Andai-andai Besemah

Foto: dok/Pagaralam Pos
IKON KOTA: Pemukiman penduduk Pagaralam dengan latar belakang Gunung Dempo. Fot diabadikan beberapa waktu lalu.

Fiksi Pengantar Tidur yang Sarat Pesan Moral
Salasatu jenis sastra tutur Besemah dinamakan dengan andai-andai. Ini merupakan cerita fiksi alias khayalan tapi sarat dengan pesan moral. Jadi pengantar tidur.




ALKISAH, di pinggir sebuah dusun hiduplah sepasang suami istri yang mempunyai tiga orang anak. Anak pertama berumur 6 tahun, anak kedua 4 tahun dan bungsu 2 tahun. Mereka tinggal di dalam dangau (pondok) di pinggir dusun. Ketimbang dengan pemukiman, dangau ini lebih dekat dengan rimba belantara.




Di sebuah pagi, suami istri tersebut meninggalkan dangau. Mereka berangkat ke sebuah lokasi yang cukup jauh. Karena itu, mereka tidak mengajak anak-anaknya turut serta. Anak-anak mereka tetap tinggal di dangau. Sebelum berangkat, suami istri itu berpesan kepada anak-anaknya untuk tidak meninggalkan rumah. Anak tertua diberi tugas untuk menjaga adik-adiknya.




Tugas tersebut memang dijalankan dengan baik oleh anak yang tertua. Dia menjaga adik-adiknya. Tapi, belum terlalu lama, tiba-tiba seekor bambang (kupu-kupu besar) yang bewarna merah terang melintas dekat dangau. “Melihat bambang itu, anak-anak itu meminta kakaknya untuk mengejar,”tutur anggota Lembaga Adat Besemah, Satarudin Tjik Olah, ketika bertandang ke markas Harian Umum Pagaralam Pos, kawasan Koramil Lama, Jalan S Parman Kelurahan Beringin Jaya Kecamatan Pagaralam Utara kemarin (4/1)




Karena sayang, sang kakak menuruti kehendak adik-adiknya. Ia kejar bambang tersebut dengan penuh semangat. Berlari-lari kecil. Adik-adiknya pun turut mengekor di belakangnya. Kejar mengejar bambang itu tak terasa membawa ketiga anak kecil sampai masuk jauh ke dalam hutan rimba. “Di dalam hutan, anak-anak itu ketakutan. Mereka takut pulang nanti akan dimarahi ayah dan ibunya,”lanjut Satar.




Rasa takut itu paling dirasakan oleh sang kakak. Sebab, ia sudah diberikan tugas untuk menjaga adik-adiknya. Kendati, sang kakak berusaha menenangkan adik-adiknya. Tapi, dua adiknya tersebut masih saja ketakutan. “Adiknya yang berumur 3 tahun naik ke atas pohon. Sedangkan yang umurnya 4 tahun menggali tanah. Mereka berlindung di sana,”jelasnya.




Sementara sang kakak melanjutkan perjalanan. Tujuannya untuk memantau situasi di rumahnya.Maksudnya, bila orangtuanya belum pulang, sang kakak bermaksud akan mengajak pulang dua adiknya. Setelah agak dekat dari rumah, sang kakak bersembunyi di balik pepohonan. Matanya melihat ke arah rumah. “Dari jauh, sang kakak itu melihat ayah ibunya sudah di rumah. Ayahnya duduk termangu. Sedangkan ibunya menangis,”urainya.




Melihat kondisi ayah dan ibunya, sang kakak itu menjadi merasa sangat bersalah. Sebab, sudah melanggar perintah orangtuanya. Karena itu, rasa takutnya semakin menjadi-jadi.Maka, ia memutuskan untuk kembali lagi ke dalam hutan. “Konon tiga anak tersebut berubah. Anak yang naik pohon tadi, berubah jadi uwe-uwe (sejenis siamang). Yang masuk ke dalam tanah jadi landak. Dan yang tertua jadi kunang-kunang,”sebut Satar.




Cerita tentang tiga anak yang berubah wujud itu merupakan salahsatu andai-andai Besemah/ Jadulnya adalah, uwe-uwe merentas gunung. Cerita ini pun bukan tanpa makna. “Mayoritas andai-andai besemah itu punya pesan moral. Kalau tidak punya pesan moral, bukan andai-andai namanya,”terang Satar.




