Jeme Besemah Ade Di Mane-mane

Ahmad Bastari Suan

Beda Wilayah tapi Satu Keturunan
Sejarah mencatat, leluhur penduduk yang bermukim di dataran tinggi Kisam, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan berasal dari Besemah. Karenanya jeme Kisam itu tak lain dan tak bukan jeme Besemah juga.




CATATAN di empat lembar kertas yang ditulis dengan huruf arab gundul itu menyita perhatian Ahmad Bastari Suan. Sejarawan Besemah yang tinggal di Palembang ini lalu membacanya. Setelah membaca, keyakinan Bastari semakin kuat. “Bahwa, nining puyang jeme Kisam itu awale isandi Besemah,” ucap Bastari, dihubungi Pagaralam Pos, kemarin (7/12).




Ya. Catatan itu mengungkapkan sedikit banyaknya tentang sejarah leluhur orang Kisam-sebuah kawasan di Kabupaten OKU Selatan. Tak main-main, menurut Bastari, catatan ini didapatnya dari Museum Nasional di Jakarta. “Saya dapat copy-nya. Yang asli masih di museum,”ucap Bastari yang pernah menulis buku bertemakan sejarah Besemah ini.




Sayang, kata Bastari, catatan ini tak dilengkapi dengan nama, tanggal dan tahun penulisan. Sehingga, sulit untuk melacak siapa yang menulis catatan ini. Pun dengan waktu penulisannya. Meskipun demikian, setelah membaca catatan ini, Bastari mendapatkan tambahan pengetahuan yakni: jemeBesemah yang datang ke Kisam berasal dari lima sumbai “Mereka datang ke Kisam secara bergelombang,” tutur Bastari memberi ulasan.




Dalam sebuah kesempatan wawancara, Satarudin Tjik Olah, anggota Lembaga Adat Besemah, menyebutkan, enam sumbai di Besemah itu adalah sumbai besak, sumbai pelang kenidai, sumbai semidang, sumbai ulu rurah, sumbai ulu rurah dan sumbai mangku anom. Yang tak ada Kisam, berdasarkan catatan tanpa nama yang dibaca Bastari, adalah sumbai mangku anom.




Dari literatur lain, Bastari mendapatkan informasi, bahwa kedatangan jeme Besemah ke Kisam terjadi sekitar abad ke- 16. Mengapa memilih pindah ke Kisam? Bastari mengaku belum ada data yang bisa menjelaskan. Ia menduga, mereka pindah ke Kisam karena berkaitan dengan dengan penghidupan. “Mungkin mereka merasa di Kisam, berpenghidupan itu lebih mudah,”jawabnya. Meskipun demikian, Bastari membantah, bila penghidupan di Besemah lebih sulit.




Yang pasti Kisam-saat itu-masih kosong, belum berpenghuni. Karenanya jeme Besemah dapat leluasa berdiam di sana. Juga bercocok tanam. Sejak saat itu sampai sekarang, jumlah jeme Besemah terus bertambah di Kisam. Belakangan, pengakuan sebagai jeme Kisam lebih populer ketimbang jeme Besemah.

Bahasa dan Adat Istiadat yang Sama
Catatan sejarah yang menyebutkan leluhur jeme Kisam berasal dari Besemah terbukti. Bastari menyebutkan, bahasa dan adat istiadat yang dipakai jeme Kisam sama persis dengan yang digunakan jeme Besemah. “Makanya, saya sering bilang. Jeme Kisam itu Jeme Besemah juga,” katanya.
Itulah sebabnya, Bastari tak sepakat bila ada pendapat yang menyebutkan bahwa jeme Kisam itu bukan jeme Besemah. “Dilihat dari garis keturunan, mereka adalah orang Besemah,”katanya lagi.




Memang diakuinya, secara administrasi, jeme Kisam bukan berada di wilayah Pagaralam maupun Tanjung Sakti yang dikenal sebagai pusat Besemah. Kisam berada di Kabupaten OKU Selatan. Namun katanya faktor administrasi, tak boleh menghalangi persatuan yang dilandasi garis keturunan. “Kalau mereka (orang Kisam) pulang ke Pagaralam atau Lahat yang kita kenal sebagai pusat Besemah. Itu artinya mereka pulang kampung,”tambahnya.

Impian Besemah Selatan
KABUPATEN Kaur di bagian selatan Provinsi Bengkulu juga memiliki keterkaitan sejarah dengan Besemah. Sebagaimana Kisam, leluhur sebagian besar masyarakat Kaur juga disebut berasal dari Besemah. “Dari 15 kecamatan di Kaur, 11 kecamatan memiliki keterikatan sejarah dengan Besemah,”kata Bastari.




