Dicetuskan ‘Diwe Tige’, Beranak Pinak Kemudian

Foto: dok/Pagaralam Pos
MASIH TERJAGA: Salahsatu rumah baghi (rumah adat Besemah) yang masih berdiri kokoh di tengah sebuah dusun di Pagaralam. Foto diabadikan beberapa waktu lalu.

Enam Sumbai

PAGARALAM POS, Pagaralam – Sejarah enam sumbay (himpunan orang satu keturunan) di Besemah tidak bisa dipisahkan dari peran tokoh tiga serangkai yang disebut dengan ‘Diwe Tige’. Merekalah yang sejatinya disebut membentuk sumbay yang kemudian beranak-anak hingga kini.




Pemerhati sejarah dan budaya Besemah Agustrian Bahrun menceritakan sejarah asal muasal sumbay. Katanya, sumbay tidak bisa dipisahkan dari peran ‘Diwe Tige’. ‘Diwe Tige’ ini disebutkannya mengacu kepada tiga orang tokoh yakni Diwe Semidang Gumay, Diwe Semidang Sakti dan Atung Bungsu.




“Masing-masing Diwe Tige ini mengangkat orang-orang kepercayaan dengan tugas yang mesti dijalankan,”ujar Agus yang kesehariannya berjualan gunjing (makanan khas tradisional Besemah) ini, saat ditemui Pagaralam Pos di kawasan jalan Kombes H Umar, Kamis lalu (28/2).




Agus merinci, Atung bungsu mengangkat empat orang kepercayaan yang diserahi tugas. Kelak empat orang kepercayaan Atung Bungsu ini beranak-pinak. Masing-masing anak keturunan dari empat orang kepercayaan Atung Bungsu ini lalu menghimpun diri dalam empat sumbay. Empat sumbay ini adalah Sumbay Besak, Tanjung Ghaye, Ulu Rurah dan Mangku Anom. “Empat sumbay ini kelak disebut dengan istilah lampek empat,”tuturnya.




Sementara itu Diwe Semidang Gumay mengangkat satu orang kepercayaan yang kemudian beranak pinak pula. Anak cucu keturunan orang kepercayaan Diwe Semidang Gumay ini lalu berhimpu dalam sumbay penjalang. Sedangkan Diwe semidang Sakti mengangkat satu orang kepercayaan dan lalu beranak pinak. Keturunan orang kepercayaan Diwe Semidang Sakti ini lalu berhimpun dalam sumbay semidang. “Sumbay penjalang dan semidang ini juga dikenal dengan sebutan merdike duwe,”ucapnya.




Agus menambahkan, enam sumbay tersebut berada di pelbagai kawasan Besemah. Domisili mereka tidak dibatasi administrasi. Karenanya katanya, bisa saja dalam satu dusun, terdapat lebih dari satu sumbay. “Kalau kita bicara konsep Besemah Libagh, itu maknanya luas. Jadi Besemah itu bukan hanya di Pagaralam saja,”terangnya.

Keturunan Puyang
Sementara itu pemerhati sejarah Besemah yang kini tinggal di Palembang, Ahmad Bastari Suan mengatakan, sumbay identitik dengan persatuan orang-orang yang masih dalam satu keturunan. “Jadi ada makna geneologis di sini,”ujar Bastari saat dihubungi Pagaralam Pos, Kamis lalu (28/2).




Sumbay ulu rurah dirincikan Bastari merupakan anak keturunan dari anak tertua dari Puyang Atung Bungsu. Kemudian Sumbay besak merupakan himpunan anak cucu keturunan di antaranya, Puyang Kedung Samad dan Depati Kance Diwe.




Selanjutnya sumbay Mangku anum kata Bastari, merupakan himpunan anak keturunan di antaranya Puyang Sengadun, Lebih dan Langit Hitam. Adapun sumbay Tanjung Ghaye merupakan himpunan keturunan Puyang Riye Minggi.




Sementara itu sumbay Penjalang merupakan keturunan beberapa puyang di antaranya Puyang Sake Semanung dan Riye Tabing. Sedangkan Sumbay semidang merupakan keturunan Puyang Serunting Sakti.




Ia memperkirakan sumbay muncuk di abad ke-14. Adapun tujuan pembentukan sumbay salahsatunya untuk wadah berhimpun adek beradek. Supaya tidak saling melupakan satu dengan yang lainnya.




Senada dengan Agus, Bastari mengatakan bahwa wilayah para sumbay tersebut bukan hanya berada di satu tempat. Tapi katanya, sumbay menyebar di pelbagai wilayah Besemah. Dewasa ini, beberapa wilayah-wilayah ini bukan hanya berada di Pagaralam dan sekitarnya saja. “Ada orang Kisam (OKU Selatan) mengaku sumbay Semidang. Wajar. Karena mungkin dia merasa keturunan Puyang Serunting Sakti,”ucapnya memberikan contoh.




Baik Agus maupun Bastari percaya bahwa sumbay masih ada di Besemah sampai sekarang. Kata Agus, masing-masing sumbay memiliki pewaris yang sampai sekarang masih melakukan tugasnya. Apa saja tugas pewaris sumbay ini? Agus menyampaikan, bahwa dirinya belum bisa menyampaikannya secara lebih detail. Tapi yang jelasnya ujarnya, bahwa pembentukan sumbay ada kaitannya dengan penegakan ajaran Islam di Besemah. “Kalimah tauhid itu yang pertamakali mesti dijaga. Bagaimana seseorang mesti takut kepada Yang Maha Pencipta,”tuturnya. (11)

Enam Sumbay
Lampek empat
Sumbay ulu rurah
Sumbay besak
Sumbay Mangku anum
Sumbay Tanjung Ghaye

Merdike dua
Sumbay Penjalang
Sumbay Semidang

You can leave a response, or trackback from your own site.