hubungan manusia dan alam. Alam pada dasarnya mengajarkan banyak hal, tinggal bagaimana kita sebagai manusia yang mendiami bumi dapat mengamati dan menghayati arti keberadaan alam dalam menunjang hidup dan kehidupan kita sebagai mahkluk hidup sebagai salah satu bagian dari alam itu sendiri.




Alam mengajarkan kita untuk saling menghormati sesama mahkluk hidup meskipun hukum alam tetap berlaku namun sistem dan penerapanya harus di dasarkan pada rasa cinta akan alam. (net/berbagai sumber)

You can leave a response, or trackback from your own site.