‘Ngambek Anak’

Foto: dok/Pagaralam Pos
DI KAKI DEMPO: Sebuah pemukiman penduduk di Kota Pagaralam dengan latarbelakang Gunung Dempo. Foto diabadikan beberapa waktu lalu.

Nutuk padi masih nak lesung
Lah ade lesung maseh nak antan
Duduk tepegugh ase dipasung
Tuape kipas ngijekah badan

BAIT demi bait dalam pantun itu dinilai memiliki makna yang dalam. Setidaknya ini dirasakan pemerhati sejarah dan budaya Besemah, Asmadi. Bagi Mady Lani-sapaan akrab Asmadi-bait-bait dalam pantun itu sedikit banyaknya menceritakan tentang suka duka seorang lelaki yang ‘ngambek anak’.




“Ngambek anak itu ada enak dan tidak enaknya,”ujar Mady, saat dihubungi Pagaralam Pos kemarin (22/2). “Tapi, kalau bisa janganlah,”tambah lelaki yang kerab ke luar masuk dusun untuk mencari data dan fakta tentang sejarah Besemah ini.




‘Ngambek anak’ Mady menjelaskan, merupakan istilah bagi seorang laki-laki yang menikah kemudian tinggal di rumah mertua. Dengan kata lain, laki-laki itu-setelah menikah-ikut istri. Inilah sebabnya lanjut dia, seolah-olah ada kesan bagi seorang lelaki yang ‘ngambek anak, seolah-olah hanya ‘numpang hidup’ dengan mertua. “Kesannya itu, laki-laki itu seolah-olah tidak memiliki apa-apa. Makanya, saya pribadi tak mau ‘ngambek anak’,”tuturnya.




Karenanya lanjut Mady, sebagaimana digambarkan dalam bait pantun tadi, seorang laki-laki yang ‘ngambek anak’ ada kemungkinan untuk memiliki beban. Tingkah lakunya tak bisa lincah karena berada di lingkungan mertua-untuk tidak dikatakan ‘terkungkung’. “Kalau ada musyawarah keluarga, biasanya, laki-laki ‘ngambek anak’ jarang diikutkan,”katanya pula.




Toh ‘ngambek anak’ ada enaknya. Apa itu? “Ada kesempatan untuk dapat harta warisan,”ujarnya. “Tapi, kalau cerai dengan istri, itu resikonya itu tidak akan dapat apa-apa,”tambahnya.




Satarudin Tjik Olah, anggota Lembaga Adat Besemah membenarkan pengertian ‘ngambek anak’. Satar mengutip pasal 51 huruf c hukum perwakinan dalam buku Himpunan Hukum Adat Besemah. “ ‘Ngambek anak’, itu istilah bagi lelaki-ketika sudah menikah- ngikut betine (istrinya),”ujar Satar, saat ditemui Pagaralam Pos di kediamannya kemarin.




Lebih lanjut Satar menjelaskan, ‘ngambek anak’, tidak datang serta merta. Ini merupakan hasil kesepakatan dua belah pihak yakni antara pihak laki-laki dan perempuan. Kesepakatan ini diambil tatkala perempuan itu menyatakan menerima pinangan seorang laki-laki. “Yang mintak laki-laki supaya ngambek anak itu pihak perempuan. Kalau pihak laki-laki setuju, barulah pernikahan disetujui,”ucapnya.




Sebagaimana Mady, Satar pun mengakui bila laki-laki yang ‘ngambek anak’ memiliki resiko yakni dikesankan tak memiliki harta apapun. Padahal ia menyebutkan, kesan ini kadangkala tak selalu benar. Ia pun memastikan, bahwa ‘ngambek anak’ tak dilarang dalam hukum adat. “Adat Besemah membolehkan ‘ngambek anak’. Asalkan sebelumnya ada kesepakatan,”ucapnya.

‘Ngambek Anak Penantian’
Dalam Buku himpunan Hukum Adat Besemah, Satar menyebutkan ada istilah ‘ngambek ‘ngambek anak penantian’. Dijelaskannya, ‘ngambek anak penantian’ merupakan istilah ketika laki-laki-setelah menikah- tinggal sementara waktu di rumah mertuanya. Ini karena sang istri masih memiliki saudara laki-laki yang belum bekeluarga. “‘Ngambek anak penantian’ berlaku sampai dengan saudara laki-laki istri berkeluarga,”tuturnya.




Maka, begitu saudara laki-laki istri sudah bekeluarga, saat itu juga perjanjian ‘ngambek anak’ berakhir. Pasangan suami dan istri mesti meninggalkan rumah itu. Suami akan mengajak istrinya pulang ke rumahnya.




Selain itu Buku himpunan Hukum Adat Besemah juga memuat istilah ‘ngambek anak same endean’. ‘Ngambek anak’ semacam ini kata Satar, memiliki pengertian bahwa, baik laki dan perempuan-ketika menikah- bebas memilih tinggal di mana saja. “Suami ikut tinggal di rumah mertua bisa. Atau istri ikut tinggal di rumah suami juga bisa,”tuturnya.




Istilah ‘ngambek anak’ sampai kini masih dikenal dan dipahami secara luas oleh masyarakat Pagaralam. Meskipun demikian untuk soal kesannya, sudah agak memudar. Kata Satar, saat ini kesan tertentu terhadap laki-laki yang ‘ngambek anak’ hampir tida ada lagi.




Tapi Mady Lani tetap menganggap istilah ‘ngambek anak’ masih memiliki kesan yang kurang mengenakkan bagi kaum lelaki. Ia kembali merujuk bait-bait dalam sebuah pantun yang dianggapnya sebagai keluh kesan laki-laki yang ‘ngambek anak’. Berikut bunyi pantun itu:

Ke lubuk buntak ngambek selada
Selada layu sise kalangan
Bukan kudindak laju betunak
Ku anak tengah ambur-amburan…..
(11)

You can leave a response, or trackback from your own site.