Rahasia-Rahasia ‘Hutan Larangan’

Foto: Dok/Pagaralam Pos
HUTAN LINDUNG: Dataran tinggi Kibok yang kini ditetapkan sebagai areal kerja hutan kemasyarakatan (HKm). Foto diabadikan beberapa waktu lalu.

Penjaga Sumber Kehidupan Jeme Banyak
Sebutan ‘hutan larangan’ bukan tanpa alasan. Ada banyak rahasia di balik ‘hutan larangan’ ini.




JEMMI Delvian (37) begitu gembira. Ini setelah ia membaca keputusan menteri lingkungan hidup dan kehutanan (LHK). Dalam keputusan bernomor SK.7827/MENLHK-PSKL/PKTHA/KUM.1/10/2018, menteri LHK menetapkan Hutan Larangan Mude Ayek Tebat Benawas sebagai hutan adat. Vokalis Hutan Tropis-band yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan- ini menilai, dengan adanya keputusan menteri ini, memiliki dampak yang positif.




Dokumen keputusan menteri LHK itu kemudian dikirimkan Jemmi kepada Pagaralam Pos melalui aplikasi What’sApp kemarin (28/12). Dalam surat ini disebutkan luas hutan Mude Ayek Tebat Benawa yang dijadikan sebagai Hutan Adat mencapai 300 hektar lebih. Surat yang diterbitka Oktober lalu ini diteken Direktur Jenderal (Dirjen) Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementerian LHK.




Sebenarnya, Jemmi bercerita, dari dulu posisi Hutan Mude Ayek Tebat Benawa sudah terlindungi oleh hukum adat setempat. Ini karena hutan ini sudah ditetapkan sebagai ‘hutan larangan’.“Yang berarti sebagai kawasan yang terlarang untuk dibuka,”ucap Jemmi.




Namun lanjut dia, seiring perkembangan zaman, posisi ‘hutan larangan’ Mude Ayek Tebat Benawa dikhawatirkan melemah karena mulai memudarnya pengaruh hukum adat. Nah, dengan adanya keputusan menteri itu, posisi Hutan Mude Ayek Tebat Benawa semakin kuat. Pada akhirnya kawasan ini dapat terhindar dari sasaran eksploitasi




“Harapan kami, akan ada banyak lagi kawasan yang diberi predikat sama (hutan adat). Bahkan, kami berharap Gunung Dempo kelak akan ditetapkan sebagai kawasan Taman Nasional,”ucap dosen di sebuah perguruan tinggi di Palembang ini.

Dilindungi Hukum Adat
‘Hutan larangan’ kata pemerhati budaya Besemah Mady Lani merupakan salahsatu bentuk kearifan lokal masyarakat Besemah. Kearifan yang berusaha untuk menjaga hubungan baik antara manusia dengan alam-termasuk kawasan hutan. “‘Hutan Larangan’ dilindungi dengan hukum adat,”ucapnya ketika dihubungi terpisah.




Dengan begitu, lanjut dia maka diharapkan tidak ada yang berani masuk ke kawasan. Dengan demikian, kawasan hutan dapat terus terjaga. Tidak rusak karena pembalakan liar dan sebangsanya. “‘Hutan larangan’ berfungsi sebagai kawasan tangkapan air. Kalau dirusak, itu bisa berpengaruh dengan pasokan air akan berkurang,”tuturnya menjelaskan. Bagi yang melanggar, akan dikenakan sanksi adat di antaranya berupa denda.




Anggota Lembaga Adat Besemah Satarudin Tjik Olah mengatakan hal yang senada. Kata Satar, ‘hutan larangan’ merupakan sebuah kawasan yang tidak boleh sembarangan dimasuki dan diambil manfaatnya. “Tidak boleh ditebang kayunya. Paling-paling boleh untuk kerbai (ibu-ibu) mengambil puntung dan ranting mati saja,”kata Satar ketika dihubungi terpisah.




Hal itu lanjut Satar karena ‘hutan larangan’ lanjut Satar berfungsi sebagai kawasan tangkapan air. Karenanya tidak boleh ditebang karena dapat mempengaruhi keseimbangan alam. “Pengerusakan terhadap ‘hutan larangan’ dapat menyebabkan terjadinya longsor dan kekeringan,”urainya.




Senada dengan Mady, Satar menyebutkan, ‘hutan larangan’ dilindungi hukum adat. Inilah sebabnya, ada sanksi bagi yang merusak ‘hutan larangan’ ini. “Sanksinya ada dua bentuk. Yakni dari manusia dan Tuhan,”ucapnya




Sanksi dari manusia lanjut Satar bisa berbentuk denda sampai dengan pengucilan dari pergaulan masyarakat. Adapun sanksi dari Tuhan di antaranya disebut dengan kebendun dan kemali. Biasanya sanksi dari Tuhan ini langsung dikenakan begitu larangan dilanggar.