Bastari sudah membuktikannya sendiri. Baru-baru ini ia mengaku, menjadi narasumber di sebuah seminar di Padang, Sumatera Barat. Dalam seminar ini, Bastari bertemu dengan tokoh budaya dari Kaur. Kepada Bastari, tokoh budaya ini mengakui bahwa asal-usul masyarakat Kaur berasal dari Besemah. “Kami ini jeme Besemah pule,”ucap Bastari menirukan ucapan tokoh budaya dari Kaur itu.




Sebagaimana Kisam, masyarakat di 11 Kecamatan di Kabupaten Kaur itu menggunakan bahasa dan adat istiadat Besemah. Ini juga merupakan bukti bahwa nenek moyang mereka berasal dari Besemah.




Kesadaran mengenai asal-usul itulah, menurut Bastari yang membuat 11 kecamatan di Kabupaten Kaur berkeinginan untuk memisahkan diri membentuk kabupaten baru. Nama kabupaten ini Besemah Selatan. “Ditambah lagi dengan dua kecamatan yang masuk Kabupaten Bengkulu Selatan,”ucapnya.




Belum diketahui apakah impian itu sudah diperjuangkan akan belum. Yang jelas, sampai dengan sekarang, 11 kecamatan itu masih masuk wilayah Kabupaten Kaur.

Kikim
PERNAH suatu ketika Bastari berbincang dengan orang Kikim, suatu wilayah yang masuk Kabupaten Lahat. Kepada Bastari, orang ini mengaku bukanlah jeme Besemah. Melainkan orang Kikim. Sambil tertawa pelan, Bastari berujar kepada orang itu “Coba tarik garis keturunan dari bapang kaba ke atas. Isandi sane dapat diketahui, isandi mane nian kamu ini berasal,”ucap Bastari menirukan perkataannya kepada orang Kikim itu.




Bastari meyakini, sebagaimana Kisam dan Kaur, leluhur masyarakat Kikim juga dari Besemah. Karenanya, ia tak sepakat bila jeme Kikim disebut bukan jeme Besemah. Sejarah katanya, akan membuktikannya.




Menurut Bastari, jeme Besemah yang berada di berbagai wilayah itu dapat bersatu. Tapi bukan dalam bentuk organisasi administrasi. Tapi dalam bentuk persatuan yang merasa terikat dalam satu keturunan yakni Besemah. Nama persatuan ini kata Bastari dapat dinamakan dengan Jagat Besemah. “Kalau kita bicara Jagat Besemah maka, jeme Pagaralam, Jeme Lahat, Jeme Kikim, Jeme Kisam, Jeme Kaur, Jeme Padang Guci, dan lain sebagainye, masuk semua,” katanya.

Anak Muda yang Penasaran Sejarah
AHMAD Bastari Suan terkejut. Hari itu ia kedatangan tamu; anak muda yang berhimpun dalam Organisasi Jurai Pemuda Besemah. Anak-anak muda ini meminta Bastari untuk menjadi narasumber diskusi sejarah Besemah. Bastari langsung mengiyakan. “Saya ingin anak-anak muda Besemah ini paham dengan sejarah,” ucap Bastari mengenai alasannya menerima tawaran menjadi narasumber ketika dihubungi Pagaralam Pos, kemarin.




Rencananya, diskusi itu akan digelar di Kota Palembang pada hari ini (8/12). Yang hadir para pemuda Besemah yang berasal dari berbagai kawasan:Pagaralam, Lahat, Kisam, Tanjung Sakti, Padang Guci dan lain sebagainya. Karena tak ada lagi narasumber, Bastari mengaku akan menjadi narasumber tunggal. “Saya sudah berusaha mencari narasumber pendamping, tapi susah. Tak banyak lagi yang tahu sejarah Besemah,” ucapnya.




Bastari menyebutkan, dalam diskusi tersebut dirinya akan memaparkan tentang sejarah Besemah. Termasuk di antaranya sejarah migrasi jeme Besemah ke Kisam dan daerah lainnya. Karena itu katanya, catatan sejarah dari Museum Nasional juga akan dibawa. “Saya juga akan memaparkan tentang sejarah Besemah Libagh. Definisi dan batas-batasnya. Supaya tidak salah paham,” tambahnya.




Diakui Bastari, dikusi, seminar, workshop, apapun namanya yang membahas tentang sejarah Besemah memang layak digelar. Ini diharapkan dapat dijadikan sebagai cara supaya sejarah tidak hilang. Apalagi Bastari mengungkapkan, anak muda di zaman sekarang, sering tak mendapatkan penuturan sejarah langsung dari orangtuanya. Ini membuat informasi menjadi tidak berterus. “Mudah-mudahan kegiatan besok (hari ini) berjalan lancar,” katanya. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.