Bertamasya di Dataran Tinggi Kibok

Foto-foto: Ist
HUTAN LINDUNG: Dataran tinggi Kibok merupakan salahsatu kawasan hutan lindung. Di sini banyak terdapat flora dan fauna serta tinggalan sejarah dari era kolonialisme.

Jalan dengan ‘Bangkai’ Mobil, Rimbunnya ‘Kebun’ Pandan
Dataran tinggi Kibok dapat dijadikan salahsatu tujuan untuk bertamasya. Tak hanya fauna dan floranya, kawasan hutan lindung ini juga menyimpan tinggalan sejarah dari era kolonialisme Belanda.




KALAU saja jalan itu berada di tengah-tengah pemukiman atau perkebunan, barangkali Rusi tidak akan terkaget-kaget. Yang dilihat Rusi, adalah jalan yang berada di tengah-tengah rimba belantara dataran tinggi Kibok. Ini merupakan kawasan hutan lindung yang berada di ketinggian 1500-an di atas permukaan laut (Dpl). Secara administrasi, kawasan ini masuk wilayah Kelurahan Agung Lawangan Kecamatan Dempo Utara. “Lebarnya antara 4-6 meter. Pokoknya, kalau mobil, pasti lewat di sana,”ucap Rusi, ketika ditemui di Dusun Bumi Agung Kelurahan Bumi Agung Kecamatan Dempo Utara kemarin (16/11).




Ia mengambarkan, jalan itu bermula dari kawasan Kampung IV tembus ke Kibok. Bentuknya berkelok-kelok, melingkari cadas gunung sambung menyambung menembus rimba belantara. “Jalan itu bertingkat-tingkat, menyesuaikan dengan kondisi tanah,”tutur warga Talang Langur Indah Kelurahan Agung Lawangan ini. Gambaran jalan semacam ini disebutkan Rusi, sama persis jalan menuju kawasan Tugu Rimau sekarang.




Rusi pun penasaran. Ia bertanya-tanya kepada sejumlah penduduk. Didapatlah sebuah cerita bahwa jalan itu dulunya buatan penjajah kolonial Belanda. Diperkirakan, jalan ini dibangun tak lama setelah Belanda menaklukkan Besemah. “Belande mbangun jalan itu mungkin untuk akses perkebunan teh,”sebut Rusi menduga. Dugaan ini dikuatkan dengan adanya batang-batang teh yang sudah menyerupai pohon dengan diameternya besar.




Adanya jalan yang sanggup dilewati mobil di pinggang Gunung Dempo itu dibenarkan Boidi. Sama dengan Rusi, Boidi juga melihat jalan itu secara langsung. Ia pun percaya, jalan ini merupakan buatan penjajah kolonial Belanda untuk kepentingan bisnis perkebunannya. Boidi pun teringat, pada tahun 90-an, pernah menyambangi lokasi itu. Di sana ia sempat melihat ‘bangkai’ mobil Belanda. “Saya sempat naik di atasnya,”ucapnya pasti, ketika ditemui Pagaralam Pos di tempat yang sama.

Bermula Dari Pembukaan Jalur
Kedatangan Boidi dan Rusi ke rimba belantara di dataran tinggi Kibok itu bukan untuk jalan-jalan. Keduanya-bersama penduduk lainnya- datang ke sana dengan satu misi: membuka jalur. “Jalur ini akan kami buat untuk mempermudah penanaman bibit pohon berbuah. Seperti nangka, pala dan petai,”terang Boidi.




Bibit-bibit tersebut berasal dari bantuan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Bibit ini diperuntukkan bagi kelompok tani yang sudah mengantongi izin pengelolaah hutan lindung menjadi hutan kemasyarakatan (HKm). Ya Rusi dan Boidi merupakan dua di antara puluhan anggota Poktan Kibok. Di Poktan ini, Boidi menjadi ketua, adapun Rusi sebagai sekretaris. Adapun Kibok merupakan nama areal kerja mereka yang telah mnengantongi izin dari KLHK. Sebanyak 50 hektar di antaranya akan dijadikan kebun buah percontohan.




Proses pembukaan jalur tidaklah mudah. Boidi dan koleganya mesti membabas semak belukar yang tumbuh subur di bawah lebatnya pepohohan rimba belantara. Di sinilah mereka akhirnya menemukan jalan peninggalan kolonial Belanda tadi. “Jalan itu tertutup semak belukar. Setelah kami bersihkan, jalan itu baru terlihat,”tutur Rusi.




