Tradisi Ngiroh Kawe

Foto-foto: Madhon/Pagaralam Pos
TURUN TEMURUN: Seorang perempuan mempraktekkan cara mengiroh biji kopi dalam festival budaya di Dusun Pelang Kenidai, beberapa waktu lalu.

Cara untuk Mendapatkan Citarasa Alami
Tak sedikit masyarakat Pagaralam yang masih mempertahankan ngiroh kawe. Ini merupakan tradisi untuk mendapatkan citarasa kopi yang alami.




SEORANG ibu berkebaya hijau dan memakai tengkuluk di kepala berdiri sambil menunduk. Pandangan tertuju kepada belanga yang berisi biji-biji kopi. Tangan kanannya memegang sebuah centong bergagang kayu untuk membola-balik biji-baji kopi. Di bawah belanga asap hasil pembakaran puntung meruap-ruap, membumbung tinggi.




Ibu itu sedang mempraktekkan tradisi ngiroh kawe. Ahad pekan lalu (8/12), di Dusun Pelang Kenidai Kecamatan Dempo Tengah, tradisi ini turut ditampilkan bersama dengan tradisi Besemah lain. Semuanya dikemas dalam iven yang bertajuk Gelar Budaya Dusun Pelang Kenidai. Iven ini digagas Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Pagaralam bekerjasama dengan Kementerian Pariwisata (Kemenpan) RI.




Ngiroh kawe, menurut anggota Lembaga Adat Besemah, Satarudin Tjik Olah, merupakan cara masyarakat Besemah untuk mengelola biji kopi supaya kelak ketika dijadikan minum memiliki citarasa alami. “Tradisi ini sudah ada sejak turun-temurun,”tuturnya, ketika ditemui Pagaralam Pos di kantor Lembaga Adat Jalan S Parman kemarin (14/12).




Dijelaskannya, ngiroh kawe dapat diartikan sebagai menggoreng. Biji-biji kopi dimasukkan ke dalam belanga lalu digoreng tanpa menggunakan minyak. Belanga diletakkan di atas tungku yang di bawahnya ada puntung kayu sebagai bahan bakar. Besar dan kecilnya api ari hasil pembakaran kayu mesti diatur . Biji kopi dibolak-balik sampai warnanya bewarna hitam. “Kalau dirasa sudah cukup, ngiroh harus disudahi,”tuturnya.




Setelah dikiroh, biji didiamkan sementara sampai dingin. Baru setelah itu ditumbuk menjadi bubuk. Seterusnya bubuk kopi siap dimasukkan ke dalam cangkir maupun gelas lalu diisi air panas. Nikmat.

Roasting
Kini ada cara modern untuk menjadikan biji kopi siap untuk dijadikan bubuk yakni menggunakan mesin yang dinamakan roasting (pembakaran). Dengan cara ini, wajan, tungku, dan tungku api tak digunakan. Hasilnya? “Dengan mesin roasting, pembakaran biji kopi menjadi lebih sempurna,”kata Hendi Romiko SPd, seorang pengusaha roasting biji kopi, dihubungi kemarin. “Kita juga bisa menyetel suhu pembakaran mau sampai benar-benar panas atau sedang,”katanya lagi.




Soal citarasa, Hendi menyatakan, bubuk kopi hasil roasting tak kalah dengan ngiroh kawe. Citarasa alami katanya masih tetap didapatkan. Toh diakuinya, baik roasting maupun ngiroh, sama-sama baik. “Dua cara ini sama-sama bertujuan untuk mendapatkan citarasa kopi yang khas,”tutur Hendi.




Anis, seorang pengusaha bubuk kopi dalam kemasan di Dusun Bumi Agung Kecamatan Dempo Utara juga menyampaikan pendapat yang sama. Kata dia, minuman kopi hasil roasting maupun dikiroh sama-sama memiliki penikmat tersendiri. “Tentu, masing-masing orang punya selera yang berbeda. Ada yang suka kopi hasil roasting. Ada pula yang suka dengan kopi yang dikiroh terlebih dahulu,”papar Anis, ketika dihubungi terpisah.




Namun bagi Mady Lani, seorang pemerhati Budaya Besemah, minuman kopi yang sebelumnya dikiroh memiliki citarasa alami yang dominan ketimbang kopi hasil roasting. Karenanya selaku penikmat kopi, Mady mengaku, bila dikasih pilihan, dirinya akan lebih memilih minum kopi yang sebelumnya sudah dikiroh. (11/09)

Proses Pembuatan Minuman Kopi Tradisional Besemah

-Petik buah kopi yang benar-benar sudah masak
-Dijemur sampai kering
-Digiling sampai meninggalkan biji kopi
-Dikiroh
-Ditumbuk sampai halus. (**)

You can leave a response, or trackback from your own site.