Kancung Beghete itu Wartawan

Mengingat Base Besemah Baghi

Hampir semua warga paham dan pandai bercakap-cakap dalam Bahasa Besemah. Tapi, ketika disuruh untuk memahami sekaligus mengucapkan sebuah kata ke dalam bahasa Besemah baghi (lama), belum tentu bisa. Hari-hari ini bahasa Besemah Baghi memang sudah tak terdengar lagi. Perlu upaya untuk mengingatnya kembali.




SATARUDIN Tjik Olah mengingat satu kata yang sering digunakannya puluhan tahun silam ketika masih duduk di bangku Sekolah Rendah-setingkat Sekolah Dasar di zaman sekarang. “Engku,”ujar Satar, saat diwawancarai Pagaralam Pos di kediamannya beberapa waktu lalu. Menurut Satar, engku merupakan sebutan dalam bahasa Besemah baghi yang ditujukan bagi kalangan pendidik kala itu. Di ‘zaman now’, engku nyaris tak terdengar lagi. Engku sudah digantikan dengan sebutan “Guru,”ucap anggota Lembaga Adat Besemah ini menjelaskan.




Engku hanyalah satu dari sekian banyak kata-kata dalam bahasa Besemah baghi yang sudah tak perpakai lagi. Wajar jika banyak orang di masa kini-apalagi generasi milenial-tak paham dengan apalagi mengucapkannya dalam percakapan sehari-hari. Satar sudah membuktikannya sendiri ketika berjumpa dengan para mahasiswa yang bertamu di Kantor Lembaga Adat Besemah. Ia menanyakan, dalam Bahasa Besemah baghi, seminar disebut dengan apa. Mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi di Palembang itu, bingung tak tahu menjawab apa. “Ada yang menjawab, seminar dalam Bahasa Besemah disebut dengan perkumpulan,”ujar Satar, lantas tersenyum.




Kepada para mahasiswa itu, Satar menjelaskan bahwa, seminar dalam Bahasa Besemah baghi disebut dengan sasehan. Adapun moderator seminar disebut dengan palak sasehan. Sedangkan narasumber, dalam Bahasa Besemah baghi disebut dengan kancung beghete. “Kancung beghete adalah orang yang memiliki informasi untuk disampaikan kepada orang banyak,”urai Satar. Maka, Satar menyatakan, kancung beghete di masa sekarang sama dengan wartawan. “Tukang penyampai informasi,”ucapnya.




Di masa sekarang, wartawan sering disebut dengan jurnalis. Kadang juga disebut dengan pewarta, awak media, kuli tinta, buruh tinta.Yang jelas, nama-nama ini menunjukkan makna yang sama bahwa wartawan itu adalah pencari dan pembuat serta menyampaikan berita.




Satar mengamini, Bahasa Besemah baghi sudah hilang dari pergaulan sehari-hari. Tapi tidakhalnya dengan sastra tutur. Kata dia, sastra tutur besemah seperti guritan, rimbai, tadut dan rejung masih memakai Bahasa Besemah. Maka, bila ingin mempelajari Bahasa Besemah baghi, “Bacalah guritan,”kata Satar.




DESA Sukaraja Kabupaten Lahat. Kalender bertarikh di angka tahun 2009 dan bulan keenam ketika Asmadi menyambangi desa yang tak terlalu jauh dari Kota Pagaralam ini. Di desa ini dia menemui salahseorang tokoh guritan: Gatam yang ketika ditemui saat itu berusia 79 tahun. Mady Lani-nama pena Asmadi-datang dengan maksud untuk mewawancarai Gatam tentang guritan.




Dari hasil wawancara ini, Mady berhasil mendapatkan salahsatu guritan yang berjudul “Rindang Papan Ngah Lemang Batu”. Ini merupakan guritan yang berisi lebih dari 100 bait. “Tapi, yang saya tulis di sini hanya sekitar 28 bait saja,”ujar Mady, ketika dijumpai Pagaralam Pos, beberapa waktu lalu.Oleh Mady, guritan hasil wancaranya dengan Gatam diketik secara rapih dan dijilid menjadi satu bundel bersama dengan biografinya. Kelak, bundel yang cukup tebal ini akan dikirim ke Palembang.




Ketika membaca satu per satu bait dalam guritan Rindang Papan Ngah Batu itu, kening beberapakali dibuat mengerenyit. Ini ketika terbentur dengan kata-kata seperti suli,jentaghe, ubagh-ubaghan, rap, kehemu, dan lainnya. Ya, inilah kata-kata dalam Bahasa Besemah baghi yang oleh Satar tadi disebutkan memang banyak ‘terserak’ dalam guritan. Dan Mady pun mengakui, kata-kata ini adalah Bahasa Besemah baghi. “Memang sudah jarang dipakai,”ujar Mady.




Karena jarang dipakai, arti dari kata-kata itu diakui Mady jarang diketahui secara seluas. Toh, bukan Mady namanya kalau tak mampu menjelaskan arti dari kata-kata dalam Bahasa Besemah baghi itu. Jentaghe misalnya menurut Mady adalah sebutan untuk nama burung khas Besemah. Lalu ubagh-ubaghan merupakan sebutan untuk pewarna dari dari kulit kayu. Kemudian rap bisa diartikan sebagai memotong. Sedangkan kehemu sebutan untuk sayang.




Dari Palembang, Dr Suhardi Mukmin, seorang dosen yang pernah meneliti tentang guritan Besemah untuk disertasi juga menyatakan, guritan Besemah banyak memakai Bahasa Besemah baghi. “Sebagian besar masih menggunakan Bahasa Besemah baghi,”ujar Suhardi, ketika dihubungi Pagaralam Pos. Diakuinya, kata-kata yang memakai Bahasa Besemah baghi dalam guritan cukup sulit untuk diartikan karena sudah jarang dipakai lagi. “Bukan menggunakan Bahasa Besemah seperti yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari seperti sekarang,”ujar Suhardi yang merengkuh gelar doktor dari Universitas Indonesia ini. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply