Kecamuk Perang di Kute Tebat Seghut

Foto: Dok/Pagaralam Pos
MELAWAN LUPA : Sebuah tugu yang dicat warna putih tertanam di kawasan perempatan lampu merah jalan Kapten Sanaf. Ini merupakan tugu yang dibangun pada 1956 untuk memperingati perlawanan rakyat Besemah melawan Belanda. Foto diabadikan beberapa waktu lalu.

Antara Harga Diri dan Pengkhianatan

Kalu Belande datang kite ditindas
Sedikit tidak disuruh hidup senang…

PERANG berkobar di Besemah. Rakyat Besemah mengangkat senjata melawan tentara penjajah kolonial Belanda yang ingin menduduki Kute (benteng pertahanan) Tebat Seghut. Hari itu kalander bertarikh di angka tahun 1866. Untuk pertamakalinya Belanda hendak menancapkan kukunya di Besemah.




“Perlawanan rakyat Besemah terhadap Belanda dipimpin para depati, hulubalang sampai jurai tue,” tutur sejarawan Besemah yang kini tinggal di Palembang, Ahmad Bastari Suan, dihubungi Pagaralam Pos, kemarin (9/11).




Tak mudah bagi Belanda untuk memadamkan perlawanan rakyat Besemah. Untuk sekedar menembus benteng pun sulit. Ini karena menurut Bastari, struktur Kute Tebat Seghut didesain untuk memiliki pertahanan yang kuat. “Kute Tebat Seghut dikelilingi dengan parit besar. Di pematang parit ditanami aur duri (bambu berduri),”sebut Bastari mengenai struktur Kute Tebat Seghut.




Kecamuk peperangan di Tebat Seghut baru berakhir pada 1867. Rakyat Besemah kalah. Kekalahan ini menurut analisis Bastari karena ada tiga faktor yakni senjata, disiplin perang, serta adanya pengkhianatan. Saat itu katanya, senjata yang digunakan rakyat Besemah masih tradisional. Tentu sulit menandingi persenjataan Belanda. Rakyat Besemah pun bukan seperti sepasukan militer yang memiliki disipilin yang tinggi.




Kondisi itu lanjut Bastari, diperparah dengan adanya pengkhianatan dari rakyat Besemah sendiri. Bentuk pengkhianatan ini di antaranya membocorkan lokasi sumber mata air yang diperuntukkan bagi kebutuhan rakyat di dalam Kute Tebat Seghut.Dibocorkannya lokasi sumber mata air ini membuat Belanda mudah melakukan blokade terhadap kebutuhan air bersih di Kute Tebat Seghut. Adapun caranya disebutkan Bastari di antaranya menutup sumber mata air sampai dengan menempatkan bangkai hewan.




Akibatnya mudah ditebak. Rakyat Besemah yang berdiam di dalam Kute Tebat Seghut kesusahan untuk mendapatkan air bersih. Pada akhirnya mereka mau tak mau ke luar dari benteng pertahanan dan mudah untuk diserang.“Adanya pengkhianatan ini memang sangat menyedihkan dan patut disesalkan. Tapi, bagaimana pun juga dalam setiap peperangan, pasti ada pengkhianat. Meskipun menyakitkan, ini harus dicatat,” sebut Bastari.




Anggota Lembaga Adat Besemah Satarudin Tjik Olah membenarkan adanya faktor pengkhianatan yang menjadi salahsatu penyebab kekalahan perang di Kute Tebat Seghut. Ditemui Pagaralam Pos di kantor Lembaga Adat kemarin (9/11), Satar menyebutkan, pengkhianat ini bukan berasal dari kalangan pemimpin kala itu. Ia yakin, para pemimpin Besemah saat itu memiliki integritas yang tinggi.




Toh meskipun kalah, Bastari memastikan, rakyat Besemah menolak untuk menyerahkan diri. Mereka kata dia, tetap melakukan perlawanan meskipun intensitasnya tinggi lagi. Ada juga yang ke luar dari Besemah.




Adapun dari pihak Belanda meskipun memenangi peperangan, namun menderita kerugian jiwa yang tak sedikit. Baik Satar maupun Bastari meyakini, jumlah korban jiwa dari pihak Belanda sangatlah banyak. “Mayat tentara Belanda tergeletak di mana-mana. Saya dengar cerita, jumlahnya mencapai ribuan orang,”kata Satar. “Dulu di Kota Lahat, itu ada pemakaman khusus orang Belanda. Ini merupakan tempat tentara Belanda yang dulu tewas di kute-kute buatan jeme Besemah,”sebut Bastari.

Palembang Jatuh, Besemah Merdike
Kabar itu akhirnya sampai juga di telinga para pemimpin Besemah. Hari itu kalender bertarikh di angka tahun 1825. Kabar ini berbunyi: Kesultanan Palembang yang dipimpin Sultan Mahmud Badarudin II jatuh di tangan penjajah Belanda.




Para pemimpin Besemah geram. Mereka pun berkumpul di Gelung Sakti. Yang hadir di antaranya adalah para penggiran, depati, hulubalang sampai jurai tue. “Para pemimpin Besemah berkumpul untuk mengadakan sidang umum atau musyawarah,”ucap pemerhati sejarah Besemah, Ahmad Bastari Suan kepada Pagaralam Pos kemarin.




Tujuan sidang lanjut Bastari, untuk mengambil sikap atas jatuhnya kesultanan Palembang ke tangan Belanda. Dikhawatirkan takluknya Kesultanan Palembang ini akan membuat Belanda menginvansi daerah-daerah lain termasuk Besemah. “Pelimbang lah kalah kalah. Raje lah dikurung. Lukmane kalu Belande mudik ke Besemah,”seru salahseorang pemimpin Besemah dalam sidang itu seperti yang ditirukan Bastari.




Beberapa peserta sidang lain angkat bicara. Sembari mengangkat senjata antara lain keris, balau (tombak) mereka berucap hampir serentak “Kalu Pelimbang lah jatuh, Besemah merdike,”. Adapun maksudnya kurang lebih yang jatuh itu Palembang, bukan Besemah.




Maka, sidang hari itu pun memutuskan untuk mengadakan perlawanan bila Belanda memang akan datang ke Besemah. Tidak melawan berarti harga diri terinjak-injak. “Para pemimpin Besemah lalu mengumumkan kepada rakyatnya untuk bersiap-siap perang,”tutur Bastari.




Upaya perlawanan itu dimulai dengan mendirikan kute-kute sebagai benteng pertahanan di seantero Besemah. Bastari menyebutkan kute-kute didirikan di lokasi yang strategis (Baca Kute-Kute Besemah). Salahsasatu kute yang paling terkenal itu adalah Kute Tebat Seghut. Kute ini berada kawasan yang sekarang masuk Kecamatan Pajar Bulan Kabupaten Lahat.




Yang dikhawatirkan pun menjadi kenyataan. Tentara Belanda mulai menyerang tanah Besemah. Mula-mula tutur Bastari, tentara Belanda menyerang Kute Jati- yang sekarang terletak di pinggiran Kota Lahat- pada 1854. Peperangan di kute ini berlangsung sengit dan memakan waktu yang lama. Baru pada 1866, perlawanan rakyat Besemah di Kute Jati dipadamkan.




Sebelum itu, Belanda juga telah menaklukkan Kute Betung dan Kute Muara Due-yang sekarang masuk kawasan Gumay, Lahat. Setelah itu, baru kemudian tentara Belanda menyerang ke jantung-jantung pertahanan Besemah di antaranya ke Kute Tebat Seghut.




Sementara itu anggota Lembaga Adat Besemah Satarudin Tjik Olah mengatakan, pertempuran di Kute Tebat Seghut merupakan salahsatu peristiwa yang bersejarah. “Saya menyebutnya dengan Perang Besemah,”ucap Satar ketika ditemui di kantor Lembaga Adat Besemah kemarin.




Setelah Tebat Seghut ditaklukkan, Belanda kemudian menyerang kute-kute lain. Pada 1833, Belanda mendirikan pemerintahan sipil di Dusun Bandar. Ini merupakan tanda dari berakhirnya perlawanan rakyat Besemah. “Bendera Belanda berkibar-kibar di Dusun Bandar,”ucap Bastari.

Nyaris tak Tersisa
Keberadaan Kute Tebat Seghut mengusik rasa ingin tahu Asmadi. Hari itu tahun 2010, Pemerhati sejarah dan Besemah yang kini tinggal di Sekayu Musi Banyuasin (Muba) ini, mengunjungi Kute Tebat Seghut. Ia datang bersama seorang koleganya denga naik kendaraan bermotor lalu disambung dengan jalan kaki. “Bekal kami cuma kamera,”ujar Mady Lani-sapaan akrab Asmadi-ketika dihubungi Pagaralam Pos kemarin.




Begitu sampai di lokasi, Mady terkejut. Menurut dia, nyaris tak terlihat ada bekas-bekas bahwa di sana dulu pernah dijadikan benteng pertahanan perlawanan rakyat Besemah melawan Belanda. “Hanya ada beberapa bangunan semen. Selebihnya semak belukar,”ujarnya.

Rakyat Besemah Bergerak ke Palembang
Selain berperang di tanah sendiri, rakyat Besemah juga pernah berperang di Palembang. Anggota Lembaga Adat Besemah Satarudin bercerita, dulu begitu tahu Belanda menyerang Palembang, rakyat Besemah datang untuk membantu. “3000 ribu lebih rakyat Besemah datang ke Palembang,”ujar Satar menirukan bunyi kabar yang ditulis oleh Belanda.




Rakyat Besemah yang terdiri dari lelaki dan perempuan tersebut lanjut Satar, berjalan kaki sampai ke Lahat. Lalu disambung dengan naik rakit menyusuri sungai Lematang. Di tengah perjalanan sungai ini mereka berdendang lagu perjuangan dengan penuh semangat. Satar masih ingat beberapa larik lagu perjuangan tersebut. Kurang lebih bunyinya begini: “Kalu Belande datang kite ditindas/Sedikit tidak disuruh hidup senang…..,”. (11)

Kute-kute Besemah
-Kute Jati,
-Kute Betung
-Kute Muara Due,
-Kute Tebat Suke
-Kute Tebat Seghut
-Kute Gelung Sakti
-Kute Aur Duri
-Kute Tanjung Tapus
-Kute Gedung Agung
-Kute Mentar Alam
-Kute Tanjung Seleman
-Kute Penandingan

(Sumber : hasil wawancara dengan Ahmad Bastari Suan)

You can leave a response, or trackback from your own site.