Pabrik ARPA Ditutup

Foto: Pidi/Pagaralam Pos
STOP BEROPERASI: Petugas gabungan dari unsur Satpol PP dan kepolisian memasang segel di salahsatu pintu masuk pabrik ARPA kemarin.

PAGARALAM POS, Pagaralam – Pemerintah Kota Pagaralam menutup pabrik air minum dalam kemasan merek ARPA, kemarin (11/10). Ini dilakukan karena izin pabrik yang berada di Dusun Sukarami, Kecamatan Dempo Utara ini diklaim sudah berakhir.




Pantauan Pagaralam Pos, petugas gabungan dari unsur Satpol PP, kepolisian memasang segel tanda penutupan serta garis polisi di tiga titik pintu masuk pabrik. Sebelumnya, petugas gabungan ini telah mengecek kondisi di dalam pabrik yang dikelola PT Ayek Besemah ini. “Karena izin mereka (pabrik ARPA) seperti izin higienis, kesehatan maupun operasionalnya sudah berakhir. Sebelum izin-izin ini diperpanjang lagi, ditutup dulu,” tegas Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Pagaralam, Saidi Amrullah SSos MM, ditemui usai penyegelan.




Sejak kapan izin seperti POM dan SNI ARPA berakhir? Saidi mengaku tidak terlalu hafal tanggal persisnya. Menurut dia, penutupan pabrik ARPA sesuai dengan arahan dari Walikota Pagaralam, Alpian SH. Bila tidak ditutup, dikhawatirkan ada usaha-usaha untuk meneruskan operasional pabrik dengan melakukan produksi, padahal izinnya-misalnya saja izin POM- telah habis. Bila ini terjadi, Saidi menyebutkan, akan timbul persoalan kesehatan. “Kalau diteruskan, bisa bahaya,” terangnya.




Pagaralam Pos mengecek produk ARPA di situs cekbpom.go.id. Di situs ini, produk ARPA tercatat memiliki tiga nomor registrasi untuk kemasan berbeda. Tiga nomor registrasi telah habis masa berlakunya sejak Juni lalu. Masa berlaku nomor registrasi MD 265206003084 untuk kemasan plastik ukuran 19 liter telah berakhir sejak 24 Juni lalu. Kemudian masa berlaku registrasi bernomor MD 265206002084 untuk kemasan plastik ukuran 600 ml dan 1500 ml berakhir pada 11 Juni lalu. Adapun masa berlaku registrasi bernomor MD 265206001084 untuk kemasan plastiks 240 ml telah berakhir pada 11 Juni lalu.




Saidi belum bisa memastikan penutupan tersebut akan berlangsung sampai kapan. Dia menyebutkan, tergantung dengan evaluasi dari tim. Peralatan pabrik, seperti mesin masih ada. Sumber daya manusia (SDM), nanti dikatakannya untuk sementara waktu dirumahkan dahulu. “Pada saatnya nanti SDM pabrik ini akan kami panggil lagi,” tambahnya.




Ditemui di tempat yang sama, Kapolres Pagaralam AKBP Dwi Hartono SIk MH melalui Kasat Reskrim AKP Helmi menyebutkan, pabrik yang sudah habis izinnya tidak boleh dibuka. “Kalau izinnya sudah habis, ya tidak boleh beroperasi dan berproduksi. Sementara waktu pabrik ARPA mesti ditutup,” katanya.




Diakui Helmi, penutupan akan membuat pabrik ARPA menjadi sepi. Kondisi ini rawan untuk dimanfaatkan orang-orang yang tidak bertanggung-jawab. Karenanya dia memastikan, pihaknya akan berkoordinasi dengan Pemkot Pagaralam untuk melakukan pengawasan serta pengamanan pabrik. “Nanti aparat kami akan rutin patroli. Tentu saja untuk penanggung jawab tentu Pemkot karena sebagai pemilik aset,” jawabnya.




Helmi belum bisa memastikan tentang ada tidaknya dugaan kerugian yang ditimbulkan karena tutupnya Pabrik ARPA. Kendati dia menyatakan, pihaknya akan melakukan pengusutan bila ditemukan ada dugaan tindak pidana.




Pengamatan di lapangan, ARPA menghilang dari pasaran sejak Juni lalu. Di toko-toko tak nampak lagi ARPA. Pun di acara-acara hajatan di dusun-dusun. Yang marak justru air minum dalam kemasan buatan daerah lain, seperti dari Bengkulu.

Habis ARPA Terbitlah ARPARO
ARPA memang telah menghilang dari pasaran. Meskipun demikian, masyarakat Pagaralam masih bisa menikmati air minum yang sumbernya sama dengan ARPA. Air minum ini disebut ARPARO, singkatan dari ARPA Reverse Osmosis alias isi ulang. “Sesuai janji saya dulu, ARPARO resmi kami lempar ke pasaran awal September lalu,” ucap Direktrur CV Green Paradise, Zamhari Hamka, ditemui di kediamannya kemarin.




Menurut Syam-sapaan akrab Zamhari Hamka- ARPARO sumbernya sama dengan ARPA, dari mata air di kompleks pabrik ARPA. Air dari sumber ini katanya, dialirkan melalui pipa lalu diolah ke dalam mesin RO. Hasil olahan RO ini kemudian dimasukken ke galon-galon plastik. “Kualitas ARPARO tak kalah dengan dengan yang lain,” klaimnya sembari merujuk hasil penelitian sebuah kampus ternama terhadap kualitas airnya.




Itulah sebabnya diakui Syam, ARPARO bisa dijadikan semacam ‘obat’ bagi yang rindu dengan ARPA. Harganya dipastikan Syam tidak mahal, Rp 10 ribu per galon. “Kami punya HET (harga eceran tertinggi),” sebut Syam sembari menambahkan, ARPARO telah beredar di sejumlah toko di Pagaralam.




Syam-yang tercatat sebagai kepala keamanan Pabrik ARPA- sendiri mendukung penutupan pabrik ARPA. Dia menyebutkan, penutupan ini dapat dijadikan sebagai titik awal untuk memulai yang baru agar ke depannya lebih baik lagi.

Kak Pian: Untuk Meniadakan Kecurigaan
WALIKOTA Pagaralam Alpian Maskoni SH mengklaim penutupan pabrik ARPA bukanlah langkah yang terlambat. Justru kata dia, penutupan ini sudah tepat waktu meski izin produk pabrik ini sudah lama mandek. Menurut dia, penutupan ini bisa menutup celah kecurigaan-kecurigaan yang mungkin saja tumbuh dan berkembang di masyarakat. “Mungkin saja ada yang curiga bahwa ARPA masih berproduksi dan beredar di pasar. Dengan disegel, kecurigaan itu bisa ditiadakan,”ucap Alpian, ketika dihubungi Pagaralam Pos kemarin.




Alpian menyebutkan, penutupan akan berlangsung sampai dengan hasil audit selesai. Audit yang dilakukan akuntan independen katanya, akan memeriksa pembukuan ARPA. Hal-hal yang berkaitan dengan untung dan rugi yang didapat perusahaan juga diaudit. Toh Alpian menyebutkan, selama ini ARPA selalu merugi. Akibatnya, menurut dia, Pemkot Pagaralam selaku salahsatu pemegang saham di PT Ayek Besemah-pengelola pabrik ARPA- tak pernah kebagian untungnya. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.