Rusi dan Boidi sepakat, akan tetap mempertahankan kondisi jalan itu apa adanya. Pun dengan bangkai mobil di sana. Ini ditujukan sebagai bukti sejarah di era kolonial Belanda. “Sebab, peninggalan Belanda di Pagaralam ini sangat sedikit,”sebut Boidi. Diharapkan, temuan jalan dan bangkai mobil ini dapat menarik para peneliti sejarah. Lebih jauh lagi, Boidi dan Rusi yakin, bila dikelola, jalan tersebut dapat dijadikan sebagai jalur adventure offroad. Dengan lebar jalan yang ada, mobil offroad dapat lewat di sana.

Agrowisata Terintegrasi
Keberadaan jalan tua itu, juga akan menyokong visi kebun percontohan- yang dikelola Poktan Kibok- menjadi tujuan agrowisata. Rusi mengistilahkannya dengan agrowisata terintegrasi. Selain dapat bertamasya sejarah, pengunjung papar dia, dapat memanfaatkan kawasan sebagai lokasi hiking, camping, panjat tebing. Kemudian wisata air terjun tadah hujan, hingga penelitian ilmiah bagi kalangan akademisi di perguruan tinggi.




Untuk penelitian ilmiah dicontohkan Rusi, kelengkapan dataran tinggi Kibok tak perlu disangsikan lagi. Ia menyebutkan, di sini terdapat aneka macam flora dan fauna. Mulai dari anggrek hutan sampai dengan pandan. Mulai dari kijang sampai dengan harimau. “Di pinggir cadas, kami menemukan banyak sekali pohon pandan. Yang tingginya di atas 4 meteran,”imbuhnya.




Boidi memastikan, konsep agrowisata tersebut sejalan dengan program HKm yang digagas KLHK. Pada prinsipnya kata dia, keberadaan agrowisata di kawasan itu tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Poktan tidak akan membiarkan adanya pengerusakan di sana.




Toh diakui Rusi, agrowisa terintegrasi tersebut tak dapat terwujud bila tak ada sokongan dari pemerintah. Mengandalkan Poktan saja, katanya, tidaklah cukup. Kalaupun berjalan, tidak akan terlalu maksimal. Karenanya ia begitu berharap, ada ‘campur tangan’ pemerintah daerah di sini.




Sementara itu mengutip dari situs resmi Hutan Kita Institute (HKM)-lembaga swadaya masyarakat yang konsen dengan masalah kehutanan- Kibok berdasarkan fungsinya termasuk dalam kelompok Hutlin Bukit Dingin. Penutupan vegetasinya berupa hutan sekunder dan ada yang telah diusahakan masyarakat dengan menanam kopi.




Di sebelah utara Kibok berbatasan dengan Kecamatan Pagaralam Selatan. Di sebelah selatan, Kibok berbatasan dengan Kelurahan Muara Siban. Di sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Bumi Agung. Adapun di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Lahat. (11)

Tahukah Anda?
-HKm merupakan salahsatu bentuk perhutanan sosial. Perhutanan sosial adalah sistem pengelolaan hutan lestari dalam hutan negara atau hutan adat yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat atau masyarakat hukum adat sebagi pelaku utama. Tujuannya, untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, keseimbangan lingkungan dan dinamika sosial.

-Selain Hkm, bentuk perhutanan sosial berupa hutan desa, hutan tanaman rakyat, hutan adat dan kemitraan kehutanan.
-Masa berlaku IUPHKm adalah 35 tahun dan tiap 5 tahun sekali dievaluasi.
-HKm digulirkan sejak 2001. HKm mulai digulirkan di Pagaralam sejak 2013
-Pemerintah Jokowi-JK menargetkan perhutanan sosial bisa terbentuk seluas 12,7 juta hektar dari 2015-2019. Realisasinya baru 56 383 hektar perhutanan sosial yang terbentuk.
-Luas hutan lindung di Pagaralam adalah 27 267,87 hektar. Sebanyak 7 918 Hektar sudah tidak lagi berupa hutan.
-Hutan Kita Institute (Haki) adalah perkumpulan dari orang-orang yang konsentrasi dalam penyelamatan lingkungan hidup dan pembedayaan masyarakat. Saat ini ada tiga isu yang sedang di tangani oleh Haki yaitu, percepatan perhutanan sosial, (HKm, hutan desa) penyelesaian konflik agraria, dan penataan lahan gambut. Anggota haki berjumlah 29 induvidu yang peduli dengan persoalan lingkungan. (*)

(Sumber: Hasil olahan wartawan Pagaralam Pos dari berbagai sumber)

You can leave a response, or trackback from your own site.