Cerita Di Balik Aksara Surat Ulu

Foto: Pidi/Pagaralam Pos
PERLU DILESTARIKAN: Buku Aksara Base Besemah yang ditulis Dr Sutiono Mahdi dan RA Dewi Saputri menjabarkan tentang tata cara menulis dan membaca tulisan aksara Besemah.

Berawal Dari Kisah Putri Negeri Bawah Angin
Kemunculan aksara surat ulu, bukan datang begitu saja. Ada cerita menarik yang mengiringi kelahirannya. Cerita ini ditulis ulang oleh Pagaralam Pos dengan sumber dari tulisan Lembaga Adat Besemah Pagaralam.
—————————————-
Pidi Rahmansyah, Pagaralam
—————————————-
ALKISAH, Raja Negeri Bawah Angin mempunyai seorang putri yang amat cantik. Bahkan, kecantikan putri ini termasyur sampai ke negeri-negeri tetangga. Selain fisiknya, putri raja ini juga terkenal karena keelokan budi pekertinya. Maka, lengkap sudah kesempurnaan yang dimiliki sang putri ini.




Hingga akhirnya, tersiarlah berita yang mengejutkan. Isinya menyebutkan bahwa kesehatan sang putri tiba-tiba saja memburuk. Putri raja jatuh sakit. Demikian isi beritanya. Dengan cepat berita ini menyebar ke seantero penjuru Negeri Bawah Langit dan tetangga. Semua orang gempar karenanya. Semua orang prihatin. Konon, sang putri raja sakit, karena diguna-guna oleh panggeran dari negeri antabrata. Sang panggeran sakit hati karena lamarannya ditolak oleh Raja Negeri Bawah Angin.




Mendapati putrinya sakit, Raja Bawah Angin sangat sedih hatinya. Puluhan tabib dan dukun lalu dikerahkannya untuk menyembuhkan anak kesayangannya itu. Sayang, belum ada yang bisa menyembuhkan sang putri. Sebagai orang tua, tentu saja Raja bersama Ratu tentu sangat gelisah sekaligus putus asa melihat anaknya tak kunjung sembuh.




Sampai suatu ketika, muncullah ide dari penasehat kerajaan, agar raja mengadakan sayembara. Yaitu, barang siapa yang bisa menyembuhkan penyakit sang putri akan mendapatkan penghargaan. Apabila yang bisa menyembuhkan itu adalah laki-laki maka akan dijadikan suami sang putri. Dan jika yang bisa menyembuhkan itu adalah perempuan maka akan dijadikan anak angkat sang raja. Raja lalu menyetujui ide dari panasehat itu. Maka, sayembara itu lalu digelar dan disyiarkan ke seluruh penjuru Negeri Bawah Angin.




Berita sayembara ini begitu cepat tersebar. Para pedagang membawa informasi ini hingga sampailah ke Negeri Atas Angin. Berita sayembara ini pun terdengar juga oleh Panggeran Negeri Atas Angin yang bergelar Senambun Tue. Setelah mendapatkan restu dari ayahandanya (Raja Atas Angin), Senambun Tue akhirnya memutuskan ikut sayembara.
Maka, setelah berangkalah Senambun Tue ke Negeri Bawah Angin. Sesampainya ke tujuan, Senambun Tue mendapatkan sambutan hangat dari Raja Bawah Angin.




Sangat besar harapan dari Raja Bawah Angin terhadap Senambun Tue ini. Senambun Tue paham dengan harapan sang raja itu. Maka ia bergegas melihat kondisi putri sang raja yang terbaring lemah tak berdaya diatas pembaringan. “Putri terkena ilmu sihir. Lawan dari ilmu sihir ini adalah ilmu putih,”ujar Senambun Tue sesaat setelah melihat kondisi sang putri raja. Senambun Tue tak mau menyia-nyiakan waktu yang ada, karenanya dengan cepat ia melakukan ritual pengobatan untuk sang putri.




Hari berganti-hari, perubahan mulai nampak pada diri sang putri setelah menerima pengobatan dari Senambun Tue. Berangsur-angsur kesehatan fisik sang putri pulih. Demikian pula dengan psikisnya. Hingga akhirnya putri itu sembuh total. Melihat hal ini, Raja Bawah Angin girang bukan main. Ia mengucapkan banyak terimakasih kepada Senambun Tue. Raja pun menepati janjinya. Yakni menikahkan Senambun Tue dengan putrinya. Akhirnya kedua insan beda negeri ini menikah.




Kisah kedua insan ini pun mendapat perhatian salahseorang pemuka adat kerajaan setempat yang berjuluk Mpu Temenggung Raksa. Tokoh yang satu ini menulis kisah Senambun Tue dan Putri Raja Bawah Angin itu kedalam sebuah sajak di kayu kaghas. Bunyinya kurang lebih sebagai berikut, “Kaganga tadana, pabama cajanya, sarala yawaha, mbangga ndanja agha, ngkanta mpanca,”. Artinya,“ Dari negeri kute betare, diantare bumi dengan langit, diantare kelam dengan nyate, diatas angin dibawah angin, disanelah beliau bemule,”




Agar tetap lestari Raja Bawah Angin mewajibkan semua rakyat untuk menghafa sajak-sajak itu denga baik dan benar. Maksudnya agar semua keturunan tidak melupakan kisah itu. Yang menarik, sajak-sajak itu dibuatkan tanda baca khusus. Menurut Lembaga Adat Besemah Kota Pagaralam, sajak-sajak inilah yang menjadi cikal bakal aksara huruf ulu. (**)

You can leave a response, or trackback from your own site.