‘Budi Pacalan’

Foto: Ilustrasi orang bekerja

Begawe Luk Galak Luk Dindak

Istilah ‘budi pacalan’ sering diungkapkan. Istilah ini merujuk kepada orang yang setengah-setengah dalam bekerja. Dinilai merupakan watak yang tidak membawa kemajuan




ASMADI tertawa lepas ketika Pagaralam Pos meminta keterangan tentang istilah ‘budi pacalan’ lewat sambungan telepon seluler kemarin (29/3). Pemerhati sejarah dan budaya Besemah ini mengatakan, “Ada-ada saja,”ujar Mady Lani, sapaan akrab Asmadi.




Toh Mady mau menjelaskan juga. Katanya, ‘budi pacalan’, merujuk pada orang yang tidak sungguh-sungguh dalam bekerja. Dengan kata lain, bekerja tanpa sepenuh hati. “Kalau ada orang melihat, dia baru mau bekerja,”tuturnya.




Satarudin Tjik Olah, anggota Lembaga Adat Besemah juga menyampaikan hal yang senada. Satar berujar, ‘budi pacalan’ merujuk pada orang yang tidak mau bekerja sampai tuntas. Apapun gawehannya, tak pernah selesa-selesai.




“Misalnya saat besiang (membersihkan rumput). Yang dibersihkan hanya rumput-rumput di pinggir-pinggir kebun saja. Sedangkan rumput di bagian tengah (kebun), dibiarkan,”katanya memberikan contoh, saat dihubungi Pagaralam Pos secara terpisah.




Sementara itu, Agustian Basrun, pemerhati Budaya Besemah lainnya, berpendapat, ‘budi pacalan’merujuk kepada orang yang tidak serius dalam bekerja. “Ame begawe, luk galak luk dindak (antara mau dan tidak mau bekerja),”ujarnya saat dihubungi.




Karena itu baik Mady maupun Satar mengamini, bahwa ‘budi pacalan’ bukanlah sikap yang terpuji. ‘Budi pacalan’ merupakan antitesis dari bekerja keras dan sungguh-sungguh. Bila dirawat, sikap ‘budi pacalan’ tak akan membawa kemajuan.

Pacal
Ada kemungkinan istilah ‘budi pacalan’ merujuk dengan kerja para pacal yang pengertiannya hampir sama dengan budak. Budak, biasanya bekerja secara dengan terpaksa lantaran disuruh-suruh oleh tuannya. Tapi mereka tak punya pilihan lain lantaran dikekang tuannya. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi Daring di laman kbbi.kemdikbud.go.id, pacal diartikan sebagai hamba raja-mereka orang yang setia.




Mady Lani tak menampik bahwa, istilah ‘budi pacalan’ ini merujuk dengan kerja kaum pacal. Adapun masyarakat Besemah di zaman dulu, kata Mady, dahulu memang ada yang memelihara pacal ini. Tugasnya adalah untuk disuruh-suruh untuk pelbagai keperluan. “Sebenarnya istilah pacal ini terlalu kasar. Lebih kasar dari istilah pembantu,”tambahnya.




Satar memberikan istilah yang menurutnya lebih halus ketimbang pacal yakni hamba sahaya. Di zaman dulu katanya, memang ada tradisi di masyarakat Besemah memelihara hamba sahaya ini. “Bename jeme kaye, pasti memiliki hamba sahaya,”ucapnya.




Tradisi memelihara hamba sahaya atau pacal ini terus berlanjut hingga penjajah kolonial Besemah masuk ke Tanah Besemah pada 1867. Menurut Satar, penjajah Belanda tak suka dengan tradisi memelihara pacal ini. Karena itu, tak lama setelah masuk ke Tanah Besemah, Belanda memutuskan untuk menghapus sistem pacal ini.




Sementara itu, Agustian Basrun berpendapat, bahwa pacal merupakan bagian dari rampasan perang. Di zaman dulu, katanya, sering terjadi kontak perang antara suku Besemah dengan suku lain. Suku yang kalah perang ini kemudian hartnya dirampas. Adapun orangnya dijadikan pacal.




Selain itu Agus melanjutkan, merujuk novel Anak Perawan di Sarang Penyamun karya Sutan Takdir Alisjahbana (STA), diceritakan tentang perampokan yang dilakukan para jabalan (perampok). Hasil rampokan ini biasanya berupa harta dan orang. Dan orang ini kemudian dijadikan sebagai pacal.

Cerita tentang perbudakan di Tanah Besemah pernah ditulis sebuah bloger di laman

andripradinata.blogspot.com. Dituliskannya, di besemah zaman dulu, ada satu keluarga besar yang memiliki ratusan ekor kerbau dan sapi. Serta puluhan pacal.




Pagaralam Pos mencoba ketika kata ‘budi pacalan’ di laman pencarian google. Rupanya sudah ada yang menjadikan ‘budi pacalan’ sebagai judul lagu. Lagu ini menggunakan bahasa Besemah. Bait-bait dalam lagu ini enak didengar. Salahsatu bait yang cukup mengena adalah berbunyi seperti ini: “Nak Lemak, nanggung kudai die”. (11)

You can leave a response, or trackback from your own site.