Lemang, Bukan Sekedar Makanan

Foto: dok/Pagaralam Pos
CINTAI BUDAYA: Warga Dusun Pelangkenidai mempraktekkan cara memasak lemang dalam sebuah kegiatan kebudayaan beberapa waktu lalu.

Sebuah Lambang yang Sarat Makna
Gulungan daun pisang berisi beras ketan lalu dimasukkan ke dalam seruas bambu untuk kemudian dibakar. Ini kemudian disebut dengan lemang. Di Besemah, lemang bukan sekedar untuk dimakan.




ASMADI terkaget-kaget ketika berkunjung ke lapak pedagang lemang yang terletak di pinggir jalan di Kabupaten Lahat beberapa waktu lalu. Pemerhati budaya Besemah ini melihat satu buah lemang yang lain daripada biasanya.




Kulit bambu yang menjadi wadah lemang itu kata Mady Lani-sapaan akrab Asmadi- dikupas. Kulit ruas bambu yang tadinya bewarna cokelat kehitam-hitaman-hasil dari pembakaran- berubah menjadi warna putih. Di atas kulit lemang ini lalu ditulis sesuatu, semacam larik puisi.




Belakangan, Mady menjadi tahu bahwa lemang itu akan dipakai dalam sebuah acara hajatan pernikahan. Di Lahat kata Mady, lemang ini dinamakan lemang pelalai. “Kalau di Pagaralam, lebih dikenal dengan nama lemang bunting (pengantin),”ucap Mady, ketika dihubungi Pagaralam Pos kemarin (21/12).




Lemang pengantin lanjut Mady, diperuntukkan bagi keluarga dekat. Bila menerima lemang ini, maka keluarga dekat tersebut wajib melaksanakan pantauan bunting atau jamuan makan untuk pengantin. “Jadi fungsi lemang pengantin di sini, selain untuk dimakan, juga sebagai lambang,”tutur Mady.




Lambang dalam lemang pengantin itu, kata Satarudin Tjik Oleh, anggota Lembaga Adat Besemah, semacam surat perintah. Dengan menerima lemang pengantin yang berisi tulisan ini, seseorang mesti menggelar pantauan bunting. “Paling tidak, nyembelih ayam sikok,”ucap Satar ketika ditemui Pagaralam Pos di kediamannya kemarin (21/12).




Lemang juga digunakan sebelum pasangan menuju singgasana pernikahan. Anggota Lembaga Adat Besemah Satarudin Tjik Olah mengatakan, emang kerap dibawa untuk melamar anak gadis. Dalam istilah Besemah, melamar disebut dengan ncetekah rasan. Adapun yang membawa lemang kepada pihak gadis adalah utusan pihak bujang. Selain lemang, utusan ini juga membawa gulai seghuas dan nasi seibat.




“Lemang sepuluh batang, seghuas gulai dan nasi seibat lalu dimasukkan ke dalam tas kampek berselempang kain. Jika ada orang membawa ini, orang sudah paham, bahwa ada anak gadis yang akan dilamar,”lanjut Satar. Inilah sebabnya diakui Satar, penggunaan lemang dalam lamaran ini adalah lambang bahwa yang membawa lemang ini adalah utusan resmi dari pihak keluarga bujang. “Dalam istilah sekarang, disebut dengan tanda pengenal resmi,”katanya pula.

Banyak Nama
Lemang pengantin bukan satu-satunya. Selain lemang pengantin kata Satar, masih ada lemang beringin, lemang penyulugh, lemang tige ragi, lemang beghughong dan lemang untuk pengiring tepong (denda). Sebagaimana lemang pengantin, lanjut Satar, lemang-lemang ini juga merupakan sebuah lambang. Bukan sekedar oleh-oleh untuk kemudian dimakan bersama-sama.




Lemang beringin lanjut Satar, merupakan sebuah lemang yang diperuntukkan bagi gadis ngantat. Lemang ini umumnya diserahkan seorang bujang. Adapun tujuannya, supaya menarik hati sang gadis.




Adapun lemang begughong merupakan lemang yang dimasak tidak menggunakan ruas bambu. Umumnya lemang ini diperuntukkan buat orang-orang yang bekerja membantu hajatan di sebuah rumah.




Sementara itu lemang tige ragi bukan digunakan saat pesta perkawinan maupun jelang pernikahan. Lemang tige ragi kata Satar, digunakan saat upacara ritual. Sebagaimana namanya lemang ini memiliki triwarna yakni putih, hitam dan merah. “Bambu yang digunakan pun beda dengan lemang umum. Untuk ritual, digunakan bambu yang kecil,”katanya. Fungsi lemang ini boleh jadi semacam seserahan.




Lemang juga digunakan sebagai denda. Di masa lalu, kenang Satar, denda 10 batang lemang sering dipakai untuk memberikan hukuman kepada seseorang yang melanggar hukum adat.

Makanan Kehormatan
Mengapa harus lemang? Satar mengatakan, karena lemang, bagi masyarakat Besemah merupakan makanan kehormatan. Juga, karena Satar merupakan panganan khas Besemah. “Kalau dulu, lemang sering disuguhkan untuk para tamu yang datang ke rumah,”katanya.




Sayangnya di masa kini berdasarkan pengamatan Satar, penggunaan lemang dalam berbagai acara sudah mulai luntur. Sudah jarang sekali melihat orang membawa lemang ketika melaksanakan lamaran. Pun dengan menyerahkan lemang pengantin kepada keluarga dekat. Hal ini diperkirakan Satar, kemungkinan akibat dampak perkembangan zaman. (11)

Lambang-lambang Dari Lemang

-Lambang penghormatan tamu
-Lambang Terimekasih
-Lambang surat perintah
-Lambang penghargaan-
-Lambang surat keterangan
-Lambang menyanmpaikan maksud
-Lambang denda
(Sumber: Diolah dari hasil wawancara)

You can leave a response, or trackback from your own site.