Ibatan di Zaman ‘Now’

Lebih Praktis tapi Kurang Bermakna
Ibatan (hadiah) untuk seseorang yang baru saja menghadiri undangan sebuah persedekahan di zaman dulu dengan zaman ‘now’ berbeda. Ibatan di zaman dulu sarat akan makna.




ASMADI bersedih ketika melihat bentuk ibatan dari tempat persedekahan di sebuah dusun di Pagaralam beberapa waktu lalu itu. Ketika ibatan dibuka, kesedihan Mady Lani-sapaan akrab Asmadi- kian menjadi. “Bentuk dan isi ibatan zaman dulu tidak seperti itu,”ucap Mady, menceritakan pengalamannya ketika mendapatkan ibatan, ketika dihubungi Pagaralam Pos kemarin (2/11).




Mady masih ingat betul bentuk dan isi ibatan di zaman dulu, persisnya pada era 1980-an. Katanya mengingat-ngingat, ibatan di zaman dulu dibungkus dengan daun pisang bukan seperti sekarang dibungkus plastik. Adapun isi ibatan disebutkannya antara lain dodol, pisang goreng, dan aneka roti khas buatan ahli rumah. Tak jarang ibatan berisi panganan dari olahan daging sapi. “Di zaman ‘now ‘isi ibatannya mie goreng dan dencis,”tutur Mady yang kini berdomisili di Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) ini.




Mady tak tahu persis kapan bentuk dan isi ibatan tersebut mengalami perubahan. Ia memperkirakan perubahan ini terjadi sejak awal tahun 2000-an. Masuknya budaya yang serba praktis dan instan membuat ibatan dari tempat persedekahan juga terpengaruh. Penduduk sepertinya tak mau lagi repot-repot membuat aneka panganan khas untuk dimasukkan ke dalam ibatan. Belum lagi ditambah faktor ekonomi yang tak sebaik seperti zaman dulu.“Awalnya dari satu rumah, maka yang lainnya meniru,”ujarnya.




Padahal, menurut Mady, ibatan khas Besemah yang isinya aneka panganan tradisional bukanlah tanpa makna. Ia mengatakan, ibatan dan isinya memiliki makna tersendiri. Adapun ibatan di zaman sekarang lanjutnya tetap bermakna tapi tidak setinggi di zaman dulu. “Kalau dulu, kalau ada ibatan yang isinya dencis dan mi goreng, itu tandanya rumah yang bersedekah dide bemasak (tidak masak makanan),”ucap anggota Lembaga Adat Besemah Satarudin Tjik Olah ketika ditemui Pagaralam Pos di kediamannya kemarin.

Jenis-Jenis Ibatan
Sebagaimana Mady, Satar juga mengatakan, ibatan di zaman sekarang sangat berbeda dengan zaman dulu. Baik bentuknya apalagi isinya sebutnya, sangat jauh berbeda. “Ibatan itu ada dua jenis. Ibatan ambur dan ibatan jeme nungguk i,”ucap Satar.




Ibatan ambur dijelaskan Satar diperuntukkan bagi orang yang menghadiri undangan di tempat persedekahan. Ibatan ini berisi di antaranya pisang goreng, dodol, roti satu, roti gulung, kerpik bumbai dan sebagainya. “Begitu dibawa ke rumah, ibatan itu di buka untuk dicicipi bersama anggota keluarga lainnya,”tuturnya.




Adapun ibatan jeme nungguk i lanjut Satar, ada dua macam yakni ibatan untuk anak belai dan ibatan untuk julatan. Ibatan untuk anak belai berisi aneka makanan yang di buah ahli rumah dalam jumlah yang banyak. Tak jarang di masa itu, anak belai mendapatkan potongan daging sapi. Sedangkan ibatan untuk julatan lanjut Satar juga berisi aneka panganan yang bentuk dan jumlahnya tak sebanyak dengan anak belai.




Diakui Satar, perubahan bentuk dan isi ibatan di masa sekarang tak bisa dipisahkan dari pengaruh perubahan zaman. Disebutkannya di masa kini, masyarakat cenderung ingin mengambil yang ringkas dan cepat.




Toh perubahan-perubahan terhadap ibatan ini kata Satar tak dapat disalahkan. Yang terpenting lanjut dia, bahwa budaya memberi ibatan setidaknya masih bertahan. “Biarpun bentuk dan isinya berubah, yang penting masih ada,”ucapnya.

