Menyebarkan Ajaran Islam Lewat Tadut

Foto : dok/Pagaralam Pos
BERSEJARAH : Sebuah makam puyang di samping masjid Dusun Gunung Agung Lama. Foto diabadikan beberapa waktu lalu

Rukun Islam dan Rukun Iman Dalam Syair
PAGARALAM POS, Pagaralam – Seni sastra tutur lisan berperan besar dalam penyebaran ajaran Islam di Tanah Besemah-termasuk di Pagaralam. Lewat tadut, ajaran Islam mudah diterima sekaligus dijalankan masyarakat. “Syair-syair tadut memang kental dengan ajaran Islam,”ujar Pemerhati Budaya Besemah Asmadi, kepada Pagaralam Pos dalam sebuah kesempatan beberapa bulan lalu.




Menurut Mady, tadut berasal dari Bahasa Arab tahadut yang berarti menghafal berulang-ulang. Tadut kata dia, pertamakali dibawakan para pedagang Arab untuk menyebarkan ajaran Islam di Tanah Besemah. Rukun Islam dan rukun iman-sholat lima waktu dan puasa- misalnya dicontohkannya, dijadikan syair-syair berirama dengan Bahasa Besemah. “Dengan menggunakan tadut, ajaran Islam mudah diterima,”tutur Mady.




Bila tak menggunakan tadut, Mady tak yakin, ajaran Islam bisa dengan mudah diterima di masyarakat Besemah. Diawali para pedagang Arab, tadut kemudian dipakai masyarakat Besemah. Bertadut, kata Mady, biasanya dilakukan ketika ada musibah kematian. Di rumah duka, masyarakat berkumpul untuk bertadut. Syair-syair yang sarat ajaran Islam dilantunkan.




Rismala (40), seorang warga di Dusun Gunung Agung Lama Kelurahan Agung Lawangan Kecamatan Dempo Utara membenarkan pernyataan Mady. Kata dia, tadut, memang digunakan sebagai metode untuk menyebarkan ajaran Islam seperti rukun iman, rukun islam, sifat 20 dan lainnya. “Tujuannya supaya cepat hafal,”ujar Rismala, ketika ditemui Pagaralam Pos di kediamannya.




Abdul Hamid (88), seorang warga Dusun Jambat mengaku, saat masih kecil, sering mendengar orang tua menuturkan tadut untuk belajar Islam. “Hampir tiap malam. Bergiliran di rumah warga,”tutur Hamid, saat ditemui Pagaralam Pos, pada 2017 lalu. Saat itu, Hamid sendiri masih berumur sekira 12 tahun, karenanya ia hanya banyak mendengarkan saja.




Menurut dia, yang dipelajari warga saat itu bermacam-macam. Tapi, yang paling diingatnya adalah pelajaran tentang rukun Islam, rukun iman dan sifat 13. Semua materi itu kata dia, diajarkan melalui tadut. “Karena ditututurkan secara berulang-ulang, akhirnya semua warga hafal dengan baik,”sambung Hamid.




Sementara itu Ahmad Bastari Suan, seorang pencinta kebudayaan Besemah memperkirakan, tadut mulai digunakan antara abad 17 sampai 18 M. Senada dengan Mady, Bastari menyebut, tadut merupakan cara para ulama zaman itu untuk menyebarkan Islam ke tengah masyarakat Besemah. “Kalau di Jawa, ada wali yang menggunakan wayang, maka di Besemah digunakanlah tadut,” ucap Bastari, dihubungi Pagaralam Pos.




Namun Bastari tak bisa memastikan siapa yang pertamakali menggunakan tadut. Kata dia, belum ada yang melakukan penelitian ke arah sana. Kendati, Bastari menduga, tadut pertamakali digunakan orang-orang Besemah sendiri. “Tapi ini masih perlu diteliti secara ilmiah,”kata dia. Yang jelas, Bastari menyatakan, dengan menggunakan tadut, ajaran Islam mudah diterima masyarakat Besemah di zaman itu.




Islam sendiri, Bastari menambahkan, sebenarnya secara hakikat sudah dikenal masyarakat Besemah jauh sebelum tadut berkembang. Namun kata dia, Islam hakikat ini belum mengenal syariat seperti yang jadi ajaran Nabi Muhammad SAW. Karenanya lanjut dia, begitu tadut masuk dengan membawa informasi Islam syariat, masyarakat Besemah tak menolaknya. “Dulu saya masih ingat, di tahun 50-an, ada perkumpulan di tengah masyarakat Pagaralam yang rajin bertadut,”katanya.




Kini, Islam sudah menjadi agama mayoritas di Pagaralam. Meskipun demikian, kata Bastari, tadut perlu dipertahankan sebagai salahsatu bentuk sastra tutur Besemah. Dia juga menyebut, ada kemungkinan tadut untuk disesuaikan dengan masa kini. “Syairnya bisa saja ditambah misalnya yang berkaitan dengan konteks masa kini. Sementara syair yang memuat isi ajaran agama, tetap dipertahankan,”ucapnya.




Usaha untuk mempertahankan tadut sudah dilakukan Mady. Sejak beberapa tahun lalu, dia kerap melatih anak-anak muda untuk mahir bertadut. Hasilnya cukup memuaskan. Mereka disebutkan Mady, pernah mendapatkan juara dalam sebuah iven perlombaan seni sastra. “Sekarang saya lagi mendidik seorang anak SD supaya bisa bertadut,”kata dia.

Konsisten dengan Isi
SEBAGAIMANA guritan, tadut juga memiliki irama yang khas. Bedannya, tadut memiliki irama yang menyentuh perasaan. Ini karena dalam tadut, termuat pesan-pesan ajaran Islam yang begitu tinggi. Inilah salahsatunya yang membuat orang gemar mendengar tadut. “Tadut itu konsisten,”ucap pemerhati Budaya Besemah Mady Lani kemarin. “Sejauh ini isi tadut belum ada selain tentang ajaran Islam,”tambah dia.




Demikian pula dengan syair-syairnya lanjut Mady, juga konsisten dengan pilihan kata yang bersambung. Dia mencontohkan salahsatu bunyi syair malam Jum’at, disambung dengan malam Sabtu dan seterusnya. Karenanya diakui Mady, syair tadut enak dibaca sekaligus didengar. Dengan konsistenanya itu, Mady yakin, tadut akan mampu bertahan di tengah derasnya laju modernisasi di segala bidang.




Sementara itu Anggota Lembaga Adat Besemah Satarudin Tjik Olah mengatakan, tadut merupakan salahsatu bentuk seni sastra lisan Besemah. Seni ini kata Satar, sudah ada sejak dulu sampai sekarang. Namun diakuinya, jumlah orang yang mahir bertadut, tak sebanyak dulu lagi. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.