Base Besemah, Bukan Base Dusun !

Foto: Dok/Pagaralam Pos
AKSARA BESEMAH : Nama sebuah jalan di Pagaralam ditulis dengan aksara Besemah. Foto diabadikan beberapa waktu lalu.

Penamaan base dusun lebih populer ketimbang Base Besemah. Salah kaprah karena berkonotasi ‘kampungan’.
————————————————-
RA Dewi Saputri (34) masih ingat dengan pendapat yang dilontarkan seorang tokoh asal Kota Pagaralam di sebuah acara. Tokoh ini kata Wiwik-sapaan akrab RA Dewi Saputri- tak sepakat dengan istilah base dusun bagi bahasa yang dipakai sehari-hari oleh masyarakat Besemah, termasuk di Kota Pagaralam ini.




“Base dusun konotasinya seperti bahasa kita ini seperti bahasa ‘kampungan’,” kata tokoh itu seperti ditirukan Wiwik kepada Pagaralam Pos yang menemuinya di kantor Yayasan Pecinta Sejarah dan Kebudayaan (Pesake) Cabang Pagaralam di Dusun Bumi Agung Kecamatan Dempo Utara, Selasa lalu (9/10).




Wiwik yang menjadi pengurus Pasake Cabang Pagaralam ini sepakat dengan pendapat tokoh tersebut. Menurut ibu satu anak ini, penamaan yang lebih tepat bagi bahasa sehari-hari yang dipakai masyarakat Besemah adalah Base Besemah. Inilah sebabnya, Wawik menyatakan, Yayasan Pesake berusaha mengubah penamaan tersebut. Penamaan Base dusun katanya pelan-pelan diubah menjadi Base Besemah.




Mady Lani, Pemerhati Budaya Besemah mengatakan, base dusun yang melekat bagi bahasa yang dipakai masyarakat Besemah tak identik dengan konotasi ‘kampungan’. “Kenapa dinamakan base dusun. Ini karena Base Besemah dianggap bahasa yang unik,”ucap Mady yang saat ini berada di Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), ketika dihubungi Pagaralam Pos kemarin (12/10).




Toh, Mady mengakui penamaan base dusun lebih populer ketimbang Base Besemah. Juga masyarakat Besemah sendiri kadangkala sering memakai bahasa daerah lain seperti Palembang. Menurut Mady, hal ini tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Katanya, selagi di dalam rumah, masih menggunakan Base Besemah, anak-anak boleh saja belajar bahasa lain.




Sementara itu Ketua Yayasan Pasake Ahmad Bastari Suan menyatakan, base dusun bukanlah nama resmi bagi bahasa yang dipakai masyarakat Besemah. “Yang resmi itu Base Besemah atau Bahasa Besemah. Orang luar negeri saja menyebutnya Bahasa Besemah,”ucapnya, ketika dihubungi secara terpisah kemarin.




Selain itu menurut dia, penamaan base dusun tak melulu identik dengan Bahasa Besemah. Bahasa daerah lain juga bisa dinamakan sebagai base dusun. “Jeme Jawe makai base dusunnya yakni Base Jawe. Jeme Palembang juga menggunakan base dusunnya yakni Base Palembang,”tutur Bastari, ketika dihubungi secara terpisah kemarin.




Namun Bastari mengakui, penamaan base dusun lebih sering digunakan ketimbang Base Besemah. Karena itu, katanya, dibutuhkan peran serta seluruh lapisan masyarakat untuk mengubah penamaan itu. “Harus dikampanyekan menjadi Base Besemah,”seru dia.




Kampanye yang diminta Bastari itu sejatinya sudah dimulai melalui sebuah buku. Sebuah buku berjudul Aksara Base Besemah yang disusun Dr Sutiono Mahdi dan RA Dewi Saputri menjadi buktinya. Buku yang menjabarkan tentang pelajaran membaca dan menulis surat ulu ini menuliskan kata pengantarnya dalam Base Besemah. Tentu saja, buku yang setebal 151 halaman ini menyediakan juga kata pengantar yang ditulis dalam Bahasa Indonesia.

Tata cara menulis dan membaca aksara Besemah

Berbahasa Besemah Beraksara Ulu
BAHASA Besemah sudah menjadi penamaan resmi. Tapi aksara atau tulisannya masih disebut dengan aksara ulu. Mengapa tidak disebut aksara Besemah saja? “Aksara ulu dan aksara Besemah itu sebenarnya sama saja,”ucap RA Dewi Saputri, Ketua Yayasan Pesake Cabang Pagaralam, ditemui Pagaralam Pos beberapa waktu lalu.




Memang diakuinya, aksara ulu lebih populer ketimbang aksara Besemah. Apalagi dalam Kitab Simbur Cahye yang ditulis Ratu Sinuhun Palembang, aksara yang digunakan disebut dengan aksara atau surat ulu. Toh, Wiwik menyatakan, perbedaan nama tersebut tidak perlu diperdebat panjangkan. Yang penting katanya, aksara Besemah maupun aksara ulu mesti dipahami dan dipelajari.




Adapun Mady Lani, seorang pemerhati Budaya Besemah, menjelaskan, dinamakan aksara ulu karena aksara ini berasal dari daerah uluan (hulu). Namun pada prinsipnya katanya, aksara ulu itu sejatinya adalah aksara Besemah.




Sementara itu Ketua Yayasan Pesake Palembang Ahmad Bastari Suan selain aksara ulu, aksara Besemah juga memiliki nama lain yakni surat ghincung. Ini karena katanya, aksara Besemah ditulis dengan gaya yang merencong.




Dr Sutiono Mahdi dan RA Dewi Saputri dalam buku Aksara Bese Besemah menjelaskan, dinamakan aksara Besemah kerab disebut surat ghincung karena mungkin setiap huruf ada garis yang merencong alias miring ke kanan.




Sutiono dan Dewi juga menjelaskan, dalam bukunya itu juga dihindari penggunaan istilah ulu. Ini ditujukan supaya tidak dianggap orang remeh atau ‘kampungan’. “Make make mudah kita ngicekkanye, dalam buku ini kah diguneka istilah surat ghincung baih, atau cukup nga kate surat saje,”tulis Sutiono dan Dewi di bab pertama.

Nama Jalan
Aksara Besemah sendiri sudah diterapkan ke pelbagai aspek, salahsatunya dalam penulisan nama jalan. Di Pagaralam, nama-nama jalan ditulis dengan aksara Besemah. Tengok saja misalnya papan nama Jalan Air Perikan yang membelah kawasan Air Perikan Kecamatan Pagaralam Selatan. Juga papan nama Jalan Kapten Sanaf yang membelah kawasan Dempo Reokan Kecamatan Pagaralam Utara.




Nama dua jalan tersebut ditulis menggunakan aksara Besemah. Lalu di bawahnya juga ditulis nama jalan menggunakan aksara latin Bahasa Indonesia sehingga masyarakat umum bisa memahaminya. Papan nama kantor Lembaga Adat Besemah di kawasan Koramil Lama juga ditulis dengan aksara Besemah dan latin sekaligus. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.