Dodol jadi Ciri Khas
Lembaga Adat Besemah sendiri berupaya keras untuk mengembalikan tradisi Besemah, terutama yang berkaitan dengan persedekahan. Kata Anggota Lembaga Adat Besemah Satarudin Tjik Olah, pihaknya selalu menghimbau kepada masyarakat kalau mau menggelar persedekahan, paling tidak membuat dodol. “Meskipun cuman satu wajan, mesti dibuat,”kata Satar kemarin.




Menurut Satar, itu karena dodol adalah pertanda khusus di Besemah. Bila sudah ada pembuatan dodol secara bersama-sama di sebuah halaman rumah katanya, orang-orang sudah bisa menyimpulkan bahwa sebentar lagi akan ada yang sedekah. Selain itu lanjut Satar, dodol Besemah memiliki rasa yang khas. “Dodol Besemah beda denga dodol Garut. Beda pula dengan dodol Kalimantan,”sebutnya.




Toh Satar mengakui di zaman sekarang, untuk mewujudkan hal tersebut bukanlah perkara mudah. Banyak faktor yang bisa menghadangnya. Di antaranya adalah faktor sumber daya manusia. “Kalau tidak ada orang yang mampu membuat dodol, bagaimana bisa dijalankan,”ucapnya.

Selalu ada Ayam ‘Pramuka’
AYAM Pramuka. Demikian nama yang disematkan buat unggas yang berbulu bewarna merah kecokelat-cokelatan ini. Di Pagaralam dan sekitarnya, ayam ini menjadi bawaan utama bagi orang yang datang ke tempat persedekahan.




“Tradisi membawa ayam pramuka ke tempat orang sedekah atau hajatan itu belum terlalu lama. Baru muncul di sekitar tahun 1980-an,”kata Anggota Lembaga Adat Besemah, Satarudin Tjik Olah, ditemui kemarin. Umumnya, selain membawa ayam pramuka, juga dibawa satu kantong plastik berisi kerupuk. Dua bawaan ini lalu diserahkan kepada ahli rumah.




Sebelum membawa ayam pramuka lanjut Satar, orang yang datang ke tempat orang sedekah membawa bake yang berisi lemang, beras, niugh, bajik dan lainnya. Dulu disebutkan Satar, orang yang membawa bake ini biasanya keluraga dekat pihak yang akan menggelar hajatan. “Ada juga yang membawa jambangan atau bakul lalu diisi dengan beras dan niugh lalu dibalut dengan seprai. Yang seperti ini biasanya undangan biasa,”tuturnya.




Adapun membawa hal-hal tersebut dijelaskan Satar adalah untuk membantu ahli rumah, terutama yang terkait dengan pembuatan panganan. Diharapkan, bantuan tersebut dapat membuat acara hajatan ahli rumah berjalan lancar dan sukses tanpa terkenda sesuatu apapun.




Mengapa sekarang lebih populer membawa ayam pramuka? Satar memperkirakan, karena faktor perubahan zaman. Katanya, dewasa ini masyarakat tak mau lagi seperti dulu yang mau repot-repot. Cukup dengan membawa ayam pramuka, selesai. “Sebenarnya, dengan membawa amplop berisi uang saja sudah cukup. Tapi ya itu tadi karena sudah menjadi tradisi, rasanya lebih pas membawa ayam,”tutur Satar. (11)

Ibatan Besemah
Ibatan merupakan hadiah bagi para undangan. Di masa lalu ibatan terdiri dua jenis yakni:

Ibatan ambur yang diperuntukkan bagi orang yang menghadiri undangan di tempat persedekahan. Ibatan ini berisi di antaranya pisang goreng, dodol, roti satu, roti gulung, kerpik bumbai dan sebagainya.

Ibatan jeme nungguk i, ada dua macam yakni ibatan untuk anak belai dan ibatan untuk julatan. Ibatan untuk anak belai berisi aneka makanan yang di buah ahli rumah dalam jumlah yang banyak. Sedangkan ibatan untuk julatan lanjut Satar juga berisi aneka panganan yang bentuk dan jumlahnya tak sebanyak dengan anak belai. (*)

You can leave a response, or trackback from your own site.