Dulu Tiap Dusun Ade Hutan Larangan
‘HUTAN larangan’ bukan hanya ada di Dusun Tebat Benawa. Hampir setiap dusun kata Mady Lani, pemerhati budaya Besemah, memiliki ‘hutan larangan’. Namun lanjut dia, ‘hutan larangan’ yang tersisa sekarang, tinggal sedikit. “Selain di Tebat Benawa, hutan larangan yang masih ada, itu di Dusun Bandar,”ucap Mady.




Anggota Lembaga Adat Besemah Satarudin Tjik Olah menambahkan, selain di Tebat Benawa dan Bandar, ‘hutan larangan’ yang masih tersisa berada di Dusun Keban Agung dan Rempasai. Namun Satar tak tahu bagaimana kondisi hutan-hutan larangan di dusun ini di zaman sekarang.




Satar memperkirakan, tinggal sedikitnya ‘hutan larangan’ di Pagaralam dikarenakan faktor perubahan zaman. Banyak yang tak tahu lagi tentang hukum adat. Tinggal sedikit tidak paham, apalagi mau menjalankan hukum adat ini. Padahal diakuinya, aturan dalam hukum ini bila diikuti akan membawa kebaikan bagi orang banyak.




Kondisi ini disebutkan Satar berbeda dengan masyarakat zaman dulu yang begitu patuh dengan adat istiadatnya. Katanya, masyarakat zaman dulu sangat yakin dengan kebenaran di balik larangan itu. “Dulu masyarakat Besemah sangat takut dengan sanksi dari ugha kelam (Tuhan Yang Maha Kuasa),”katanya.




Mady pun sepakat dengan Satar. Karenanya Mady pun menyambut baik ditetapkannya Hutan Mude Ayek Tebat Benawa sebagai Hutan Adat oleh kementerian.

Mengelola Sekaligus Menjaga
HUBUNGAN manusia dengan alam pada dasarnya didasarkan pada dua prinsip yaitu: pertama, kewajiban menggali dan mengelola alam dan segala kekayaannya. Kedua manusia sebagai pengelola alam tidak diperkenankan merusak lingkungan karena kerusakan lingkungan pada akhirnya akan merusak kehidupan umat manusia itu sendiri.




Mengenai prinsip pertama, Allah berfirman dalam surat Hud ayat 61 yang artinya :”Dia (Allah) telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan memerintahkan kalian memakmurkannya (mengurusnya)”.
Adapun prinsip yang kedua dinyatakan ALLAH melalui berbagai ayat didalam Al-Qur’an, diantaranya surat Al-A’raf ayat 56 yang artinya :”Janganlah kamu berbuat kerusakan dimuka bumi setelah ALLAH memperbaikinya”

Simbiosis Mutualisme
Hubungan manusia dan alam semesta merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Manusia sebagai makhluk hidup tentu untuk mempertahankan hidupnya pastilah membutuhkan alam semesta sebagai tempat untuk hidup. Akan tetapi disamping itu alam satu sama lain semesta akan dapat terjamin kelangsungan dan kelestariannya sangat tergantung pada manusia. Dalam konteks ilmu alam inilah yang disebut dengan simbiosis mutualisme bahwa antara manusia dan alam semesta memiliki ketergantungan .




Pada dasarnya manusia dengan seluruh potensi yang dimilikinya sangat memahami bahwa dirinya adalah satu-satunya makhluk yang bertanggung jawab terhadap kelestarian alam semesta disamping peran sunnatullah yang diemban seluruh makhluk hidup. Jika mencoba menelusuri secara lebih jauh, maka pada dasarnya hubungan manusia dengan alam semesta dapat dibagi ke dalam dua bahagian yaitu hubungan historis dan hubungan fungsional.




Hubungan manusia dan alam. Alam pada dasarnya mengajarkan banyak hal, tinggal bagaimana kita sebagai manusia yang mendiami bumi dapat mengamati dan menghayati arti keberadaan alam dalam menunjang hidup dan kehidupan kita sebagai mahkluk hidup sebagai salah satu bagian dari alam itu sendiri.




Alam mengajarkan kita untuk saling menghormati sesama mahkluk hidup meskipun hukum alam tetap berlaku namun sistem dan penerapanya harus di dasarkan pada rasa cinta akan alam. (11/net/berbagai sumber)

Beberapa ‘Hutan Larangan’ yang Masih Bertahan
-Hutan Mude Ayek Tebat Benawa di Dusun Tebat Benawa
-Hutan Rasmala di Dusun Bandar
Fungsi
Sebagai kawasan tangkapan air.
Penahan erosi
(Sumber: Diolah dari hasil wawancara)

You can leave a response, or trackback from your own site.