Kance Ngupi, Penopang Wisata

Foto: Madhon/Pagaralam Pos
MENU TRADISIONAL: Agustian Basrun sedang mengolah gunjing yang dipesan konsumennnya. Foto diabadikan beberapa waktu lalu.

Gunjing

PAGARALAM POS, Pagaralam– Kuliner besemah memang beragam. Gunjing adalah salahsatu di antara yang sekian banyak itu. Ini merupakan panganan khas yang terbuat dari adonan tepung beras dan parutan kelapa. Cocok disantap bersama dengan kopi maupun teh manis.




Di Pagaralam, penjual gunjing salahsatunya bisa dijumpai di jalan Kombes Umar, depan sebuah usaha percetakan. Nama penjual gunjing itu adalah Agustian Basrun (44). “Sebelumnya saya berjualan di pelataran Hotel Gunung Gare,”ujar Agus saat ditemui Pagaralam Pos pada sebuah sore pekan lalu. “Kalau jualan di sini kan enak. Bisa sampai malam,”katanya pula. Agus biasanya mulai berjualan di ana sejak pukul 17.00 WIB sampai 22.00 WIB.




Di lapak yang terbuat dari kayu itu, Agus mengolah gunjing. Ia mulai mengolah gunjing ketika ada pesanan. Mula-mula adonan tepung beras dan parutan kelapa dimasukkan ke dalam loyang yang berlobang memanjang. Loyang itu lantas ditutup serta dipanaskan dengan api ukuran sedang. Loyang dibuka untuk membola-balik gunjing. Kurang lebih lima menit, adonan tersebut sudah memadat menjadi gunjing. Warnanya putih kecoklat-cokelatan. Konsumen tinggal memilih, mau makan di tempat atau di bawa pulang.




Pagaralam Pos berkesempatan untuk mencicipi beberapa potong gunjing buatan Agus. Karena baru saja dituangkan dari loyang, gunjingnya masih panas. Ketika dicicipi, kenyal dan manis meruap di lidah. Wajar jika banyak yang mencicipi gunjing sembari ditemani kopi ataupun teh.




Menurut Agus, cukup banyak yang membeli gunjing buatannya tersebut. Ia mematok harga sebesar Rp 15 ribu untuk satu loyang “Tiap loyang ada 15 biji gunjing,”ucap Agus sembari menambahkan, berjualan gunjing untuk melestarikan sekaligus memperkenalkan menu khas tradisional.




Pemerhati Budaya dan sejarah Sumatera Selatan (Sumsel) Ahmad Bastari Suan mengelompokkan gunjing ke dalam kategori makanan ringan khas Besemah. Selain gunjing, kata dia, yang masuk kategori makanan ringan ini antara lain adalah tapay, buarengas, lemang dan kelicuk.“ Ada juga kuliner berupa lauk makan (terutama gulay),”tuturnya saat dihubungi Pagaralam Pos beberapa waktu lalu. Lauk makan ini di antaranya gulai liling, pepes tighau, dan ikan masak ghuas.

Dicari Wisatawan Luar
Bastari juga menuturkan, potensi kuliner khas Besemah harus digarap lebih baik lagi. Itu kata Bastari, jika ingin Kota Pagaralam benar-benar serius ingin menjadi Kota Wisata. Sebab jelas dia, wisatawan umumnya butuh sesuatu yang baru dan unik.




Dan itu sebut dia, ada dalam kuliner lokal. Dalam hal ini tak lain adalah kuliner khas Besemah. “Kalau wisatawan ingin pizza, atau gudeg, mereka pasti tidak akan ke Besemah,”sindir Bastari, dalam layanan pesan singkat yang diterima Pagaralam Pos, beberapa waktu lalu.




Bagaimana cara untuk memulainya? Menurut Bastari, harus dimulai dari tingkat yang sederhana terlebih dahulu. Yakni, disediakan di semua warung makan. Dengan begitu kata dia, wisatawan yang datang mudah untuk mendapatkannya.




Selain itu lanjut dia, bisa dimulai dari dunia pendidikan. Bastari menyarankan, agar sekolah memberikan matapelajaran masak-memasak kuliner khas Besemah. Dengan begitu, para siswa tidak akan lupa dengan salahsatu warisan leluhur tersebut.




“Jangan takut dikatakan tidak modern dengan memperkenalkan masakan warisan nenekmoyang sendiri. Jangan jejali anak-anak dengan masakan Itali, korea, dan lain sebagainya, tapi mereka lupa dengan masakan dari daerah sendiri,”ujarnya menekankan.




Sementara itu anggota Lembaga Adat Besemah Satarudin Tjil Olah mengatakan, kemunculan kuliner besemah terjadi saat momen ngetam alias panen padi. Di sini kata dia, warga akan membuat berbagai makanan ringan khas besemah. Seperti di antaranya untuk bajik, kelicuk, dawat dan buarengas. Adapun tujuan daripada penyajian kuliner ini terang Satar, adalah sebagai ungkapan syukur kepada tuhan yang maha esa. Syukur karena sudah diberikan nikmat yang berlimpah berupa hasil panen yang bagus.




Kuliner besemah juga dibuat saat ada momen persedekahan. Di sini, tutur Satar, tuan rumah sedekah akan membuat aneka makanan khas besemah bagi mereka yang tengah bekerja. “Dalam momen pertunangan pun kuliner besemah juga muncul. Nama kuliner itu adalah bubur sembilan,”tandas Satar ketika ditemui beberapa waktu lalu. (11/09)

You can leave a response, or trackback from your own site.