Uwe-uwe merentas gunung lanjut Satar memiliki pesan moral yang sangat dalam. Pesan moral itu sebut dia, lebih ditujukan kepada orangtua yang memiliki anak yang masih kecil. “Kepada orangtua, bila memiliki anak yang masih kecil-kecil, jangan ditinggalkan di rumah tanpa pengawasan,”papar Satar tentang pesan moral uwe-uwe merentas gunung.




Ada pula andai-andai yang berjudul pungkut ulu tulung. Andai-andai ini dijelaskan Satar menceritakan tentang seeokor ikan pungkut (ikan air tawar) yang hidup di ulu tulung (mata air) di tepi sebuah sungai. Pungkut ini hidup dengan banyak hewan beberapa ikan kecil yang ukurannya tak sebesar pungkut. Di sini pungkut merasa paling hebat dan berkuasa.




Beberapa waktu kemudian ulu tulung itu dihantam banjir bandang. “Pungkut itu terseret air sampai ke muara sungai,”tutur Satarudin Tjik Olah, anggota Lembaga Adat Besemah, kepada Pagaralam Pos kemarin (4/1). Di muara sungai, pungkut itu terkaget-kaget. Di sini, pungkut melihat begitu banyak mahkluk air yang ukuran tubuhnya lebih besar darinya. Sejak saat itu, pungkut tersadar bahwa, selama ini dirinya terlalu sombong. Menganggap dirinya lebih besar dan kuat. “Untung pungkut itu tak di makan ikan besar di muara sungai,”kisah Satar lantas tersenyum.




Cerita ini memiliki pesan moral yang mendalam. “Pungkut ulu tulung itu memiliki pesan bahwa di dunia ini tak bisa sombong,”ucapnya lagi. Kesimpulannya di atas langit masih ada langit.

Pengantar Tidur
Seberapa dalam pesan moral yang disampaikan, toh andai-andai diakui Satar, tetaplah karangan fiksi alias tidak nyata. Andai-andai bisa disamakan dengan dongeng. Karena itu kata Satar, andai-andai pun biasanya diceritakan para orangtua kepada anak-anaknya. Waktu yang dipilih adalah ketika menjelang tidur. Satar sendiri mengaku, sering mendengar andai-andai langsung dari kakeknya. “Kakek saya dulu sering memberikan andai-andai kepada cucunya. Tentu ia menceritakan andai-andai sambil meminta dipijit bahunya,”kenang Satar. “Kakek akan berhenti bercerita, bila kami sudah tertidur,”tambahnya.




Dulu, imbuh Satar, andai-andai selalu ditunggu-tunggu anak-anak. Sebab, katanya, saat itu belum ada hiburan sebanyak sekarang. Hanya dengan andai-andailah, anak-anak bisa terhibur jelang waktu tidur. Selain itu bagi para orangtua, melalui andai-andai, mereka menyelipkan pesan moral kepada anak-anaknya. Tujuannya agar di masa depan, mereka tidak melakukan hal-hal yang buruk dan dilarang agama.




Kini, menceritakan andai-andai dari kakek kepada cucu tersebut diakui Satar, sudah sangat jarang terjadi. Penyebabnya, sebut dia, bukan karena tidak mau, tapi memang tidak ada lagi yang bisa menceritakan andai-andai. Karena itu, Satar menyatakan, lembaga adat besemah sudah menuliskan andai-andai tersebut ke dalam sebuah buku.




Melalui buku itu diharapkan, warga Pagaralam bisa membaca andai-andai besemah sekaligus bisa menceritakannya kepada anak-anaknya. Kendati, diakui Satar, itu pun masih sulit. Sebab, di zaman teknologi seperti sekarang, hiburan untuk anak-anak sudah semakin banyak. (11)

10 judul Andai-andai Besemah Populer

1. Uwe-uwe merentas gunung
2. Pak Andigh
3. Pungkut ulu tulung
4. Seghingok malai
5. Sinam nam
6. Sang piatu due benining nanam radang kisalan
7. Sang beghok nga sang kure
8. Mesang sebisanan nga ayam
9. Sang piatu bunting puteri
10. Kancil melanglang rimbe

(sumber:Satarrudin Tjik Olah)

You can leave a response, or trackback from your own site.