Sambai dan Rimbai

Foto: dok/Pagaralam Pos
PERTAHANKAN BUDAYA: Arman Idris merupakan salahsatu penutur guritan di Pagaralam yang sampai sekarang masih eksis. Foto diabadikan beberapa tahun lalu.

Sastra Lisan Besemah yang Jarang Digunakan
PAGARALAM POS, Pagaralam– Perkembangan zaman begitu pesat. Salahsatu imbasnya adalah membuat sastra lisan Besemah menjadi terpinggirkan. Adalah sambai dan rimbai, dua jenis sastra lisan Besemah yang kini jarang digunakan.




“Setidaknya ada dua jenis sastra lisan Besemah yang sudah jarang digunakan,”ucap anggota Lembaga Adat Besemah, Satarudin Tjik Olah, saat ditemui Pagaralam Pos di kantor Lembaga Adat jalan S Parman, Koramil Lama Kecamatan Pagaralam Utara kemarin (1/2).




Dua jenis sastra lisan itu disebutkan Satar adalah sambai atau pantun bersambut dan rimbai alias puisi bersambut. Satar mengingat, terakhir kali mendengar dua jenis sastra lisan ini sekitar beberapa tahun lalu. “Sekarang, saya sudah jarang mendengar ada orang menggunaka rimbai maupun sambai,”tuturnya.




Menurut Satar, rimbai dan sambai sudah jarang digunakan karena banyak faktor. Di antaranya katanya adalah perkembangan zaman yang begitu pesat. Sisi negatif dari perkembangan zaman ini membuat masyarakat-terutama generasi muda-mulai melupakan sambai dan rimbai. “Banyak anak muda sekarang yang enggan mempelajarinya,”ujarnya.

Besan Datang membawa Pantun
Sambai maupun Satar dikatakan Satar umumnya digunakan saat ada pesta perkawinan. Sambai digunakan antar pihak besan dengan tuan rumah. Ketika pihak besan datang, lanjut dia, mereka akan membawakan sebuah pantun yang ditujukan kepada ahli rumah. “Dan ahli rumah pun mesti membalas pantun itu,”tuturnya (Baca Sambai Antar Besan dengan Ahli Rumah).




Dijelaskan Satar, tujuan sambai adalah menghibur. Besan bermaksud untuk menghibur para ahli rumah. Adapun ahli rumah menggunakan sambai untuk menunjukkan rasa gembira karena didatangi tamu penting. “Untuk lebih mengkrabkan antar dua belah pihak,”ucapnya.




Adapun rimbai kata Satar, hampir sama dengan sambai. Bedanya, rimbai bukan berbentuk pantun melainkan sebuah puisi. Juga rimbai biasanya dibawakan bujang dengan gadis. Persamaannya dengan sambai adalah rimbai sama-sama dibuat berbalas. “Biasanya, rimbai digunakan saat bujang beghusek dengan gadis,”ucapnya pula.

Sastra Tutur
Lain halnya dengan sastra tutur Besemah. Biarpun sedikit, masih sering digunakan dan terdengar. Misalnya saja dicontohkan Satar, adalah guritan. Ini merupakan salahsatu jenis sastra yang digunakan dengan cara dituturkan atau diceritakan, bukan dibuat bersahut-sahutan seperti sambai. Sampai sekarang katanya, guritan masih sering digunakan.




Satar memang benar. Saat ini masih banyak pegiat guritan. Yanwari misalnya. Lelaki yang bermukim di Dusun Gunung Agung Tengah Kelurahan Agung Lawangan Kecamatan Dempo Utara sering dimintakan membawakan guritan ketika ada pesta pernikahan.




Beberapa tahun lalu Pagaralam Pos berkesempatan untuk mendengar guritan yang dibawakan Yanwari. Suaranya merdu. Panjang dan jelas. Dia pintar memilih kata-kata yang ringan tapi memikat hati. Setiap kata itu dibawakan dengan nada tertentu. “Membawakan guritan itu harus tahu dulu. Mana kalimat yang harus dibawakan dengan cepat, lambat dan bernada,”terangnya tentang cara belajar guritan. “Kalau tidak cepat di awal, takutnya di bagian akhir suaranya akan jadi fals,”katanya pula.




Selain Yanwari, Arman Idris juga dikenal sebagai seorang penggiat guritan. Lelaki asal Dusun Tegur Wangi Lama Kelurahan Pagar Wangi Kecamatan Dempo Utara ini kerab menampilkan guritan di pelbagai acara. Mulai dari acara pemerintahan hingga partai politik.




Dr Suhardi, peneliti Guritan yang juga seorang dosen Unsri menyebutkan, para penggurit (penutur guritan) memiliki kecerdasan. Alasannya, berdasarkan penelitiannya, para penggurit tidak menghafal lebih dahulu guritan yang akan dituturkannya. “Diciptakan spontan saja. Sepeti ada gudang kosa kata di dalam kepala penggurit itu,”papar Suhardi, ketika ditemui Pagaralam Pos, beberapa tahun lalu.




Bagi Suhardi, para penggurit tersebut adalah orang-orang yang berjasa bagi keberlangsungan guritan. Karena itu, Suhardi mengusulkan para penggurit besemah mendapatkan reward alias penghargaan. “Sudah saya usulkan agar penggurit mendapat gelar maestro,”ucapnya.

Mantra Besemah dan Andai-andai
Sementara itu Pemerhati budaya besemah, Asmadi Lani menyebutkan, seni sastra tutur yang perlu digali lebih dalam adalah mantra besemah. Sebab kata dia, mantra Besemah alias jampi-jampi kini sudah terancam punah. Bila tidak dilestarikan, Madi Lani khawatir, mantra Besemah juga punah.




Satar pun menyebutkan lagi, bahwa salahsatu sastra tutur yang sudah jarang diguankan adalah andai-andai. Andai-andai merupakan salahsatu cerita non fiksi. “Dulu, andai-andai, sering diceritakan kakek kepada cucu-cucunya. Tujuan andai-andai adalah memberikan hiburan yang sarat pesan moral,”tutur Satar. (11)

Sambai Antara Besan dengan Ahli Rumah
Besan;
Lentik-lentik daun kuini
Lentik-lentiklah daun bacang
Injek-injeklahkamu digaghi
Masih injeklah kami datang

Ahli rumah;
Lentik-lentiklah daun bacang
Masih lentiklah daun kuini
Injek-injeklah kamu datang
Maseh injeklah kami digaghi

(Sumber: Hasil Wawancara Satarudin Tjik Olah)

You can leave a response, or trackback from your own site.